Sutomo Paguci
Sutomo Paguci Advokat

IG@tompaguci | E:sutomosh@gmail.com | Menulis sebagai rekreasi

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Mengintip Pembuatan Kue Bika Panggang ala Padang

10 November 2017   11:52 Diperbarui: 13 November 2017   16:55 3788 12 11
Mengintip Pembuatan Kue Bika Panggang ala Padang
Menunggu masuk oven (Dokumentasi Pribadi)

Ada keasyikan dan seni tersendiri melihat kepiawaian tangan Ibu Eti meracik bahan-bahan kue bika panggang (Padang: singgang) hingga masak dan nampak lezat menggoda. Sudah 24 tahun ia melakukannya dan tentu sangat terlatih.

Dalam dunia wisata kuliner, wisatawan tak melulu sekedar mencicipi makanan khas suatu daerah, tapi juga menyaksikan langsung bagaimana proses makanan itu dibuat. Dari sana tercipta kesan dan sensasi "lebih" dari sebuah petualangan kuliner.

Cetakan dilapisi daun baru (dokpri)
Cetakan dilapisi daun baru (dokpri)

Kue bika panggang khas Padang merupakan salah satu objek wisata kuliner ngangeni di Kota Padang dan Sumbar umumnya, selain teh telor, rendang dll.

Dahulu sekali, sekitar tahun 1990-an hingga akhir 2000, penulis biasa beli bika panggang khas Padang di bilangan Jalan Andalas, Padang, depan Simpang Jalan Azizi. Di sini bikanya berukuran jumbo dan sangat lezat, sayang sekarang sudah tutup.

Kali ini penulis sengaja singgah langsung di kedai bika panggang Ibu Eti di Sei Balang, Kelurahan Bandar Buat, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatera Barat, Kamis (4/10/2017) sore lalu. Letaknya sekitar 200 meter dari simpang Pasar Bandar Buat di jalan penghubung Bandar Buat ke arah Pasar Baru, dekat Toserba Citra.

Memasukkan ke cetakan (dokpri)
Memasukkan ke cetakan (dokpri)

Saat itu kebetulan Bu Eti sedang memasukkan adonan kue bika ke dalam cetakan berbentuk bundar dan dilapisi daun baru. Bu Eti tak ragu untuk berbagi tips membuatnya.

Bahan utama kue bika panggang ala Padang adalah tepung beras, lalu dicampur air, parutan kelapa secukupnya, gula pasir secukupnya dan ragi kue. Setelah dicampur biarkan beberapa saat, sekalian menunggu oven cukup panas.

Sekelebatan nampak sederhana sekali. Tapi itulah "ajaibnya" dunia kulinari. Berbeda tangan orang yang buatnya sangat mungkin berbeda pula rasanya.

Untuk mengontrol rasa, Bu Eti membuat semacam teknik yang sama bagi pembuatan bika panggang di kedai-kedai cabang yang dikelola anak-anaknya.

Adonan kue bika itu kemudian dimasukkan ke dalam cetakannya dan dimasukkan ke dalam oven dari plat seng. Sekitar 15-30 menit kue bika pun akan matang. Melihat tekstur dan warnanya mulut jadi ngiler.

Sudah mateng lezat menggoda (dokpri)
Sudah mateng lezat menggoda (dokpri)

Rasa kue bika ini saat menyentuh lidah, yang dominan, adalah manis dan gurih dengan kejutan di tiap gigitannya. Parutan kelapa menambah rasa gurih. Ada variasi bak rasa tape. Aroma harum daun baru dan asap juga khas terasa di mulut dan hidung.

Selama 24 tahun rasa khas kue bika panggang Bu Eti tersebut tetap terjaga. Pemanisnya selalu gula pasir. Penulis tanya, apakah ada agak sedikit sari manis, seperti sebagian dilakukan pedagang bika lain?

"Tak ada sari manisnya, pak," jawab Bu Eti. "Semua pemanis dari gula pasir. Pelanggan akan lari jika tahu pakai sari manis," ujarnya menjelaskan.

Dipilih yang mateng (dokpri)
Dipilih yang mateng (dokpri)

Hanya dalam tempo tak sampai 15 menit penulis sudah menghabiskan 10 buah. Bahkan istri penulis sampai melongo nyaris tak percaya dengan kecepatan itu. Hehehe.

Tak perlu takut untuk "kesetanan" menikmati kue bika panggang ini. Harganya yang murmer, hanya Rp1500 per biji, lezat pula, membuat siapa saja tak ragu memborong banyak-banyak.

Mau berkunjung ke Padang? Jangan lupa nikmati petualangan wisata kuliner kue bika panggang khas ala Padang.(*)

SUTOMO PAGUCI