Sutomo Paguci
Sutomo Paguci Advokat

Adventurer | Lawyer | Blogger | Contact: sutomo1975@yahoo.co.id

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

Boikot Beli Makanan di Bioskop!

13 Maret 2018   06:00 Diperbarui: 13 Maret 2018   08:05 696 9 7
Boikot Beli Makanan di Bioskop!
Ilustrasi (www.freakonomics.com)

Banyak sekali konsumen bioskop mengeluhkan harga makanan dan minuman yang mencekik. Beberapa diantara konsumen itu menuliskan keluhannya di media massa dan blog. Tulisan ini adalah salah satunya.

Begitu mahalnya harga makanan dan minuman di bioskop sehingga saat diberitahu harganya dan membayar, serasa dipalak. Mau beli di luar tak mungkin karena dilarang bawa makanan dari luar. Terpaksa membayar dengan harga selangit, berlipat-lipat lebih mahal dibandingkan harga pasar.

Masih masuk akal andai masuk rumah makan dilarang bawa makanan dan makan di dalam. Juga masih masuk akal larangan membawa film dari luar lalu memutarnya di dalam bioskop untuk ditonton sendiri. Lah, ini bioskop bukan rumah makan tapi melarang konsumen membawa makanan dari luar. 

Di dalam pesawat terbang harga makanan dan minuman terbilang mahal, tapi ini masih masuk akal bila menimbang biaya untuk menerbangkan makanan dan minuman itu. Sebaliknya, pengelola bioskop tidak perlu butuh biaya ekstra untuk mendatangkan makanan dan minuman yang dijualnya.

Secara hukum penulis belum menemukan larangan bioskop menjual makanan dan minuman dengan harga gila-gilaan itu. Namun ketika membuat peraturan konsumen tidak boleh membawa sendiri makanan ke dalam, barang kali ini sudah dapat dikategorikan sebagai praktik monopoli yang tidak sehat dan merugikan masyarakat konsumen.

Andai saja tidak ada konsumen yang mau buang-buang waktu dan uang untuk memperkarakan dugaan monopoli tersebut, setidaknya konsumen bisa mempertimbangkan cara yang lebih spontan dan praktis: boikot. Boikot beli makanan dan minuman di bioskop.

Bila pihak bioskop secara sewenang-wenang menetapkan harga mencekik dan melarang konsumen membawa makanan ke dalam bioskop, maka sebaliknya konsumen berhak untuk melakukan aksi boikot.

Aksi boikot demikian, sekalipun belum massif dan terstruktur, sebenarnya telah dilakukan konsumen. Penulis amati tidak banyak penonton yang mau membeli makanan dan minuman di bioskop, sekalipun pramuniaganya sudah teriak-teriak menawarkan. Konsumen tahu harga makanan dan minuman yang ditawarkan berharga mahal.

Boikot yang dilakukan secara massif dan terstruktur dapat menjadi senjata andalan konsumen melawan kesewenang-wenangan pelaku usaha bioskop menetapkan harga dan peraturan pada konsumen. Pelaku usaha berdaulat, konsumen juga berdaulat.

Mudah-mudahan dengan aksi boikot konsumen tersebut pelaku usaha bioskop dipaksa mengubah peraturan menjadi boleh membawa makanan dari luar atau menawarkan makanan dan minuman dengan harga pasar.(*)