Mohon tunggu...
Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Mohon Tunggu... Penulis - Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Nasihat dari Mereka yang Banyak Mulut dan Sarat Lagak

25 Maret 2022   08:33 Diperbarui: 25 Maret 2022   08:36 476 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Image caption - Warteg Kharisma Bahari, di Kebayoran Baru, Jakarta, Selasa (23/10/2018).(KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA)

Suatu pagi cerah, Bang Brengos memergoki seorang kawan lama. Ia sedang mengudap di warteg. Belasan tahun lalu ia pernah ketemu. Tangan kanan memegang sendok, jari tangan kiri mengepit sebatang rokok kretek.

Celana panjang, kaos oblong merah dirangkap dengan kemeja hijau yang dibiarkan tanpa dikancing. Juga kacamata berlensa gelap. Layaknya gaya remaja tahun 80-an. Sejenak Bang Brengos terpana, dan mengamati agak beberapa saat. Diantara sibuk mulut menerima suapan dan isapan rokok, bercelotehlah ia. Asyik betul gaya duduknya.

Berhenti ia setelah disela. Agak terkejut, lalu berangkulan. Dan seperti dapat diduga, mulailah teman itu ngobrol panjang, sarat nasihat. Bang Brengos kebagian mendengarkan, dan tentu saja membayar semua pesanan makan yang lelaki tua itu.

"Aku tak pernah bicara sepanjang ini kecuali denganmu, Her. Aku masih seperti yang dulu, sedang kamu banyak berubah. . . . !"

Hermanu, itu nama Bang Brengos di KTP. Lengkapnya Heru Iman Utomo.

Akhirnya waktu berpisah tiba juga. Ia melambaikan tangan.

"Terima kasih. Kamu selalu 'the best' sebagai karib. Kalau saja ada sepuluh kawan sepertimu, aku tak perlu ripuh menjalani sisa usia ini. . .!"

"TIdak setiap hari, 'kan?"

"Setahun sekali pun tidak, Mang. Sangat menyenangkan dapat bertemu, masih sama sehat, sama penuh gaya. Dengan rokok kretek mengepul dbibir. Amboi. . . .!"

"Terima kasih sudah mentraktirku. Tapi maafkan soal nasihatku tadi. Sebenarnya itu semua untuk diriku sendiri saja. Tidak ada bagian dari nasihatku yang cocok buatmu, Her. Hidupmu sudah runtut dan nyaman. Elok nian. Tanpa celah untuk dinasihati. Maaf!"

"TIdak ada yang salah, dan tidak ada yang perlu dimaafkan, Mang. Terima kasih. Semoga kamu dan keluargamu selalu sehat, dan bahagia meski dalam kesederhanaan hidup seorang pensiunan. . . . . !"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan