Mohon tunggu...
Sofi MiftahulJanah
Sofi MiftahulJanah Mohon Tunggu... Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Hukum Keluarga Islam

Khoirunnas anfauhum linnas

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Beristiqomah di Jalan Allah

25 Januari 2021   11:28 Diperbarui: 25 Januari 2021   11:54 94 0 0 Mohon Tunggu...

Kata Istiqomah sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita, bahkan kita sering mengucapkan kata Istiqomah tersebut akan tetapi banyak dari kita yang belum paham makna dari kata Istiqomah itu. Sifat ini selayaknya dimiliki oleh setiap muslim agar tidak mudah digoyahkan tantangan maupun halangan dalam memegang tali Islam dan menjalankan ajaran Islam.

Istiqomah menurut "Ensiklopedi Islam"  yang disusun oleh tim redaksi Ensiklopedi Islam, istiqomah adalah keadaan atau upaya seseorang yang teguh mengikuti jalan lurus (agama Islam) yang telah ditunjuk Allah SWT.

Adapun secara terminologi, istiqomah bisa diartikan dengan beberapa pengertian.

Pertama, Abu Bakar as-Shiddiq ketika ditanya tentang istiqomah menjawab, istiqomah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa atau siapa pun). Kedua, Umar bin al-Khattab berkata, istiqomah adalah komitmen terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu. Ketiga, Utsman bin Affan berkata, istiqomah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah. Keempat, Ali bin Abi Thalib berkata, istiqomah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban. Kelima, Mujahid berkata, istiqomah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah (meninggal). Keenam, Ibnu Taimiyyah berkata, istiqomah adalah mencintai dan beribadah kepada Allah tanpa menoleh kiri kanan.

Dalam Islam istiqomah sangatlah dianjurkan, hal itu sebagaimana tertuang dalam al-Quran yang menjadi pedoman utama dalam Islam, yakni terdapat sembilan ayat yang memuat bentuk kata jadian dari istiqomah, masing-masing Q.S. at-Taubah : 7, Q.S. Yunus : 89, Q.S. Hud : 112, Q.S. Fussilat : 6 dan 30, Q.S. al Ahqaf : 13, Q.S. asy Syura : 15, Q.S. al Jin : 16 dan Q.S. at Takwir : 28.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat terhadap apa yang kamu kerjakan."
(QS. Hud 11: Ayat 112)

"dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu."
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 99)

Pada ayat diatas, kita diperintahkan oleh Allah untuk selalu beribadah kepada-Nya secara istiqomah hingga ajal menjemput. Maka dari itu dibutuhkan sikap istiqomah yang teguh pendirian dalam tauhid dan tetap konsisten dalam beramal soleh dan dalam ayat di atas yang paling ditekankan untuk istiqomah adalah Nabi SAW, karena Nabi merupakan suri tauladan bagi umatnya. 

Menurut Quraisy Shihab dalam ayat ini Nabi diperintahkan untuk konsisten dalam menegakkan tuntunan wahyu Illahi sebaik mungkin sehingga terlaksana secara sempurna sebagaimana mestinya, adapun tuntunan wahyu itu mencakup seluruh persoalan agama dan kehidupan baik kehidupan dunia maupun akhirat. Dengan demkian perintah tersebut mencakup perbaikan kehidupan duniawi dan ukhrowi.

Pada hakekatnya perintah istiqomah bukan hanya untuk Nabi, Nabi hanya diperintahkan untuk memberikan contoh saja, hal itu sebagaimanaFirman Allah SWT di bawah ini:

"Katakanlah bahwasanya aku hanyalah manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya, dan kecelakan yang besarlah bagi orang-orang yang musyrik.(Q.S. Fussilat: 6).

Rasulullah SAW juga pernah ditanya tentang amal yang disukai oleh Allah. Beliau menjawab, "Amal yang paling disukai oleh Allah adalah amal yang dilakukan secara rutin walau pun sedikit." (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW bersabda:
"Setiap aktivitas ada saat-saat semangat untuk terus-menerus melakukannya dan setiap semangat ada saat-saat lemahnya. Barang siapa yang lemah semangatnya kemudian mengikuti sunahku maka sesungguhnya ia akan menang. Dan barang siapa meninggalkan sunahku, maka dia akan celaka." (HR Ahmad).

Pada hadist-hadist di atas memberikan solusi yang efektif dalam mengatasi futur dalam beribadah. Suatu tuntunan yang sangat jelas untuk membimbing kita agar selalu istiqomah dalam menjalankan ibadah. Selain itu, hendaklah ibadah dilandasi dengan kecintaan, takut, dan raja kepada Allah SWT. sehingga ibadah menjadi hal kebutuhan hidup dan bukan menjadi beban hidup.

VIDEO PILIHAN