Mohon tunggu...
Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Mohon Tunggu... Penulis - Lahir di Ampel, Boyolali, Jateng. Sarjana Publisistik UGM, lulus 1982. Pensiunan Pegawai TVRi tahun 2013.

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Anjay, Menyakiti Perasaan, dan Kekerasan Verbal

15 September 2020   15:00 Diperbarui: 15 September 2020   15:27 135
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Makian merupakan kata-kata tak perlu. Tak bermakna, dan sia-sia. Tetapi kita terbisa mengucapkannya. Sejak kecil malah, meski secara sembunyi-sembunyi. Nama-nama binatang sering kita jadikan kata makian. Selebihnya jenis kelamin, anggota tubuh, ungkapan jorok, perempuan nakal, dan banyak lagi.

Tiap daerah punya kosa kata makian masing-masing. Negeri ini punya banyak bahasa daerah. Sebanyak itu pula pebendaharan makian digunakan dan "dilestarikan" penggunanya. Orang bangga (mungkin tanpa sadar/sengaja) dengan kata-kata itu. Sebab ungkapan demikian sekaligus sebagai penunjuk asal-usul daerah dan sukunya.

Itu saja pengantar untuk memperbincangkan kata anjay yang beberapa waktu lalu ramai dipro-kontrakan, dan menjadi viral serta trending topic.

Asu, Anjay

Sudah disebut pada alinea awal, nama-nama hewan menjadi perbendaharaan makian kita. Selain asu (anjing), monyet dan babi, tak jarang orang memaki dengan nama hewan jangkrik, kirik (anak anjing), wedus (kambing), kebo (kerbau), dan precil (anak katak).

Saat kecil, saya tinggal pada sebuah kota kecamatan, kreasi tiap orang dalam memilih kata-kata makian sangat variatif. Kata-kata itu dilontarkan kepada orang, dalam suasana hati dan perasaan tertentu, dan secara spontan. Itu sebabnya ada orang yang latah. Dan kelatahan itu menjadi bahan tertawaan. Terlebih bila yang diucapkan kata-kata jorok, porno, mesum.

Yang mengherankan, kata-kata makian -dengan segenap varian dan kreasi itu- kerap dimaknai sebagai candaan, tidak bermaksud menghina, dan menunjukkan keakraban pertemanan. Dan biasanya pertemanan yang seperti itu terjadi di luar lingkup formal (kantor, dunia pendidikan, rumah ibadah, dan sebagainya). Terjadi di dunia nonformal: tempat pemancingan, lapangan sepakbola/bola voli, antar pemain gaple/domino atau main catur,

Waktu saya kecil makian "asu" rasanya tidak ada dilingkungan anak-anak, melainkan pada orang-orang remaja dan dewasa.

Sekian lama merantau, kemudian saya pindah ke Bandung, baru saya rasakan nuansa makian yang sangat kental di mulut anak-anak seusia SD. Di kampung-kampung terutama makian "anjrit, njing, dan anjing". Telinga saya risih karena belum terbiasa saja. Tak jarang terpikir untuk mendekati mereka dan usul agar kata-kata makiannya ditambah dengan gajah, nyamuk, tokek, buaya, dan ayam. Usul lain, agar imbuhan kata "si" (si Asep, si Kakek, si Bos) setiap penyebutan nama atau sebutan orang dihilangkan. Tetapi rencana itu tak pernah saya realisasikan.

Satu kata yang sangka saya berasal dari kata anjing, yaitu aing. Isteri pernah bertanya ke tetangga yang asli Sunda, dan menyatakan sangkaan saya keliru. Tetapi rasa bahasa saya kata itu tetap saja anjing. Mungkin seperti satu kata yang beberapa waktu sempat viral, yaitu anjay. Dalam benak saya kata itu ya anjing. Padahal mungkin saja singkatan dari kata: anak jayengan (nama tempat), anak manja, dan aneka jajanan yumi.

*

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun