Mohon tunggu...
Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Mohon Tunggu... Pensiunan, freelance copy writer - Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Jangan Asal Larang Anak Bermain Gawai

22 September 2021   10:18 Diperbarui: 11 Oktober 2021   10:15 69 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Jangan Asal Larang Anak Bermain Gawai
Anak dan gawai (sumber: yoursay.id)

Sekarang era digital, hampir semua orang memiliki dan mengoperasikan gawai, tak terkecuali anak-anak. Untuk orang tua dan remaja, gawai digunakan untuk berinteraksi di sosial media, sedang untuk anak-anak lebih banyak untuk sekedar bermain game.

Bagi sebagian orang tua, memberikan keleluasaan kepada anak-anak untuk bermain gawai otomatis membebaskan dirinya dari gangguan anak, orang tua dapat bekerja dengan tenang bahkan ironisnya orang tua juga dapat tenang berinteraksi dengan gawainya. Jadilah orang tua dan anak asyik dengan dunianya masing-masing.

Celakanya, membebaskan anak-anak bermain dengan gawainya bisa membuat anak-anak kecanduan bermain game sehingga melalaikan tugas-tugas sekolahnya. Sama halnya dengan orang tua yang sudah kecanduan sosial media juga melalaikan tugasnya memperhatikan dan mendidik anaknya.

Bagaimana cara menghindarkan anak-anak dari kecanduan bermain game sehingga lupa waktu?

Anak-anak bila sudah asyik bermain game, kadang lupa semuanya, lupa belajar, lupa membuat PR dari gurunya, bahkan makanpun lupa. Kalaupun diingatkan harus makan, sambil makan mereka masih tidak mau melepas gawainya. Guna mencegah anak-anak kecanduan bermain game, lalu orang tua secara otoriter merampas dan menyita gawai dari tangan anaknya, lalu memaksa anaknya untuk belajar. Sebenarnya tindakan ini kurang mendidik. Karena anak akan belajar dalam kondisi terpaksa, dan mungkin tidak fokus, sehingga hasilnya pasti tidak maksimsl.

Bermain game asal sepantasnya ada kalanya baik karena melatih syaraf motorik, melatih anak menjadi cekatan. Game juga memicu semangat berkompetisi sehingga anak menjadi bersikap pantang menyerah dan selalu ingin menjadi yang terbaik. Dengan anak mengenal teknologi, seringkali dapat membantu bila orang tua sedang gagap teknologi.

Bila Anda sebagai orang tua juga kecanduan sosial media, bahkan ada yang cenderung FOMO, yang selalu tidak mau ketinggalan yang terjadi dan terupdate di internet, sangat kurang fair bila Anda menyita gawai anak Anda. Mentang-mentang Anda sebagai orang tua lalu bersikap sok kuasa, padahal Anda sendiri seharian tidak pernah melepas gawai, bahkan saat sudah di tempat tidur.

Cara terbaik guna mengurangi kecanduan anak-anak terhadap game adalab tidak asal melarang, tetapi melakukan kesepakatan, misalnya setelah makan siang harus menyelesaikan PR sekolah lalu istirahat siang. Sore hari setelah mandi boleh bermain game selama satu jam. Setelah makan malam harus belajar dan tidur. Pada akhir pekan atau libur, kebebasan bermain game boleh ditambah. Namun sebaiknya jangan melupakan kegiatan bersama keluarga maupun olahraga.

Dengan adanya kesepakatan yang dibahas bersama, tentunya dapat dipeoleh situasi yang bersifar win-win dan terjadi keseimbangan (balancing) pada diri si anak. Hubungan antara orang tua dan anak tetap baik, karena tidak ada tekanan terhadap salah satu pihak, sehingga anak tidak merasa teraniaya.

Jadi, para orang tua bersikaplah bijak dan jangan bersikap otoriter pada anak, karena Anda sendiri tidak mungkin lepas dari gawai. Karena gawai kini seringkali digunakan untuk memberikan tugas-tugas pekerjaan dari tempat Anda bekerja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan