Mohon tunggu...
Sri Rohmatiah
Sri Rohmatiah Mohon Tunggu... Penulis Buku "Kalau Berbeda, Lalu Kenapa?"

Photo

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Kenapa Jangan Resign? Ini Alasannya

11 Maret 2021   14:17 Diperbarui: 11 Maret 2021   15:31 96 9 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kenapa Jangan Resign? Ini Alasannya
Sumber gambar dari pixabay.com

Mendapakan pekerjaan bagus, gaji besar, itu dambaan para pria. Selain menunjukkan tanggung jawab, juga sebagai modal dasar mencari pendamping. Wanita akan lebih menyukai pria yang bekerja keras. 

Bukan hanya pria yang mendambakan pekerjaan bagus. Wanita juga banyak yang suka dengan tantangan. Mereka akan bekerja di kantor, perusahaan, karirnya pun tidak kalah dengan pria.

Karir dalam perusahaan tentu tidak didapatkan begitu saja. Untuk mencapainya harus kerja keras dan melalui proses. Dalam proses itu terkadang ada saja kerikil, halangan yang membuat kita ingin mengundurkan diri.

Di mana pun kita bekerja, hal-hal yang membuat tidak cocok mesti terjadi. Tidak mungkin dalam pekerjaan selalu lancar. Terkadang tidak cocok dengan rekan kerja atau bos. Namun, semua itu tergantung diri kita menilai dan menyelesaikannya.

Ketika aku bekerja di salah satu kantor. Workload sepertinya ringan, gaji juga ringan, tetapi aku merasa pekerjaan ini memiliki kemanfaatan yang besar. Tidak terlalu berisiko untuk seorang wanita jika dibandingkan bekerja di perusahaan besar.

Memiliki atasan yang bijaksana dan bisa menghargai adalah harapan semua karyawan . Tiga tahun pertama aku merasakan kenyamanan yang luar biasa. Lingkungan kantor sudah seperti keluarga. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari cara atasan menjalankannya.

Pada tahun keempat, beliau pensiun. Adaptasi dengan atasan baru membutuhkan waktu yang cukup lama. Perubahan-perubahan mulai dilakukan. Cara atasan baru memperlakukan karyawan pun berbeda. Seakan-akan memberi jarak, atas dan bawah. Hubungan yang tidak nyaman dengan atasan mulai tercipta.

Penuturan psikolog Sri Juwita Kusumawardhani MPsi kepada detik.com, Hal yang membuat orang memutuskan mengundurkan diri adalah hubungan dengan rekan kerja, termasuk dengan atasan maupun kolega yang kurang nyaman. Misal punya kebutuhan psikologis untuk diapresiasi namun tidak terpenuhi.

Benar apa kata Sri Juwita Kusumawardhani MPsi. Aku sempat ingin mengundurkan diri. Ibuku bilang, "Jangan!" 

"Kamu tidak akan memiliki jenjang karir. Di kantor baru akan memulai dari nol. Jika kita seorang profesional mungkin akan mudah mencari pekerjaan baru dan mendapat gaji besar. Sementara kamu baru memulai." pesan Ibuku.

Aku memikirkannya terus. Ibuku mungkin bukan pekerja kantoran, tetapi dia tahu tentang masalah dalam hidup. Masalah akan berlalu dengan waktu, jika kita mau memperbaiki. Sebagai anak baru memulai bekerja, belajar, belajar dan belajar.

Sebagai karyawan bersikap baiklah. Aku jadi ingat tentang Epos, energi positif. Bekerjalah dengan energi yang positif artinya kita bekerja dan digaji satu juta. Namun, kita bekerja seakan-akan digaji dua juta. Sisa kerja yang dinilai lebih sebagai tabungan kebaikan.

Bisa jadi di kantor itu gaji tidak cukup. Karena memiliki tabungan kebaikan. Jalan untuk cukup bahkan lebih datang dari tempat lain. Misalnya teman menawarkan projek besar tanpa mengganggu pekerjaan utama kita.

Fenomena resign bukan saja terjadi pada karyawan yang sudah berpengalaman. Anak millennial yang memiliki harapan besar terhadap pekerjaan juga bisa tiba-tiba resign. Ekspektasi memiliki gaji besar, kenyataan karena baru masuk bekerja, gaji pun sedikit. Sementara kebutuhan zaman sekarang yang tinggi. Dengan tergesa-gesa memutuskan resign. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN