Mohon tunggu...
Danny Rachman
Danny Rachman Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Just Ordiaary man with Wonderfull Life

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Sebuah Kursi Untuk Ibu Hamil

19 April 2014   09:00 Diperbarui: 23 Juni 2015   23:29 399
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Baru-baru ini saya sangat terkejut manakala isteri saya menunjukan postingan path temanya yang isinya status seorang wanita bernama dinda yang protes pada ibu hamil yang minta diprioritaskan tempat duduknya di kereta padahal dia sudah bersusah payah berangkat jam 5 subuh demi sebuah kursi.

Apa yang terjadi tak jauh berbeda sebenarnya dengan riuhnya perebutan kursi di DPR dan MPR, meeka ada yang merasa layak jadi pemimpin karena sudah berdarah-darah di partai dan ada juga yang tiba-tiba instan menjadi nomor 1 di partai tersebut,logikanya sama, di kereta dapat duduk adalah suatu kenyamanan yang berharga apalagi jarak tempuh yang  jauh, di pemilu rebutan kursi juga untuk kenyamanan, akan berasa nyaman bila  dapat menduduki kursi yang berbalut kekuasaan, apalagi didapatkan dengan green card dan cara super cepat....sedap sekali.

Kembali ke hal ibu hamil, D wanita yang memprotes merasa bahwa ibu hamil harusnya tidak diistimewakan hanya karena dirinya hamil dan serta merta bila dia duduk haruslah mengalah, D ini merasa ibu hamil tersebut kurang effort agar dia bisa nyaman duduk di kereta dan malah terakhir menyarankan untuk diam di rumah saja dududk berleha-leha ga usah kerja.

Pada Pandangan saya pribadi, D adalah tipikal wanita pekerja ibukota yang riuh rendah menghadapi masalah transportasi dan berjuang untuk karir, D saya duga masih sangat muda dengan self sentris yang kuat,tipikal penduduk ibukota yang sulit untuk mengalah.

Salahkah D? saya pikir itu akan menjadi normatif  kepada siapa yang memandang permasalahan ii, apabila di mata kaumnya D ini akan menjadi benar tapi apabila dalam pandangan saya yang bapak dua orang anak karenanya dipastikan pernah dua kali mengalami berdampingan dengan seorang Istri yang hamil ini adalah hal yang salah dan keliru, sangat tidak timur dan tidak ada hati nurani

Saya adalah seorang suami yang pencemas, untunglah pada kehamilan pertama isteri saya aah kantornya tidak berbeda jauh dengan area yang saya responsible,jadi bisa pergi dan pulang bareng, saya melihat perubahan fisik yang mencolok di isteri saya. Dikaji di bidang medis pun begitu, wanita hamil menampung janin yang tumbuh dan berkembang yang tentunya menuntut banyak hal dari tubuh inangnya, untuk tumbuh dan berkembang butuh bahan bakar nutrisi dan itu tentunya didapat melalui inangnya, untuk itu tentunya inangnya menjadi memiliki dua kebutuhan, oleh karenanya wanita hamil sangat rentan mengalami anemia, bisa malnutrisi, belum lagi menghadapi emesis, karena perubahan hormon yang bergerak luar biasa tentunya mempunyai dampak seperti emesis misalnya, yang sering terlihat ialah mual dan muntah, dan tentunya stamina pun juga tampak perbubahan, ibu hamil rentan kelelahan

Dari penjabaran di atas tentunya sudah dapat jadi alasan mutlak kenapa ibu hamil diistimewakan, karena ada dua jiwa dalam satu tubuh di diri ibu hamil, jadi si ibu hamil inilah bodyguard nya sang janin, jadi sangat wajar apabila wanita hamil dipersilahkan untuk duduk, apalagi di kereta yang jarak tempuh jauh dan berguncang. Lain halnya dengan si D, saya setuju usaha effortnya, saya setuju bahwa dia juga merasa pegal dan lelah harus berdiri lama,tapi sejujurnya untuk uuran tubuh seumuran D mutlak lebih kuat dari ibu hamil apabila memang dia dalam kondisi sehat wal afiat

Landasan itulah yang membuat saya memberikan pilihan pada isteri saya untuk mempertimbangkan berhenti dari tempat kerjanya, dengan tanpa mengecilkan arti penting dari karir yang telah dicapainya, karena pada kehamilan kedua saya lihat isteri saya tak kurang dari jam 4 kurang sudah terbangun dan menyiapkan segala hal kebutuhan seisi rumah, mulai dari saya, dirinya da anak pertama saya yang masih kecil, dimulai dari belanja bahan makanan khusus anak pertama saya, sampai pukul 6 dia harus berangkat ke tepat kerja, sebagai catatan untuk kehamilan kedua ini area saya berubah, dan berlawan sekali jadi sangat jarang saya bisa antar dan jemput, jadi isteri saya akrab dengan angkot yang harus 2 kali turun naik...

Saya tidak menyuruh, tapi memberikan pertimbangan sesuai apa yang saya jabarkan di atas, agar lebih fokus pada diriya dan dua buah hati kami,

Jadi ketika menilik pernyataan D, jelas D tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kondisi ibu hamil baik secara psikis dan fisik,

Apakah bisa disamakan seorang wanita pekerja singgle dibandingkan dengan ibu hamil? jangankan dengan ibu hamil dengan seorang ibu pekerja pun tidak dapat disamakan, D hanya mengurus dirinya sendiri (asumsi saya) sedangkan sang ibu hamil belum tentu, karena dia adalah motor penggerak rumah tangga di rumah sementara suami berjibaku mencari nafkah,memang ibu hamil dapat diberikan pilihan seperti yang saya berikan pada isteri saya, tapi ada beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut tidak dapat dilakukan, semisal D nantinya hamil dan di tempat kerjanya mempunyai karir yang menjanjikan, tentunya akan berpikir puluhan kali untuk berhenti, atau mempunyai kebutuhan untuk berkembang yang tinggi tentu tak akan menyerah karena hamil, dan ada juga yang paling terbanyak adalah alasan ekonomi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun