Mohon tunggu...
Suryono Brandoi Siringoringo
Suryono Brandoi Siringoringo Mohon Tunggu... Jurnalis -

Aku bukan seorang optimis yg naif yg mnghrapkan harapan-harapanku yg dkecewakan akan dpnuhi dan dpuaskan di masa dpan. Aku juga bukan seorang pesimis yg hdupnya getir, yg trus menerus brkata bhw masa lampau tlh mnunjukan bhw tdk ada sesuatu pun yg bru dbwah matahari. Aku hanya ingin tmpil sbg manusia yg membwa harapan. Aku hdup dgn kyakinan teguh bhw skrng aku bru mlhat pantulan lembut pd sbuah kaca, akan tetapi pd suatu hari aku akan brhdpan dgn masa dpn itu, muka dgn muka.

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Pelita Dalam Kegelapan Pendidikan Indonesia

28 Juli 2014   03:30 Diperbarui: 18 Juni 2015   05:00 165 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
1406467637385412312

Judul Buku : Oase Pendidikan Di Indonesia

Penulis : Tim Penulis Mitra Forum Pelita Pendidikan

Penerbit : RAS

Tahun : 2014

Tebal halaman: 260 halaman + iv

Ukuran buku: 23 cm x 15 cm

ISBN: 978-979-013-204-7

Editor dan Penyelaras Akhir: Bambang Wisudo dan Lisa Esti Puji Hartanti

Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan itu penting. Setiap manusia berhak menimba pendidikan. Pendidikan itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu metode untuk mengembangkan keterampilan, kebiasaan, dan sikap-sikap yang diharapkan dapat membuat seseorang menjadi lebih baik. Maka dengan adanya pendidikan, setiap manusia dapat mengambil keputusan-keputusan, menyelesaikan persoalan-persoalan, juga mencerdaskan diri untuk kepentingan bangsa dan negara.

Menilik dunia pendidikan di Indonesia, adalah sesuatu yang mengembirakan bahwa hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak merupakan salah satu perkara terpenting yang sudah tertuang di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.Dalam pembukaan Undang-undang Dasar (UUD) 1945 bahkan secara eksplisit ditulis bahwa salah satu tujuan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ialah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Indonesia juga merancang sebuah sistem pendidikan yang telah lama bertahan dan telah digunakan di sekolah-sekolah negeri maupun swasta. Dan saat ini, seluruh penduduk Indonesia diharuskan mengikuti program wajib belajar pendidikan dasar selama sembilan tahun.

Namun, yang sangat disayangkan adalah pendidikan di Indonesia masih carut-marut. Fakta yang ada menunjukan, realitas dunia pendidikan di Indonesia tampaknya menunjukan ambiguitas, kontradiktif dan paradoks. Disatu sisi, tujuan pendidikan adalah untuk membangun dan mencetak manusia-manusia yang baik dan terdidik “Sekolah Mencerdaskan Anak Bangsa”. Sedangkan disisi lain, dunia pendidikan juga melahirkan budaya diskriminatif dan pesimisme publik. Disisi lain, permasalahan yang dihadapi terkait pendidikan di Indonesia diantaranya belum meratanya kesempatan memperoleh pendidikan, belum meratanya jumlah guru dan tenaga pengajar, masih terbatasnya kualitas sarana dan prasarana pendidikan. Misalnya saja, di kota-kota besar fasilitas yang tersedia untuk sekolah sudah cukup memadai, sedangkan yang di desa hanya mengandalkan fasilitas seadanya.

Belum lagi persoalan dana BOS yang sering dikorupsi hingga persoalan berganti-ganti kurikulum pendidikan setiap ganti menteri. Seakan Pendidikan bukan lagi urusan mendidik secara sejatinya untuk menciptakan karakter anak bangsa demi kemajuan jangka panjang. Tapi sekadar tujuan pendek, meraih pragmatis urusan dunia kerja. Visi membangun harga diri kebangkitan SDM bangsa pun jadi kabur. Tak heran jika produk pendidikan formal kini menjadi berbanding lurus, semakin tinggi pendidikan justru semakin tinggi kuantitas perilaku korupsi. Semakin cerdas seseorang semakin cerdik pula melakukan perampokan atas uang rakyat.

Pantas saja sekarang ini kedaulatan bangsa bisa disebut sudah tergadaikan terhadap bangsa asing. Misalnya kekayaan alam seperti tambang di sana sini banyak dieksplorasi dengan keuntungan besar diraih bangsa asing sedangkan negara untuk bangsa ini hanya sedikit sekali. Belum dampak kerusakan lingkungannya yang harus ditanggulangi. Kondisi demikian jelas sebagai bukti Kedaulatan bangsa tergadaikan. Padahal konstitusi negara menegaskan bahwa Kekayaan Alam ini milik negara dan sebesar-besarnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. Tentu saja konstitusi menghendaki kemakmuran rakyat banyak. Bukan golongan sekelompok atau pribadi. Jadi jika terjadi seperti ini jelas merupakan sebuah penyimpangan atas konstitusi negara.

Maka, beranjak dari kenyataan tersebut maka muncullah sekolah, organisasi nirlaba, perkumpulan informal ataupun guru dan aktivis pendidikan yang telah berupaya memperjuangkan pemerataan akses dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satu diantaranya Tanoto Foundation yang didirikan oleh Bapak Sukanto Tanoto pada tahun 2001. Bapak Sukanto merupakan pengusaha Indonesia dan pada tahun 2013, beliau adalah salah satu pengusaha terkaya di Indonesia. (Wikipedia). Hebatnya, bapak kelahiran Belawan, Medan pada hari Natal, 25 Desember 1949 ini, merupakan pengusaha otodidak dan tidak menyelesaikan pendidikan formal di bangku sekolah. Beliau belajar bahasa Inggris kata demi kata menggunakan kamus bahasa Tiongkok-Inggris dan akhirnya mampu mengikuti sekolah bisnis di Jakarta pada pertengahan tahun 1970.

Selain menjadi pengusaha sukses di Indonesia, Anak tertua dari tujuh laki-laki bersaudara ini bersama istrinya Ibu Tinah Bingei Tanoto memelopori pendirian Tanoto Foundation. Tanoto Tanoto Foundation merupakan sebuah yayasan nirlaba yang memiliki visi menjadi pusat unggulan peningkatan akses terhadap pendidikan berkualitas, kesempatan pemberdayaan, dan penguatan dukungan sosial yang memberikan kontribusi terhadap pengentasan kemiskinan, melihat pentingnya pendokumentasian dan penyebarluasan praktik-praktik terbaik pendidikan di Indonesia. Salah satunya, melalui karya buku yang berjudul “Oase Pendidikan Di Indonesia”. Buku ini berisi kumpulah kisah inspiratif, pengalaman dan suka duka dari beberapa pendidik dan kelompoknya dalam usaha mendidik dan memajukan pendidikan di Indonesia.

Buku Oase Pendidikan Di Indonesia, dikemas dengan kisah-kisah yang tidak mengikuti struktur tertentu, tetapi saling terikat. Dalam buku ini, para pendidik dan komunitasnya berbagi pengalaman dalam mendidik dan mengajarkan keterampilan atas masalah-masalah yang sering dihadapi mereka dalam mendidik anak didiknya agar dapat menjadi pelita dalam kegelapan pendidikan Indonesia. Ada tiga bagian utama yang terdapat di buku Oase Pendidikan Di Indonesia. Bagian pertama, tentang ironi pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang seharusnya membuat manusia menjadi manusia, tetapi dalam kenyataannya seringkali tidak begitu. Seringkali pendidikan tidak memanusiakan manusia. Kepribadian manusia cenderung direduksi oleh sistem pendidikan yang ada.

Lewat pembelajaran yang memerdekakan (hal.15), para penulis ingin menyampaikan bahwa Pendidikan ternyata tidak hanya berfikir (kognitif) tetapi perlu diseimbangkan dengan perilaku belajar yang merasa (afektif). Hal lain yang seringkali dipraktekkan dalam dunia pendidikan, bahwa pendidikan sebagai sederetan instruksi dari guru kepada murid. Anak didik dianggap manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa. Jadi hubungannya adalah guru sebagai subyek dan murid sebagai obyek. Model pendidikan ini tidak membebaskan karena sangat menindas para murid. Namun di sekolah M. Aripin Ali lewat karyanya Bergulat Memerdekakan Anak, tidak ditemukan sistem pendidikan yang seperti itu. Karena di sekolah M. Aripin Ali, guru tidak perlu khawatir meninggalkan kurikulum. Tidak akan ada yang menyalahkan bila guru tidak memenuhi target kurikulum. Tidak ada teguran dari pengelola sekolah ataupun orangtua murid. (hal.48).

Yang menarik dari keseluruhan bagian adalah bagian ketiga: membangun profesionalisme guru. (hal. 179). Tentu saja tidak salah kalau kita berpendapat bahwa baik tidaknya kualitas pendidikan tergantung pada kompetensi guru dalam mendidik anak didiknya. Pada tulisan Ginanjar Hambali, Sertifikat Bukan Sihir. Ia menyampaikan bahwa sangat penting membuka ruang-ruang untuk pengembangan guru profesional. Masalahnya, kadang guru masih terjepit sebagai pihak penerima bukan pembaharu, sebagai pihak yang diharuskan diam. Ruang-ruang tidak membuka pengembangan bagi guru, termasuk sekolah pun kadang memaksa guru untuk berlaku jauh dari nilai-nilai pencerahan. Guru sudah lama menjadi harimau yang terlelap tidur. Mengubah semuanya memang harus perlahan walau dunia sedang tunggang-langgang. Semuanya perlahan karena kita menanggung sejarah yang kelam tentang pengembangan guru. (hal. 193).

Di akhir bagian buku,ditutup dengan Epilog: Rimpang-rimpang Pendidikan Indonesia, oleh Dewi Susanti. Ia memaparkan catatanya tentang isi buku ini. Seperti rhizome, praktik-praktik dalam buku ini dapat berdiri sendiri menopang semangat pendidikan yang dikibarkan. Namun, seperti rhizome pula, penggiat-penggiat pendidikan yang adalah penulis-penulis buku ini berjejaring secara jamak, tidak hierarkis, dan tidak linier. Pendidikan dalam buku ini tidak hanya dimaknai sebagai upaya untuk menyampaikan tujuan pembelajaran sebuah mata pelajaran. Pendidikan di sini berpusat pada anak dan bertujuan untuk mengembangkan karakter, sikap dan prinsip-prinsip mendasar kehidupan. (hal. 259).

Di samping isi, beberapa hal lain yang menjadi nilai tambah buku Oase Pendidikan Di Indonesia ini yakni sampul buku yang sederhana dan eye-catching. Layout dan pilihan front tulisan yang dinamis membuat mata pembaca tak mudah lelah. Juga penyisipan gambar yang simple namun menarik disertai kalimat-kalimat yang mudah dipahami menumbuhkan semangat, menggugah naluri dan mengasah pemahaman dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Masih banyak lagi makna-makna dan pemahaman-pemahaman yang berguna yang disajikan di buku Oase Pendidikan Di Indonesia ini. Agar lahir, tumbuh dan berkembang inspirator-inspirator baru bagi dunia pendidikan yang akan menjadi pelita dalam kegelapan pendidikan Indonesia.

Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan