Suci Handayani Harjono
Suci Handayani Harjono penulis dan peneliti

Ibu dengan 3 anak, suka menulis, sesekali meneliti dan fasilitasi

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Danau Ugo Batang Hari, Si Elok yang Menjanjikan

4 Oktober 2015   21:12 Diperbarui: 5 Oktober 2015   10:19 208 11 7

Kabupaten Batang Hari Provinsi Jambi menyajikan kekayaan alam yang tersembunyi. Selain memiliki sumber daya alam berbagai jenis seperti batu bara, hutan, perkebunan, pasir, bebatuan, bumi, gas, dan kerikil, yang tak kalah menariknya adalah sebuah danau perawan yang elok dipandang mata.

Seminggu yang lalu, saya berkesempatan pergi ke Jambi, tepatnya di Kabupaten Batang Hari. Saat bekerja, saya berkesempatan menjelajahi Desa Aur Gading dan melihat langsung Danau Ugo, potensi desa yang belum tergarap. Meskipun terselimuti kabut asap, keelokan danau ini tetap terlihat. Danau Ugo terletak di Desa Aur Gading Kecamatan Bhatin XXIV atau orang-orang sering bilang Bhatin Dua Lusin, menyimpan potensi wisata yang sangat menjanjikan. Danau seluas 24 hektare ini membentang luas di sepanjang desa.

Untuk menuju Danau Ugo, kita melewati jembatan gantung yang terbuat dari besi. Jembatan tersebut menjadi jalan alternatif menuju Desa Aur Gading, selain jalan lain yang memutar. Beberapa tahun yang lalu, jembatan belum ada. Warga Desa Aur Gading dan sekitarnya harus menyeberang sungai seluas tak kurang dari 200 meter dengan menumpang perahu kecil. Empat tahun terakhir, jembatan dibangun untuk memperlancar transportasi warga. Sayang hanya selebar tak lebih dari 1,5 meter, hanya cukup untuk dilewati sepeda motor satu arah.


Kembali ke Danau Ugo, kita harus menyeberang jembatan gantung kemudian melewati perkebunan karet yang membentang di kanan-kiri jalan raya berdebu yang masih terbuat dari tanah. Sekitar dua ratus meter kemudian, masuk ke jalan setapak yang membelah perkebunan karet yang luas dan sepi. Jalan setapak ini berkelok-kelok, cocok jika digunakan untuk trek motor cross. Sejauh mata memandang hanya pohon-pohon karet yang dipenuhi batok kelapa tempat untuk menyadap karet ditambah rimbun dedauan.


Danau Ugo memang mempesona. Alamnya masih asri dengan air yang cukup jernih. Selama ini, danau alami tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Daya tarik danau dengan pemandangan asri tersebut terletak pada bentangan luas danau, ditambah perkebunan karet di salah satu sisinya. Menurut penduduk setempat, Danau Ugo dihuni banyak ikan lambak, semacam ikan bandeng. Setiap harinya warga sekitar mencari ikan lambak untuk dijual dan dijadikan lauk-pauk.


Konon, Danau Ugo sebagai tempat bermain dan pemandian bagi para bidadari. Danaunya yang luas, tenang dan sepi menjadi tampat favorit para bidadari yang turun dari khayangan. Mereka bersuka ria dan senang bermain air di Danau Ugo. Menurut kabar yang diyakini warga sampai saat ini, danau tersebut tidak boleh dirusak. Karena pernah ada yang meracuni ikan, tetapi di pagi harinya, ikan-ikan tidak mati tetapi di danau muncul banyak sekali telunjuk manusia yang menyembul. Sejak saat itu, warga sekitar mempercayai kalau air danau tidak boleh tercemar dan dikotori orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, keasrian Danau Ugo terjaga sampai sekarang. Warga sekitar juga mempercayai, saat di danau harus cuci muka dengan airnya, karena jika tidak bisa mengakibatkan sakit panas.

Pemerintah Desa Aur Gading bertindak cepat, memanfaatkan aset desa menjadi lebih bermanfaat. Saat ini pengajuan Danau Ugo menjadi tempat wisata sudah diproses Kementerian Pariwisata. Master plan masih disusun, kelak Danau Ugo akan dijadikan danau wisata Kabupaten Batanghari yang dilengkapi dengan rumah makan, sarana pariwisata dan lintasan cros di sekitar danau.

Warga berharap potensi desa ini mampu dikelola secara baik sehingga bisa menambah pendapatan asli desa dan mendorong kemajuan perekonomian masyarakat. Sejumlah rencana sudah disiapkan oleh warga kalau Danau Ugo sudah menjadi tempat wisata. Mereka siap  mengelola warung-warung makan, menjual souvenir, menyediakan jasa ojek, dll. Pandangan mereka optimis untuk kemajuan desa dan warga, bahagia menatap masa depan desa yang membentang di depan mata.

 

_Solo, 4 OKtober 2015_

 

foto : dokumen pribadi