Mohon tunggu...
Sofia Grace
Sofia Grace Mohon Tunggu... Lainnya - Ibu Rumah Tangga

Seorang ibu rumah tangga yang hidup bahagia dengan suami dan dua putrinya. Menggeluti dunia kepenulisan sejak bulan Oktober 2020. Suka menulis untuk mencurahkan isi hati dan pikiran. Berharap semoga tulisan-tulisan yang dihasilkan dapat memberi manfaat bagi pembaca.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Harapan Dinda (2 - Selesai)

26 Juli 2022   16:18 Diperbarui: 26 Juli 2022   16:23 83
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Ya, Dinda yang sekarang tidak lagi berpenampilan keren sebagaimana dulu semasa kuliah. Sahabatnya itu dulu rajin merawat kecantikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki dan selalu mengikuti tren busana terbaru. Mereka sudah sepuluh tahun lebih bersahabat dan tinggal di komplek perumahan yang cukup dekat setelah menikah. Asri-lah yang mengajak Dinda memasukkan Fany di sekolah yang sama dengan anaknya, supaya mereka dapat rutin bertemu lagi seperti dulu, sebelum Dinda mengetahui bahwa putri sulungnya menyandang autisme dan membutuhkan aneka terapi.

"Sudah berapa lama kamu tidak melakukan facial, Din?" tanyanya sembari menatap kulit wajah sahabatnya yang tampak kusam.

Yang ditanya hanya tertawa geli. "Entahlah, aku lupa. Mungkin sudah setahun lebih. Sulit sekali rasanya meluangkan waktu dan biayanya sekarang pasti tambah mahal. Lebih baik buat biaya terapi Viola."

"Nah, sedikit-sedikit Viola. Aku tahu kamu ingin memberikan yang terbaik untuk anakmu. Tetapi dirimu sendiri juga membutuhkan perawatan. Suamimu masih muda, Din. Hati-hati dia kecantol wewe gombel, lho,"goda Asri seraya menjulurkan lidahnya. Dinda kembali tertawa. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Asri yang memang suka berterus-terang. Tiba-tiba terdengar suara bel sekolah berbunyi, pertanda jam pulang sekolah telah tiba. Sepasang sahabat itu segera beranjak menuju depan pintu sekolah untuk menjemput anaknya masing-masing.

***

Sore harinya Dinda mengantar Viola les piano di lembaga kursus musik yang terbiasa menangani orang-orang berkebutuhan khusus. Ia duduk menunggu di lobby dan menyapa seorang perempuan setengah baya yang mengenakan seragam baby sitter.

"Halo, Sus," sapanya hangat. Sudah setahun ini dirinya selalu bertemu dengan perempuan itu setiap Selasa sore. Jadwal kursus Evan, pemuda berkebutuhan khusus berusia dua puluh satu tahun yang diasuh ibu itu, sama dengan jadwal kursus Viola.

Perempuan bertubuh tinggi besar dan berambut pendek rapi itu membalas sapaan Dinda dengan senyuman getir. Sorot matanya penuh kesedihan. "Ini terakhir kalinya Evan kursus di sini, Bu. Saya sekalian pamit. Mohon maaf bila selama ini saya ada kesalahan...."

Suster itu menyodorkan kedua tangannya mengajak bersalaman. Dinda terkejut sekali.

Sang suster bercerita, "Evan kan sudah ditinggal ayahnya meninggal dunia sejak masih berusia lima tahun. Lalu ibunya berjuang sendirian melanjutkan bisnis ayahnya. Kakak Evan yang waktu itu berusia delapan belas tahun disekolahkan ke Amerika. Hingga akhirnya ia pulang dan memperkenalkan kekasihnya, sesama orang Indonesia yang juga bersekolah di sana. Mereka menikah di sini dan tak lama kemudian kembali ke Amerika untuk bekerja di sana. Tapi dua tahun yang lalu mereka terpaksa kembali ke Indonesia karena ibu Evan sakit parah. Beliau memohon mereka pulang untuk meneruskan bisnisnya dan merawat Evan."

Tiba-tiba Dinda teringat akan suatu hal. "Bukankah sekitar setahun yang lalu ibu Evan meninggal dunia? Beberapa minggu sebelum Viola les di sini, kan?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun