Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Dosen - Penulis - Pegiat Literasi - Konsultan

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Edukator Dana Pensiun. Pendiri TBM Lentera Pustaka Bogor. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 34 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor serta penasehat Forum TBM Kab. Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Jalan Buntu Pegiat Literasi dan Taman Bacaan, Seperti Apa?

23 November 2021   06:40 Diperbarui: 23 November 2021   06:42 65 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber: TBM Lentera Pustaka

Seorang kawan pegiat literasi bertutur. Bahwa taman bacaan yang dikelolanya seakan menemui jalan buntu. Anak-anaknya tidak banyak, sementara buku-buku bacaan pun terbatas. 

Belum lagi masyarakat sekitar yang apatis. Terkesan kurang mendukung. Jadi frustrasi mengelola taman bacaan. Begitulah realitas yang dihadapi pegiat literasi d banyak taman bacaan. Maka benar, taman bacaan masih jadi "jalan sunyi" kehidupan.

Saat diminta komentar, saya pun berkata. Pegiat literasi itu bukan profesi. Tapi spirit dan perjuangan yang harus diemban. Taman bacaan hanya "kendaraan", tempat untuk mengaktualisasikan gerakan literasi itu sendiri. Jadi, pegiat lirerasi itu harus bersikap. Untuk pantang menyerah dalam memperjuangkan tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. 

Karena itu, jalan pegiat literasi pasti tidak mudah. Pasti banyak tantangan, bergelimang celotehan yang bernada negatif. Maka pegiat literasi dan taman bacaan, jangan terjebak apatisme orang-orang tidak peduli. Jangan pula terperangkap rasa frustrasi.

Sejatinya, resep jadi pegiat literasi dan mengelola taman bacaan sangat sederhana. Tetap komitmen dan konsisten dalam menjalani kebaikan. Seberat apapun tantangannya, sejelek apapun pikiran orang lain. Karena di taman bacaan, semua kejelekan orang lain justru jadi tempat belajar tentang arti MENAHAN DIRI. Dan semua kebaikan yang ada pun harus  menjadikan pegiat literasi tetap mampu RENDAH HATI". 

Orang-orang di luar sana, memang gemar gaduh. Adu mulut Ibu Arteria vs anak jenderal ramai. Kang Yana "cada pangeran" nge-prank berisik. Soal pengurus MUI komentar. 

Bahkan punya sirkuit Mandalika pun gaduh. Itulah orang-orang yang lupa. Bahwa larut dalam pembicaraan yang tidak berguna dan banyak bertanya soal yang tidak penting itu perbuatan yang harus dihindari.

Di zaman begini, banyak orang lebih senang makan di makaroni ngehe atau rawon setan, bahkan nasi goreng sambal iblis. Sementara koperasi syariah tidak digemari, menyantuni anak-anak yatim atau kaum jompo pun bilang tidak punya waktu. 

Apalagi mengajarkan membaca dan menulis kaum buta huruf, pasti buru-buru menolaknya. Itu semua pertanda, segala hal yang jelek-jelek patut dicoba dan berpotensi digemari. Sementara yang perbuatan yang baik-baik, tidak sedikit orang yang menghindarinya.

Maka berkiprah jadi pegiat literasi, jadi relawan mengelola taman bacaan. Sudah pasti banyak tantangannya. Bila tidak mau disebut banyak musuhnya. Karena itu, pegiat literasi dan taman bacaan di mana pun lebih baik fokus untuk terus melangkah ke depan. 

Tanpa perlu bertanya, kenapa begini atau merasa berada di jalan buntu. Jalan buntu taman bacaan bukanlah hukuman, melainkan energi untuk tetap bergerak. Karena di taman bacaan, yakinlah ada setitik cahaya di ujung terowongan yang gelap.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan