Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan

Konsultan di DSS Consulting, Pengajar Pendidikan Bahasa Indonesia & Edukator Dana Pensiun. Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Unpak. Pendiri TBM Lentera Pustaka. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA BINDO) FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Sekjen IKA FBS UNJ (2013-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis & Editor dari 22 buku. Buku yang telah cetak ulang adalah JURNALISTIK TERAPAN & "Kompetensi Menulis Kreatif", Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis". Pendiri & Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Gn. Salak Bogor. Owner & Education Specialist GEMA DIDAKTIKA, Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA, Pengurus Asosiasi DPLK Indonesia (2003-Now). Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Senyum Jelang Pilpres

3 April 2019   10:00 Diperbarui: 3 April 2019   10:28 0 1 0 Mohon Tunggu...
Senyum Jelang Pilpres
DOKPRI

2 minggu jelang pilpres 2019 itu situasi yang sulit untuk "senyum".

Susah tersenyum, Karena pilpres, otot makin menguat. Argumen kian sentimen. Saling menuding, saling membenci. Bisa jadi, pilpres bukan lagi demokrasi. Tapi agitasi. Penuh hasutan, semarak hujatan.  Senyum pun terkontaminasi.

Senyum jelang pilpres. Hampir lenyap.

Gara-gara beda pilihan kok bikin sulit tersenyum. Gara-gara gak sama, kenapa gak boleh beda. Tersenyumlah dulu. Karena piplres itu bukan pilihan rasional. Tapi pilihan emosional. Sangat subjektif dan personal. Jangan lupakan senyum karena hendak "memaksa" lawan politik. Mantapkan pilihan jelang piplres. Tanpa perlu dipengaruhi siapapun apalagi ingin mempengaruhi siapapun. Senyum jelang pilpres.

Senyum jelang pilpres. Harus tetap ada.

Jangan biarkan, senyum hilang dari diri kita. Hari ini ataupun esok, bahkan semenit pun jangan tidak tersenyum. Karena senyum itu, pekerjaan paling sederhana yang dampaknya luar biasa. Kadang, senyum itu satu-satunya yang mampu mengubah segalanya menjadi lebih indah.

Saat bermain handphone saja, kita bisa tersenyum sendiri. Saat bertemu orang yang tidak dikenal saja bisa tersenyum simpul. Apalagi bersama orang-orang yang ada di sekitar kita. Tersenyumlah jelang pilpres.

Senyum jelang pilpres. Gak ada hubungannya dengan medsos yang memanas. Gak ada hubungannya dengan cinta atau benci kepada capres pilihan. Karena senyum justru "mendinginkan" hati yang kian gelisah; pikiran yang kian egois; hidup yang kian menggeliat.

Senyum. Senyum jelang pilpres.

Senyum itu hal sederhana yang paling banyak dimiliki orang. Senyum bisa dimiliki siapapun. Tapi sayang, masih banyak orang yang sulit berbagi senyum untuk orang lain. Kita tidak diminta berbagi uang, bukan berbagi harta. Apalagi berbagi pangkat dan kekuasaan.  Pasti kita tidak mau. Kita hanya diminta berbagi senyum, dengan ikhlas dan tulus.

Lagi-lagi sayang, SENYUMAN justru hal yang paling banyak kita punya tapi sulit dibagi.

Kita dan siapapun boleh beda bahasa, beda pilihan. 

Bahasa cinta dalam politik itu beda. Bahasa beda dalam pilpres pun berbeda. Tafsir tentang presiden impian pun berbeda. Apalagi cara memajukan negara ini pun sangat berbeda. Ada orang yang sibuk bilangnya sukses. Ada orang yang sukses tapi tidak sibuk. Itu semua karena bahasanya beda-beda. Sudut pandang beda, cara berproses beda. Pasti hasilnya beda.

Tapi semua orang yang "tersenyum", pasti berada dalam bahasa yang sama. Bahasa senyuman, ada pada setiap kita.

Hanya karena jelang pilpres.

Bila ada senyum di antara teman-teman kita yang hilang. Sungguh sangat disayangkan. Senyum itu gak bayar. Bahkan senyum itu sedekah lagi berkah. Mengapa karena urusan pilpres yang cuma lima tahunan, senyum menjadi lenyap? Kenapa?

Manusia itu sering lupa, senyum itu perbuatan paling mudah yang bisa kita lakukan. Atas alasan apapaun dan untuk siapapun. Maka tersenyumlah jelang pilpres. Bertahanlah untuk tetap tersenyum....

Jelang pilpres, gak usah terlalu serius. Santai saja sambil tetap tersenyum. Tinggal tunggu saatnya, coblos saja pilihan kita. Tidak usah banyak koar-koar. Apalagi membenci, menghujat dan menghasut satu sama lainnya.

Ingatlah, gak ada orang yang bisa bertahan hidup tanpa senyuman. Dan yang paling penting. Jangan pernah menyesali apapun, yang pernah membuat kita tersenyum. Karena senyum itu indah dan ibadah yang berkah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2