Mohon tunggu...
Johanes Krisnomo
Johanes Krisnomo Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Penulis, fotografer, pemerhati lingkungan hidup, teknologi pangan, kesehatan, kimia pangan. Alumnus Kimia ITB dan praktisi di Industri Pangan. https://www.kompasiana.com/stalgijk

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Indonesia Unggul, Saling Kenal dan Sayang

23 Agustus 2019   23:19 Diperbarui: 24 Agustus 2019   05:44 0 39 19 Mohon Tunggu...
Indonesia Unggul, Saling Kenal dan Sayang
Sumber : https://www.cleanpng.com

Sejak unyu-unyu, sejatinya rindu telah dimulai. Ingatan menerawang, ketika kami-kami saudara sepupu tak berjumpa dalam jeda waktu. Kangen dan saling merindu, terkadang berselisih paham mewarnai hari-hari yang seolah tak ada habisnya. 

Hubungan kekeluargaan, tak beda jauh dengan persaudaraan antar anak-anak sesama bangsa. Tak hengkang dimakan waktu, hingga menua dan selamanya.

Ibu pertiwi selayak Mbah, ibu dari bapak atau ibu orangtua kami yang bersaudara adik-kakak. Mbah adalah pemersatu dalam keluarga, semua anak-anaknya berkumpul saat lebaran dan hari-hari penting lainnya dalam suasana kekeluargaan yang kental. Meskipun, tak semua anak-anaknya, dalam hal ini orangtua kami, berlebaran karena berbeda keyakinan.

Menantunya Mbah, bapak-ibu kami tak semuanya dari suku yang sama, Jawa, tapi ada yang dari Batak, Makassar, dan Papua. Begitulah situasinya, kebersamaan  telah terbangun dalam keberagaman.

Indonesia terlahir dari kesepakatan, yang didasarkan atas cikal-bakalnya Sumpah Pemuda, 1928, hingga berbuah kemerdekaan di Tahun 1945. Tak ada kata bubar, jerih payah para pendahulu bangsa telah membuat komitmen untuk menyatukan suku bangsa dan agama dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Keberagaman yang dipersatukan dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu jua, menjadi perekat.

Sebuah keniscayaan tak terbantahkan, bahwa Indonesia yang terdiri dari 714 suku dan lebih dari 1.100 bahasa daerah, merupakan kekayaan berlimpah yang memungkinkan unggul dalam kiprahnya di dalam maupun luar negeri.

Utamanya adalah tiap-tiap penghuni ibu pertiwi haruslah punya perasaan sama, memiliki dan menjadi bagian dari Indonesia seutuhnya. Budaya lokal tetap dipertahankan sebagai jati diri, tetapi berbagai suku dan ras, haruslah bebas dan merasa nyaman tinggal di mana pun di wilayah Indonesia tanpa ada was-was karena perselisihan.

Terbayang sudah, dalam tatanan pemerintah yang kuat dan disegani, rakyat dari mana pun dapat berkiprah memajukan daerah, bukan melulu hanya di daerah atau tanah kelahirannya saja.

Sumber : http://unpar.ac.id
Sumber : http://unpar.ac.id
Tak Kenal Maka Tak Sayang, banyak dari generasi muda merasa jauh dan tak mengenal saudara-saudara sebangsa di luar pulau tempatnya berdomisili. Hambatannya, masalah jarak dan biaya, serta kurangnya peluang kerja di daerah lain, hingga bekutat susah-senang, makan tak makan di kandang sendiri.

Hapuskan hambatan jarak, dengan cara memudahkan transportasi antar daerah, antar pulau, antar provinsi dan bila perlu dengan  subsidi pemerintah yang besar agar biaya jauh lebih murah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2