Mohon tunggu...
Suprihadi SPd
Suprihadi SPd Mohon Tunggu... Penulis - Dilahirkan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Pendidikan SD hingga SMA di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kuliah D3 IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang UNY) dilanjutkan ke Universitas Terbuka (S1). Bekerja sebagai guru SMA (1987-2004), Kepsek (2004-2017), dan Pengawas Sekolah jenjang SMP (2017-sekarang).

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Pulang Kampung Wajib Naik Kereta Api

27 September 2022   21:36 Diperbarui: 27 September 2022   21:46 210 7 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pulang Kampung Wajib Naik Kereta Api

Sebagai perantau, saya selalu menjadwalkan perjalanan naik kereta api harus menjadi salah satu agenda. Sejak tahun 1987 saya tinggal di Kalimantan Timur. Saat mudik, pulang ke rumah orang tua di Klaten, saya selalu berusaha mencari waktu untuk bisa naik kereta api.

Pulang mudik bisa naik kereta api dapat menjadi cerita menarik bagi teman-teman di Kalimantan Timur yang sama sekali belum pernah naik kereta api. Memang, di Kaltim belum ada kereta api.

Kebetulan bandara Yogyakarta sudah pindah dari Maguwo ke Kulon Progo, saya perlu mencari tahu jadwal keberangkatan kereta api dari bandara ke stasiun Tugu Yogya. Setelah mengetahui jadwal kereta api, saya baru mencari tiket pesawat terbang dari Balikpapan ke YIA (Yogyakarta Internasional Airport) di Kulon Progo. 

dokpri
dokpri
Lebaran tahun 2022 saya berkesempatan mudik, meskipun harus seorang diri. Pandemi Covid-19 belum berlalu waktu itu sehingga saya memutuskan pulang seorang diri demi sungkem dengan ibunda tercinta di Klaten.

Harga tiket pesawat yang melambung bukan penghalang utama. Jika niat sudah bulat, rencana harus terlaksana.

Tepat hari Senin tanggal dua Mei 2022 saya terbang dengan perasaan penuh bahagia. Protokol kesehatan tentu harus diperhatikan. Saya tidak ingin tertular penyakit apa pun selama perjalanan. Jaga jarak dengan orang lain tentu harus dilakukan pula.

Tiba di bandara baru, saya terbengong-bengong. Begitu luas dan jalan yang harus dilewati cukup panjang untuk menuju stasiun kereta api di lantai dua bandara. Pintu kaca otomatis, seperti pintu masuk mal, membuat banyak orang kebingungan. Dikira bukan pintu. Kaca yang lebar dikira dinding penyekat, padahal pintu otomatis.

Saya berjalan tergopoh-gopoh menuju stasiun KA lantai dua bandara. Saya khawatir kehabisan tiket. Saya tidak mau ikut jadwal berikutnya yang harus menunggu beberapa jam.

Untuk pertama kali, saya akan naik kereta api jurusan bandara YIA ke stasiun Tugu Yogya. Biaya tiket yang terjangkau sangat diminati banyak orang, termasuk saya tentunya.

Saat mau membeli tiket KA saya kebingungan. Biasanya ada loket yang melayani pembelian secara manual. Ternyata untuk mendapatkan tiket  dengan harga Rp 20.000 harus secara online. Untung ada petugas yang mau membantu membelikan tiket lewat ATM yang tersedia di dekat pintu masuk stasiun KA bandara itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan