Mohon tunggu...
Syahrial
Syahrial Mohon Tunggu... Guru - Guru Madya

Guru yang masih belajar dari menulis

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Masa Tenang yang Tak Tenang: Sebuah Realitas Demokrasi Indonesia

13 Februari 2024   00:01 Diperbarui: 13 Februari 2024   00:03 95
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber foto: dokumen Pemkab Buleleng 

"Kegelisahan yang muncul mencerminkan kekurangan dan kelemahan sistem."

Masa tenang, periode jeda sebelum pemungutan suara, seharusnya menjadi momen refleksi bagi para pemilih. Di tengah hiruk pikuk kampanye, masa tenang hadir sebagai ruang untuk mencerna informasi dan memantapkan pilihan tanpa pengaruh eksternal. Namun, realitas di Indonesia menunjukkan bahwa masa tenang sering kali diwarnai dengan kegelisahan, baik bagi penyelenggara, kontestan, maupun pemilih.

Akar Permasalahan

# Budaya Politik

Budaya politik yang belum matang menjadi salah satu faktor utama. Politik uang, hoaks, dan intimidasi masih menjadi senjata ampuh untuk meraih suara, meskipun risikonya tinggi. Celah regulasi yang longgar juga membuka peluang bagi pelanggaran aturan, seperti kampanye terselubung dan penyalahgunaan media sosial. Kapasitas dan sumber daya Bawaslu dan KPU yang terbatas untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia semakin memperparah situasi.

# Ketidakpercayaan Publik

Ketidakpercayaan publik terhadap penyelenggara dan kontestan pemilu juga menjadi faktor penting. Ketidakjelasan penegakan hukum dan potensi manipulasi hasil pemilu memicu keraguan dan kekhawatiran di tengah masyarakat. Hal ini dapat menurunkan partisipasi pemilih dan menggerus kepercayaan terhadap demokrasi.

Dampak yang Mengkhawatirkan

Masa tenang yang gelisah bukan hanya mengganggu proses demokrasi, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai dampak negatif yang perlu diwaspadai. Berikut adalah beberapa contohnya:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun