Mohon tunggu...
Sultani
Sultani Mohon Tunggu... Freelancer - Penulis Lepas

Senang menulis kreatif berbasis data

Selanjutnya

Tutup

Foodie Pilihan

Gurihnya Sate Padang Keliling Langganan Keluarga Kami

21 Mei 2024   23:55 Diperbarui: 22 Mei 2024   01:50 99
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Sate Padang (Sumber: Kompas.com)

"...sate padaaaang..." suara gimik pedagang sate padang selalu terdengar pada malam hari setelah waktu Isya. Suara itu berasal dari pengeras suara yang dihubungkan dengan perangkat pemutar suara yang ada di sepeda motor. Saban malam tukang sate padang ini melewati rumah  dengan tawaran sate padang melalui pengeras suara mini yang tergantung terpasang di bagian depan sepeda motornya. 

Awal-awal dia mulai jualan, Saya tidak menggubrisnya sama sekali. Setiap kali motornya lewat depan rumah sambil berteriak " sate padaaang" saya abaikan begitu saja. Membiarkan dia berlalu tanpa sedikitpun berpikir untuk mencoba mencicipinya. 

Suatu malam ada tetangga depan rumah memanggil dan membelinya. Aroma sate sapi yang dibakar menerobos ke rumah sehingga berhasil merangsek ke hidung saya. Aromanya mulai menggoda rasa penasaran untuk mencobanya. Malam itu saya masih bisa mengalahkan keinginan  itu sehingga saya biarkan abang satenya berlalu begitu saja.

Tiba di suatu malam pas hujan gerimis. Badan lagi mager buat keluar cari makan malam. Tiba-tiba saja dari kejauhan sayup-sayup suara "sate padaaang" memanggil-manggil. Makin dekat suara tersebut makin jelas beserta abang dengan motor dan gerobak sate padangnya. Saya yang belum lapar betul enggan memanggil abangnya. Akhirnya anak saya yang bungsu yang keluar memanggil abang satenya yang kebetulan sedang melambat motornya.

Mampirlah dia dan langsung parkir di depan pagar. Dua piring besar langsung disodorkan ke abangnya agar dibuatkan dua porsi sate padang. Dari ruang tamu saya perhatikan abang satenya mulai mengeluarkan sate dari dalam gerobak kemudian mengipas-ngipas satenya di atas perapian kecil. Asapnya langsung nyelonong ke ruang tamu membuat selera makan langsung meronta-ronta. Perut yang tadinya masih kenyang, tiba-tiba jadi lapar. 


Sekarang abangnya sudah memasukkan bumbu satenya ke dalam piring yang disodorkan tadi. Satu persatu piring yang sudah komplit sate dan bumbunya berpindah tangan dari abang sate ke anak saya. Dan seketika itu juga dua piring berisi sate padang langsung dibawa ke dalam rumah setelah uangnya dibayar. Begitu satenya diletakkan di meja, saya gunakan kesempatan ini untuk melihat dari dekat sate padang ini.

Ternyata bentuk sate dan bumbunya beda dengan sate ayam, sate kambing, atau sate nusantara yang sudah saya makan. Saya pernah makan sate kambing, sate kelinci, dan sate kerang. Bentuk dan ukuran sate yang ditusuk di tiap-tiap lidi kalau saya perhatikan bentuknya pipih dan potongannya tipis-tipis. Setiap lidi ada sekitar 4 potong potongan daging tadi. Tekstur warnanya agak pucat. 

Bumbunya juga beda dengan bumbu sate nusantara lainnya, terutama sate ayam dan sate kambing. Biasanya kedua sate nusantara ini paling sering menggunakan bumbu kacang atau bumbu kecap. Kalau sate padang bumbunya kental dan teksturnya halus. Rasanya juga asin. Kalau sate ayam dan sate kambing manis. 

Campurannya adalah ketupat yang dipotong-potong. Diam-diam saya comot satu tusuk sate padang yang tersembunyi di bawah bumbunya. Langsung saya masukkan ke mulut. Rasanya memang beda dengan sate yang lainnya. Cita rasa asinnya lebih dominan. Apalagi sudah bercampur dengan bumbunya. Karena penasaran, comot lagi satu lidi. 

Sekarang ditambah dengan satu potong ketupat yang saya tusuk pakai lidi satenya. Dan semuanya langsung masuk ke mulut dalam sekejap.  Mungkin karena ukuran satenya tipis-tipis, proses kunyahnya tidak terlalu lama. dalam hitungan detik saja semua sate dan ketupat yang baru dikunyah sudah berpindah ke dalam perut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun