Mohon tunggu...
Soemarda Paranggana
Soemarda Paranggana Mohon Tunggu... Lahir di Bangkal Sumenep Madura1987. Menulis puisi, cerita pendek, dan esai dalam bahasa Indonesia dan Madura. Mengelola situs di http://sastramadura.wordpress.com

"Katakan yang harus dikatakan sebelum dikatakan lain oleh kepentingan-kepentingan"

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Renung Hadis Manisnya Iman

30 Mei 2019   00:11 Diperbarui: 30 Mei 2019   01:44 0 2 1 Mohon Tunggu...

Selalu sadar dan mawaskah kita dalam segenap waktu yang kita lewati dengan, terus menggumamkan tanya: Siapakah yang lebih dekat dari ibu kita? Ibu yang mencintai kita sepenuh hati, bahkan tak hirau jika pun raga dan jiwanya dikorbankan hanya untuk kebahagiaan dan keamanan hidup kita?

Siapa yang lebih dekat dari bapak, saudara, teman karib? Lebih dekat dari baju, dari kulit, bahkan dari urat leher kita sendiri? Sungguh, betapa telah menjadi darah, menjadi semangat, menjadi gairah, pemompa energi dalam setiap hembusan nafas kita. Ya, Allah-lah degup nafas kita. Allah menjadi apa yang kita cintai sekaligus kita takuti. Dialah Sang Pemilik segala ruh; Allah yang, olehNya, kelahiran dan kematian ini ditentukan.

Kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Setelah dilahirkan, kita bahkan menolak untuk mati?

Maut. Ya, maut! Kita begitu dekat dengan ajal, sebagaimana begitu akrab kita dengan nafas yang keluar-masuk tubuh ini. Toh, jarang kita rasakan kehadirannya; jarang kita syukuri ketabahan nafas dan udara yang telah diberikan pada keberhargaan hidup ini.

Sungguh, pada hakikatnya, di dalam menempuh usia, kita adalah sedang sendiri dan terus-menerus dikepung oleh sepi. Kita tidak sedang bersama siapa-siapa. Alam dan segala isinya adalah bayangan dari ada-Nya; hadirNya. Ia tunjukkan kepada kita akan kehadiran kuasaNya dengan banyak jalan keadaan yang melingkupi hidup manusia-manusia di atas bayangan ini; di bumi yang, sebenarnya, tidak ada ini.

Lalu, kenapa ketika kita berpisah dengan ibu, bapak, teman, atau hal-hal yang kita cintai, kita seperti disayat-sayat sunyi, dipukul-pukul sepi? Bukankah kita sedang sendiri dalam kefanaan ini? Untuk lalu kelak kita benar-benar sendiri! Bahwa sejak saat ini, sesekali, kita mesti belajar merasakan kesendirian sebagaimana kadang, di saat kita merasa dalam keramaian, sepi pun datang memaksa dan, mau tidak mau, sebagian kita lalu menghayati keberadaan kuasaNya.

Dengan demikian, kita dituntut untuk senantiasa mandiri atas hidup ini. Kita hanya boleh bergantung dan mengaharap belas kasih Allah dalam setiap keadaan. Bahwa orang yang hebat, adalah mereka yang tidak bergeming ataulah goyah dalam keadaan apa pun dan di mana pun. Bagaimana pun tubuh, tangan, mata, telinga, hati, dan segenap nafas ini adalah milik Allah, dan kelak kita mesti siap dan rela saat Yang Memiliki hendak mengambil semua ini.

Lalu, apa saja yang telah kita persiapkan untuk meninggalkan kehidupan yang sementara ini?

Semoga kita semua senantiasa dalam hidayah dan inayahNya. Amiin..

Pare-Bangkal, 2018-2019