Akhmad Sujadi
Akhmad Sujadi wiraswasta

Entepreneur

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Serunya Berlayar 52 Jam dengan Kapal Pelni Menuju Merauke

13 Februari 2018   21:32 Diperbarui: 14 Februari 2018   10:43 2281 1 1
Serunya Berlayar 52 Jam dengan Kapal Pelni Menuju Merauke
Foto bareng Nakhoda, Kepala Cabang Pelni Timika di sisi Anjungan (Foto Pelni)

Rabu, 31 Januari 2018, jam baru menunjukkan pukul 02.30 WIT. Sudah dini hari, namun mata tidak dapat dipejamkan lagi. Setengah jam kemudian Kepala Cabang PT. Pelni (Persero) Timika Suaidi  mengabarkan mobil jemputan sudah siap di lobby hotel. Kami bertiga bersama Bayu dan Fandi dari Rumah Sakit Pelni, anak perusahaan PT. Pelni (Persero) yang melayani jasa kesehatan segera menuju lift dan cek out dari hotel. Kami harus menuju Pelabuhan Pomako, Timika di pagi buta.

Jarak Kota Timika dengan Pelabuhan Pomako sekitar 70 km dan dapat ditempuh dengan mobil sekitar 1,5 hingga 2 jam. Kebetulan jalanan sepi, kami bisa tiba di dekat pelabuhan sebelum waktu subuh. Kami tidak langsung ke pelabuhan, namun mencari masjid untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Kami mendapati masjid 2 km sebelum masuk area pelabuhan.

Dari Pelabuhan Pomako, nampak sorot lampu kapal motor (KM) Tatamailau telah sandar dan membunyikan seruling kapal. Tak lama adzan subuh  berkumandang. Setelah sholat subuh, kami minum kopi, makan pisang goreng dan bersahabat dengan pemilik warung yang asli Jawa Timur dan Makasar. Mereka berprofesi sebagai nelayan. Mereka pas tidak melaut, sehingga sedikit santai. Kami bahkan menyempatkan foto bareng sebelum menuju pelabuhan.

Satu setengah jam sudah KM. Tatamailu bersandar, namun karena hari masih gelap, para penumpang masih bertahan di atas kapal, mereka bertahan menunggu terang tanah. Jadwal sandar kapal yang hanya 2 jam, molor karena menunggu penumpang turun. Pelni harus sabar, mengalah dan untuk melayani warga Papua yang menjadi sebagian besar pelanggan setia Pelni.

Untuk masuk ke Pelabuhan Pomako perlu perjuangan tidak ringan. Parkir kendaraan yang tidak teratur menyulitkan kami memasuki pelabuhan. Tumpukan kontainer juga menghalangi akses penumpang. Pelabuhannya tidak terawat dan sangat kotor. Terminal penumpang yang terbuat dari papan sulit dipergunakan untuk memberikan pelayanan kepada pelanggan Pelni. Karena kondisi terminal tidak representatif, DCS Pelni tidak dapat dioperasikan di terminal penumpang.

Waktu sandar telah habis, namun kesibukan naik turun penumpang, bongkar muat barang masih terus berlangsung. Nakhoda KM. Tatamailau, Capt. Ridwan Wijayanato dengan sabar menyaksikan dari sisi anjungan bersama penulis mengamati pergerakan para porter yang dengan cekatan penuh keringat menurunkan dan menaikkan barang. Suara berisik di dermaga yang sempit membuat pelabuhan terasa riuh dan sumpek.  

Seruling tiga sudah dibunyikan, para kuli mempercepat langkah, merangsek menaiki tangga kapal mengangkut barang. Para pedagang dari Timika banyak berjualan di Kota Agats, Ibu Kota Kabupaten Asmat. Mereka berkelompok dan mengandalkan kapal Pelni untuk mengangkut dagangannya. Tanpa kapal Pelni para pedagang tidak dapat mencari nafkah. 

"Kami terima kasih kepada negara yang menyediakan kapal. Kami tidak bisa hidup tanpa kehadiran kapal Pelni," kata seorang pedagang kepada penulis.

Pukul 08.15 kapal baru bisa lepas tali, menyusuri sungai dan akhirnya melayari Laut Arafuru menuju Pelabuhan Agats, Kabupaten Asmat. Kami ke anjungan, tempat Nakhoda mengendalikan kapal. Selepas Timika kondisi laut tenang dan membuat nyaman berlayar. Kami seharusnya tiba di Pelabuhan Agats pukul 15.00, namun karena telat berangkat kami mulai mendekati Agats sekitar pukul 14.00. 

Pasang surut air laut dan kondisi alur sungai menuju Pelabuhan Agats menjadi perhitungan Nakhoda sebelum memasuki pelabuhan sungai yang kerush, penuh lumpur. Karena kondisi air surut dan sungainya berlumpur, KM. Tatamailau harus sabar, berlabuh jangkar di muara.

Pelanggan Pelni dari Papua Karaoke (Foto Sujadi)
Pelanggan Pelni dari Papua Karaoke (Foto Sujadi)
Kapal harus menunggu mulai  pukul 14.00 WIT hingga pukul 19.00 WIT. Nakhoda, ABK dan seluruh pelanggan  harus bersabar menunggu kondisi air laut pasang. "Sebagai pelaut  kita harus sabar dan  bersahabat dengan alam. Karena posisi kapal terlambat, kapal akan tiba di Pelanuhan Agats sekitar pukul 21.00, pelanggan Pelni harus diberikan jatah makan," kata Nakhoda Capt. Ridwan Wiajayanto.

Menjelang pukul 19.00 WIT, kami bertiga menuju anjungan setelah merebahkan badan dan mata sulit terpejam di kamar 6008. Kami diberitahu Capt. Choerudin bahwa air sudah naik. Kapal mulai tarik jangkar dan segera bergerak menuju pelabuhan. Di Dermaga Agats telah menunggu Kepala Dinas Sosial Kabupaten Asmat Amir Makmud mewakili Bupati siap menerima bantuan didampingi Kepala  Sub Cabang Pelni Agats, Saragih.

Tepat pukul 21.10 WIT kapal sandar di Pelabuhan Agats. Kondisi dermaga yang sempit menjadi sesak dan menyulitkan pelayanan pelanggan Pelni. Dalam keramaian, para ABK Pelni bahu memabahu, estafet menurunkan kardus demi kardus barang bantuan "Pelni Peduli Asmat". Penyerahannya dilakukan Nakhoda KM. Tatamailau Capt. Ridwan Wiajayanto. Kami sempatkan ke rumah sakit, ke Posko dan ke Kantor Sub. Cabang Pelni Agats. Kami menyusuri Kota Agats, kota di atas rawa-rawa yang tidak ada kendaraan roda empat. Sepeda motor listrik dan gerobak dorong ditarik tenaga manusia menjadi pilihan warga sebagai sarana transportasi utama.

Suasana Pelabuhan Timika (Foto Sujadi)
Suasana Pelabuhan Timika (Foto Sujadi)
Pukul 23.20 WIT kapal lepas tali meninggalkan Pelabuhan Agats. Karena malam hari, air laut telah kembali pasang. Kapal segera memasuki laut Arafuru. Perjalanan Agats-Merauke lebih lama dibanding perjalanan Timika-Agats. Kalau sesuai jadwal, dari Agats-Merauke ditempu dalam waktu 35 jam. Namun kami menempuhnya secara total 52 jam. Kami mabok laut di tengah malam. Beruntung Bayu dan Fandi menyodorkan obat anti mual dan perut bisa bersahabat.

Waktu seolah berjalan lambat. Pelayaran terasa lama. Untuk mengisi waktu kami bersahabat dengan para pelanggan yang umumnya warga Papua.  Kami bercengkerama dengan anak-anak, dan keluarga besar warga Papua di atas kapal. Malam kami mengisi karaoke bersama  pelanggan Pelni dari Papua, mereka menyanyi lagu-lagu daerah dan juga lagu pop. Di kapal Pelni mereka dapat menghibur diri.  Mereka mengandalkan kapal Pelni untuk transportasi dan disitribusi barang.

Seharusnya kami tiba di Palabuhan Merauke pukul 04.00 pagi. Namun kondisi alur sungai sebagai sarana pelabuhan dan kapal sandar kapal dalam kondisi surut.

Kami harus sabar menunggu di tengah laut. Kapal baru bisa bergerak ketika air meninggi, pukul 14.00. WIT  KM. Tatamailau bergerak menuju Pelabuhan Merauke. Pukul 16.00 kapal sandar. Setelah bersalaman dengan ABK, kami segera turun dan bertemu dengan Kacab merauke Junes Sitorus. Kami diantar ke KM. Nol Sabang-Merauke di perbatasan Republik Indonesia-Papua Nugini. Kami tiba di KM. Nol Merauke setelah lima tahun sebelumnya ke KM. Nol Sabang. Terima kasih PT. Pelni (Persero). ***