Mohon tunggu...
Suko Waspodo
Suko Waspodo Mohon Tunggu... profesional -
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

amrih mulya dalem gusti

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

"We Can Buy Ice Cream, but We Cannot Buy Happiness"

9 Januari 2018   16:58 Diperbarui: 10 Januari 2018   02:31 845
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
DeccanChronicle doc.

Semasa kecil, ketika aku sudah mulai mampu membaca dengan lancar aku sangat gemar membaca komik dongeng anak-anak karangan HC Andersen. Hampir semua dongeng  karangannya sudah kubaca semuanya sebelum aku  lulus SD. Kesenangan membaca komik dongeng anak-anak selesai.

Menginjak usia remaja SMP, komik cerita silat dan cerita petualangan Old Shatteredhand menjadi kesenangan setiap hari ada waktu luang untuk membaca. Majalah remaja tentang musik dan gaya hidup menjadi bacaan lain yang menyenangkan pula.

Pada usia remaja SMA aku tidak lagi terlalu menyenangi komik cerita silat melainkan mulai menyukai bacaan novel; mulai dari novel remaja cerita cinta anak SMA sampai dengan cerita percintaan aktivis kampus serta novel-novel terjemahan yang lebih berbobot. Kesenanganku telah berganti lagi.

Saat masa kuliah bacaan mulai berubah ke buku biografi para tokoh berpengaruh, buku pengembangan kepribadian serta filsafat. Surat kabar dan majalah politik menjadi kesenangan bacaku yang baru juga. Di era ini pula aku mulai terlibat di  aktivitas sosial baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Kegiatan bersama orang muda  menjadi sesuatu yang sangat membahagiakan.

Waktu terus berjalan, era terus berganti dan kesenanganku senantiasa berubah. Kesenangan terhadap sesuatu senantiasa tidak pernah abadi. Kesenangan menikmati sesuatu yang berbeda dari sebelumnya selalu terus muncul dan berubah setiap kali muncul kesenangan terhadap sesuatu yang baru. Semua itu kalau dituruti terus ternyata tidak ada habisnya. Kesenangan memang hanya kenikmatan sesaat.

Kesenangan (baca kenikmatan) memang bisa aku peroleh dengan hal-hal yang baru yang aku coba raih dengan uang yang aku  miliki. Tetapi aku bisa bosan dan meninggalkannya saat aku sudah merasa tidak senang dan tidak nikmat lagi.  Ada handphone atau perangkat elektronik baru ingin membeli dan menikmatinya, saat sudah tercapai dan menikmati beberapa saat sudah bosan dan tidak menyenangkan lagi. Ternyata kesenangan memang tidak identik dengan kebahagiaan.

Kebahagiaan aku alami setiap kali aku terlibat di kegiatan dan pendampingan orang muda seperti saat masih kuliah. Tidak memberi kenikmatan (kesenangan jasmaniah) namun membahagiakan (batiniah). Kesenangan bisa aku beli tapi tidak pernah bisa aku ulang pengalaman kesenanganku. Pengalaman kesenangan pada masa lalu ternyata hanya bisa terjadi pada masa lalu dan tidak bisa menyenangkan lagi pada  masa kini. 

Sedangkan pengalaman membahagiakan,  menjadi berguna bagi orang lain khususnya pendampingan orang muda saat masih mahasiswa, terus menjadi sesuatu yang paling membahagiakan dan terus aku ulang  hingga saat ini. Kebahagiaan terus bisa aku ulang aku alami walau sering tanpa harus mengalami kenikmatan (kesenangan jasmani). Kebahagiaan tidak harus dan tidak mungkin dialami dengan membelinya.

Aku mampu  membeli kesenangan  namun aku tidak akan mampu membeli kebahagiaan. We can buy ice cream but we cannot buy happiness.

Salam hangat penuh cinta

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun