Mohon tunggu...
Immanuel Satya
Immanuel Satya Mohon Tunggu... Terjebak di rumah

Batin gelisah, dalam aksara semua tumpah

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Hitung-hitungan Asal Kerugian Ekonomi Akibat Corona

22 Maret 2020   13:44 Diperbarui: 22 Maret 2020   13:49 151 0 0 Mohon Tunggu...

Tulisan ini ingin menanggapi hitung-hitungan kerugian ekonomi yang disebabkan oleh pandemi Coronavirus Disease-19 (COVID-19) yang disajikan pada artikel Harian Kompas bertajuk "Indonesia Tak Akan Resesi meski Ekonomi Jakarta Dihentikan demi Tangani Covid-19". Saya merasa bahwa analisis dan perhitungan yang disajikan terjangkit masalah simplifikasi akut dan menyembunyikan masalah yang lebih besar. 

Bagi saya, masalah wabah ini lebih dari sekedar hitung-hitungan nilai produksi saja. Banyak hal lainnya yang tidak terukur dalam satuan moneter yang juga akan berdampak pada perekonomian nasional. 

Lebih dari itu, ilmu ekonomi, sebagai bagian dari rumpun ilmu sosial, juga perlu mempertimbangkan manusia dan kemanusiaannya sebagai objek kajian.

 Pada artikel tersebut, wartawan Kompas M. Fajar Marta menyebutkan:

Pada 2019, produk domestik regional bruto DKI Jakarta sebesar Rp 2.840,83 triliun. Jika dibagi per hari, PDRB Jakarta sebesar Rp 7,78 triliun. Apabila aktivitas ekonomi dihentikan selama dua minggu atau 14 hari, PDRB yang hilang sebesar Rp 108,9 triliun. Apa artinya? Meskipun PDRB menguap sebesar Rp 108,9 triliun, perekonomian Jakarta pada 2020 akan tetap tumbuh karena delta pertambahan PDRB Jakarta rata-rata Rp 200 triliun per tahun.

Membumikan ilmu ekonomi menjadi hal yang mudah dipahami awam salah satu aspek penting, entah bagi sarjana ekonomi maupun wartawan. Namun, perhitungan kasar seperti ini mengaburkan banyak aspek penting lainnya. Huruf delta dalam alfabet Yunani dalam matematika menyimbolkan perubahan nilai suatu hal antar periode waktu atau, dalam hal ini, antar tahun. 

Lebih umum kita kenal sebagai pertumbuhan ekonomi. Rp108,9 triliun dan Rp200 triliun yang disebutkan hanyalah nilai barang atau jasa yang dihasilkan. Banyak aspek lainnya yang tidak masuk dalam perhitungan kerugian apabila terjadi lockdown atau penguncian sementara. 

Asumsikan apabila memang benar DKI Jakarta akan kehilangan hasil produksi senilai Rp108,9 triliun akibat lockdown selama dua minggu, tentu pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta akan jauh lebih kecil dari Rp200 triliun akibat produktivitas yang hilang selama periode tersebut. 

Masalah lainnya yaitu risiko pemutusan hubungan kerja (PHK). Ilmu ekonomi melihat ketidakpastian sebagai potensi risiko yang dianggap merugikan. Apabila sebagian tidak keberatan dengan hilangnya potensi produktivitas, bagaimana dengan timbulnya potensi beban baru yang muncul? 

Penurunan aktivitas ekonomi akan mendorong perusahaan untuk menekan ongkos yang, salah satunya, mungkin akan berujung pada pemutusan hubungan kerja. Pemutusan hubungan kerja pun belum tentu akan menyelesaikan masalah perusahaan mengingat Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat severance pay yang tinggi.

Bagi karyawan yang kehilangan pekerjaan, kerugian yang dialami bisa beragam mulai dari kerugian materiil seperti hilangnya potensi pendapatan dan turunnya konsumsi, hingga immateriil berupa kekhawatiran atau putusnya sekolah anak akibat tidak bisa membayar SPP.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x