Mohon tunggu...
Sri Amelia
Sri Amelia Mohon Tunggu... tentang saya
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

seorang pengamat

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Kementan Terlalu Pede Swasembada Bawang Putih 2021 Bisa On Track

24 Mei 2019   16:42 Diperbarui: 24 Mei 2019   17:01 0 1 0 Mohon Tunggu...
Kementan Terlalu Pede Swasembada Bawang Putih 2021 Bisa On Track
Sumber gambar: Republika.co.id

Alangkah indahnya jika pada 2021 nanti Indonesia bisa memproduksi sendiri seluruh kebutuhan bawang putih nasional. Bahasa kerennya, swasembada. Kementerian Pertanian optimistis bakal bisa mencapai swasembada bawang putih pada 2021.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Suwandi yakin pertanaman bawang putih lokal terus on track menuju swasembada tahun 2021. "Hingga nanti tahun 2021, kita perkuat dan perbanyak benih untuk kebutuhan di dalam negeri. Kita sudah hitung untuk kebutuhan 2021, membutuhkan luasan sampai 100 ribu hektar untuk pemenuhan kebutuhan benih dan konsumsi. Kurang lebih 60 ribu hektar saja untuk kebutuhan konsumsi," jelasnya, hari ini.

Tentu tidak ada yang salah dengan spirit target swasembada bawang putih. Suwandi mengungkapkan, rintisan swasembada tersebut dimulai pada tahun 2017 dengan luas pertanaman 1.900-an hektar. Semua hasil panen dijadikan benih untuk ditanam tahun 2018. Sedangkan pada tahun 2018, ditargetkan pertanaman di 11 ribu hektar. Hasil pertanaman 2018 kemudian dijadikan benih untuk pertanaman 2019 di lahan seluas 20-30 ribu ha.

Kalkulasi pemerintah menghitung pada tahun 2021 dengan luasan mencapai 100 ribu ha dan produktivitas rata-rata nasional mencapai 6 ton per hektar. Jika sudah mampu memproduksi demikian, kebutuhan benih dan bawang putih konsumsi sudah bisa dipenuhi di dalam negeri.

Perencanaan di atas kertas seringkali jauh panggang dari api. Kondisi aktual di lapangan berkata lain. Sudah 95-96% konsumsi nasional bawang putih dipasok dari impor, sebagian besar didatangkan dari China, celakanya harga di pasar dunia jauh lebih murah dibandingkan di pasar domestik.

ngimpi (meme editan pribadi, sumber gambar: https://www.tumblr.com )
ngimpi (meme editan pribadi, sumber gambar: https://www.tumblr.com )
Rujukan I

Sebagai gambaran, harga pokok produksi bawang putih di Tiongkok sekitar Rp 5 ribu per kg. Setelah tiba di Indonesia, di level konsumen komoditas ini bisa dihargai antara Rp20 ribu-Rp 60 ribu per kg. Hal ini tentu menjadi mainan empuk para importir, yang ujung-ujungnya bikin swasembada bawang putih sangat sulit tercapai.

Pemerintah berusaha menyiasati rendahnya lahan tanam bawang putih adalah dengan mewajibkan importir bawang putih untuk memproduksi 5% dari total pengajuan rekomendasi impornya. Sejak diluncurkan pada 2017 sampai awal 2019, sudah tertanam 5.500 hektare bawang putih oleh importir.

Kendati demikian, para petani tetap tidak tertarik untuk menanam bawang putih. Salah satu sebabnya adalah terbatasnya luas lahan panen untuk menanam bawang putih. Perlu diketahui, bawang putih di Indonesia umumnya ditanam di dataran tinggi dengan minimum 800-1.300 meter di atas permukaan laut. Pasalnya tanaman ini memerlukan suhu rendah dan panjang hari yang tepat dalam proses pertumbuhannya.

Rujukan II

Berbeda dengan di Indonesia yang hanya bersinar 8-10 jam sehari, di kawasan sub tropis sinar matahari bersinar terus sepanjang hari selama 17 jam saat musim panas. Faktor cuaca menghasilkan fisik bawang putih yang jauh lebih besar ketimbang produksi lokal, serta memengaruhi pertumbuhan varietas bibit.

Semua faktor diatas tentu memengaruhi keputusan petani untuk menanam bawang putih. Ongkos produksi tanam bawang putih dua kali lipat lebih mahal daripada impor dari Cina. Sebagai makhluk rasional, sulit rasanya mendorong petani untuk mengusahakan tanaman bawang putih.

ongkos produksi mahal (meme editan pribadi)
ongkos produksi mahal (meme editan pribadi)
Masih pede bisa swasembada bawang putih 2021 nanti?