Sutomo Paguci
Sutomo Paguci Advokat

Menulis sebagai rekreasi | sutomo1975@yahoo.co.id

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Pilihan

SPG Tidak Harus Cantik, tapi Wajib Paham Jualannya

5 Maret 2018   10:59 Diperbarui: 5 Maret 2018   11:09 3349 6 6
SPG Tidak Harus Cantik, tapi Wajib Paham Jualannya
Ilustrasi SPG Geneva Motor Show 2017 (www.bellazon.com)

Salah satu hal yang bikin males saat berkunjung ke pameran mobil atau dealer mobil atau motor adalah: sales promotion girl (SPG) tidak paham produk yang dijualnya. Ditanya soal kompresi mesin saja si SPG gelagapan.

Konsumen tidak selalu telah riset mendalam terlebih dahulu sebelum datang ke pameran atau diler. Kadang-kadang informasi tentang mobil atau motor yang dilihat masih samar-samar, tidak utuh atau belum detail. Kepada SPG-lah paling mungkin untuk bertanya. Sialnya, SPG malah tidak paham produk jualannya.

Padahal, SPG-SPG itu hampir selalu cantik dan minor. Sayangnya, mereka tidak menguasai produk jualannya. Tidak berlebihan jika dikatakan, SPG-SPG itu hanya bermodal kecantikan saja, tapi nyaris kosong menyangkut seluk-beluk barang yang dijualnya. Bukan bentuk generalisasi, tapi setidaknya begitu pengalaman penulis.

Sebagai konsumen, penulis tidak butuh SPG cantik. SPG berpenampilan biasa-biasa saja tak jadi soal, yang penting menguasai produk yang dijualnya dan dapat diajak diskusi. Isu ini sangat penting. Pasalnya, hal-hal "mengganjal" yang tidak terpecahkan dengan riset singkat, biasanya akan ditanyakan langsung pada penjual produknya.

Karena itu, kalau boleh memberi saran kepada para pelaku perdagangan otomotif, berhentilah menjual kecantikan SPG. Fokus saja menjual produk otomotif, bukan "menjual" wanita cantik.

Sangat menyenangkan mendapati sales yang antusias dan menguasai produk yang dijualnya. Dengan pengetahuannya itu, ia bisa diajak diskusi, mampu membuat perbandingan, dan mantap dalam memberi saran buat konsumen.

Lebih menyenangkan lagi andai salesnya menguasai pula merek pesaing, terutama di kelas produk yang sama, sehingga dapat membuat perbandingan secara cerdas, tanpa harus menjelek-jelekkan merek lawan.

Untuk menutupi kelemahan pengetahuan SPG, bisa juga di booth pameran atau dealer ada ahli mekanik yang paham seluk-beluk produk yang dijual berikut cara perawatannya. Jadi saat pengunjung bertanya detail dan SPG kewalahan, bisa dilimpahkan ke mekanik ahli tersebut.

Sangat menjengkelkan sudah menghabiskan sekian waktu untuk tanya-tanya, ternyata SPG nya tidak tahu apa-apa, cuma bisa cengar-cengir saja sambil menjawab pakai bahasa umum, seraya sibuk menarik ujung rok mininya.(*)

SUTOMO PAGUCI