Zulfikar Akbar
Zulfikar Akbar Jurnalis

Bekerja di surat kabar olahraga | Pemilik tularin.com | Bukan perjaka |

Selanjutnya

Tutup

Media

Mencari Keburukan Kompasiana

18 Juni 2017   04:42 Diperbarui: 18 Juni 2017   04:47 25 8 6
Mencari Keburukan Kompasiana
Tanpa humor, dunia lebih cepat kiamat - Foto: Zulfikar Akbar

Jangan terlalu memaksa diri mencari kebaikan siapa pun jika tak siap dituding penjilat. Ya, tak masalah jika yang Anda jilat adalah sejenis es krim, tapi bayangkan jika yang terjilat adalah upil. Itu asin! 

Jadi, maaf jika kali ini aku mencari-cari keburukan Kompasiana sajalah, ya.

Soal trouble saat membuka link satu artikel, soal jumlah viewer, dan sejuta hal menjengkelkan itu bukan keburukan. Sebab jika itu buruk, sama artinya mereka di "dalam" sana buruk, dan jika mereka buruk; Kevin yang tinggi besar itu akan memilih berkarier sebagai Satpam sungguhan daripada Satpam gadungan.

Lalu apa keburukan Kompasiana?

Bahwa di sana banyak mereka yang bekerja di sana itu sebagian di antara tak lagi perjaka tak lama sejak pulang dari KUA. Itu keburukan mereka, menurut curhat sebagian kaum hawa.

Keburukan lain?

Mereka yang tak perjaka di Kompasiana itu sering mengipas-ngipas diri dengan buku nikah, tapi tak tergerak membantu seabrek perjaka di sini untuk mendapatkan buku itu. Itu keburukan serius.

Bagi laki-laki yang sebagian besar menjunjung tinggi kesetiakawanan, jika seorang teman berlimpah kenikmatan, sementara yang lain larut dalam kegelisahan; maka itu tak bisa disebut setia kawan. 

Bayangkan jika mereka berbulan madu, menenggak madu di bulan sampai istri berhenti datang bulan, yang lain hanya minum jamu tanpa pelampiasan hingga seribu bulan; inikah setia kawan.

Tapi bukankah saya yang menulis ini pun tak lagi perjaka? Tunggu dulu, ini bukan sedang berbicara tentangku. Topik kita adalah keburukan Kompasiana.

Soalku sudah selesai. Buku nikahku memang tak kalah dari buku nikah mereka. Walaupun di sini pun belum sepenuhnya usai, karena di Kompasiana sudah ada yang beranak empat, sedang aku masih beranak satu. Tapi kita jangan bicara itu, meskipun iya jika obrolan saru itu selalu saja seru.

Kalian tahu tidak jika di sini pernah ada kanal humor yang terjungkir, terdepak, tersepak; hingga mereka yang betul-betul memiliki selera humor tinggi terpaksa berpura-pura serius? Dan, Anda tahu, dunia lebih dekat dengan kiamat justru karena makin berkurangnya obrolan-obrolan bau humor.

Buktinya? Urusan bau, silakan Anda buang angin di kerumunan dalam ruang sempit, Anda akan tahu efek dari keringnya selera humor. Anda akan melihat langsung wajah-wajah yang menunjukkan hawa permusuhan dan mengajak perang. Maka kenapa, bau sesuatu akan menentukan efek tertentu.

Seperti bau humor tadi; tempat mereka diberangus, ruang mereka diobrak-abrik, dan sebagian penghuninya memilih angkat kaki sambil mencari sandal-sandal terbagus yang ada di masjid-masjid terdekat--maaf, sedikit menyinggung pengalaman pribadi.

Tapi kali ini, ya begini, aku mencoba menyuarakan suara hati mereka, jeritan pilu mereka, dengan bahasa bau-bau mereka. Sebab jika menulis saran dengan bahasa terlalu serius, mukaku lagi-lagi dituduh sang istri sebagai muka yang tak pernah tertawa--meski dia tahu aku jarang tertawa cuma untuk menyembunyikan gingsul yang gagal.

Kenapa saran untuk minta dikembalikan satu rubrik ditulis seperti tak serius? Dulu, di masa jombloku, aku sering nembak wanita dengan cara tak serius. Cuma dengan cara itu aku bisa mengelak jika tertolak; maaf, aku cuma bercanda.*