Mohon tunggu...
Syaifuddin Sayuti
Syaifuddin Sayuti Mohon Tunggu...

blogger, kepsek Kelas Blogger, admin Blogger Reporter Indonesia (BRID), traveller, dosen. email : udin.sayuti@gmail.com twitter : @syaifuddin1969 IG: @syaifuddin1969 FB: https://www.facebook.com/?q=#/udinsayuti69 Personal blog : http://syaifuddin.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Fadli dan Perjuangan Bertemu Jokowi

13 Desember 2015   11:52 Diperbarui: 13 Desember 2015   12:12 0 62 45 Mohon Tunggu...

[caption caption="Kompasianer dan Jokowi Berfoto Bersama (sumber foto : FB Presiden Joko Widodo)"][/caption]

Keriaan dan segala kontroversinya mengenai undangan makan siang Presiden bagi Kompasianer kemarin di Istana Negara sudah banyak ditulis teman-teman Kompasianer. Kali ini saya menulis dari sudut pandang berbeda. Tidak akan saya sentuh soal substansi karena sudah banyak yang menyinggung. Saya justru akan menulis dari sisi sahabat saya, Rakhmad Fadli.

Rakhmad Fadli, Kompasianer asal Pulau kundur Kepulauan Riau, saya kenal sosoknya ketika sama-sama mengikuti event Kompasiana BlogTrip bareng Kemenpar ke Pulau Bintan. Sosok sederhana ini adalah seorang pengelana, tukang jalan dan kerap mengabarkan keindahan tanah kelahirannya di Kepri kepada teman di dunia maya. Meski hanya berjumpa 3 hari dua malam, namun saya dan juga teman-teman eks BlogTrip Bintan masih berkomunikasi intens melalui grup Whatsapp.

Event Kompasianival yang sedang berjalan di Jakarta kembali mempertemukan saya dengan Fadli. Ia mengabarkan melalui WA akan ke Jakarta melalui jalur darat. Kebetulan ia sudah merencanakan perjalanan ini sejak lama. Sengaja memilih jalur darat karena sekalian menjelajahi sejumlah tempat sebagai bahan tulisannya mengenai traveling.

[caption caption="Rakhmad Fadli, Kompasianer dari Kepri di Istana Negara (foto dokpri)"]

[/caption]

Fadli juga mengabarkan akan ikut ke Istana Negara. Sayangnya ia tak punya persiapan apapun karena pemberitahuan undangan makan siang dari Presiden Joko Widodo didapat saat ia sudah di perjalanan. Ia kemudian mengontak saya dan memohon dipinjamkan baju batik dan celana bahan. Saya langsung sanggupi karena kebetulan punya satu stel lagi.

Singkat cerita saat hampir semua Kompasianer yang diundang ke istana bersiap di mal Gandaria City, Fadli masih di perjalanan menggunakan kendaraan umum. Posisinya masih di kawasan Cengkareng. Semula ia akan ikut barengan dari Gandaria City, namun atas arahan manajer Kompasiana Pepih NUgraha, Fadli diminta langsung mengarah ke Istana Negara. "Kau langsung menuju Sekneg saja. Tunggu rombongan di sana," bgeitu kang Pepih menyarankan.

Ke Istana Tak Bersepatu

Saat berjumpa di pos keamanan Sekretariat Negara (Sekneg), saya serahkan pesanan dia. Tapi ada masalah baru yang muncul, Fadli hanya bersandal dan tak membawa sepatu! Padahal dalam undangan ada dress code yang harus dipatuhi, berkemeja batik lengan panjang dan bersepatu bagi pria. Ooo. Sempat bingung mencari solusi, akhirnya saya iseng minta ke petugas jaga di pos keamanan Sekneg untuk meminjamkan sepatu miliknya ke Fadli. Semua si bapak agak keberatan, "Masak mau ketemu Presiden gak punya persiapan," begitu ujar si bapak. Saya langsung masuk ke dalam karena rombongan sudah bergerak ke istana. Saya cuma berdoa semoga Fadli bisa keluar dari persoalannya.

Tak berapa lama kemudian setelah di dalam istana Fadli datang dengan senyum lebar. Sudah berbatik lengan pendek, bercelana bahan hitam dan bersepatu. Sepatu akhirnya dia dipinjami sang petugas keamanan. Mungkin si petugas iba melihat perjuangan Fadli. Jauh-jauh dari Kepri dan sudah di depan mata ingin bertemu Presiden. Yes. Saya cuma bisa mengucap syukur, usaha saya dan lobby yang dilakukan Fadli berbuah manis.

Kisah tentang Fadli ini sengaja saya bagikan ke teman-teman, betapa berlikunya perjuangan Fadli, warga biasa dari Pulau Kundur di Kepulauan Riau sana untuk bertemu dengan pemimpinnya, Presiden Jokowi. Sebuah usaha sederhana yang tak mudah. Fadli sudah berkorban dana, waktu dan bermuka tebal saat melangkah memasuki halaman gedung Sekneg hanya dengan bercelana jins, berkaos sambil menyandang ransel. Beruntung ini era paska reformasi, di mana protokoler istana sudah tak seangker era Orde Baru. Jika ini terjadi masa Orde Baru saya tak membayangkan rakyat biasa seperti Fadli bisa memasuki istana rakyat dengan cara seperti itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2