Mohon tunggu...
Siska Julianti
Siska Julianti Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Selanjutnya

Tutup

Hukum

Kejahatan Cyber: Kisah Sekar Dalam Melewati Cyber Stalking di Usia Remaja. Apakah Berbahaya?

15 Februari 2024   02:27 Diperbarui: 16 Februari 2024   00:04 58
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Media sosial menjadi platform terbaik dalam berkomunikasi jarak jauh dengan orang lain. Teknologi yang disediakan ini tentunya menjadi sebuah keuntungan bagi pengguna karena tidak perlu bersusah payah dalam menjangkau komunikasi dengan orang lain.

Namun, apakah media sosial yang digunakan sudah aman?

            Terkadang masih banyak pengguna yang merasa bahwa media sosial yang digunakan tidak benar-benar aman dalam menjaga privasinya. Kejahatan ini dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, seperti halnya yang dialami oleh Sekar (Nama Samaran), (20) ketika sedang menempuh pendidikan SMP disalah satu sekolah di Kota Bandung. Kejahatan media sosial yang dialami menjadi sebuah trauma serta peringatan bahwa media sosial tidak seaman yang dibayangkan. Banyak orang-orang yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan media sosial sebagai media untuk melakukan kejahatan.

            Tahun 2018 menjadi tahun terberat bagi Sekar (Nama Samaran),  (20). Pasalnya, ia harus merasakan kejadian yang membuatnya trauma hingga saat ini. Media sosial yang ia gunakan sehari-hari menjadi sebuah bomerang yang mengancam keselamatannya.

             Sekar mengatakan, saat itu ia baru saja menginjak usia 15 tahun,  di mana sangat aktif dalam menggunakan media sosial. Seperti yang kita tahu, menggunakan wajah dan nama pada profil media sosial bukanlah sesuatu yang aneh.

            Saat itu, tiba-tiba saja salah satu teman laki-laki (kita sebut saja namanya Arya) di sekolah menghubunginya lewat Line dengan menanyakan apakah ia bisa masuk ke grup angkatan sekolah. Tanpa pikir panjang, Sekar langsung memberikan nomor dari beberapa admin WhatsApp grup angkatan sekolahnya. Sebenarnya, Sekar bingung karena biasanya jarang sekali ada yang menghubunginya lewat Line. Namun, hal tersebutlah yang menjadi awal kejadian kelam yang dapat ia ingat hingga saat ini.

"Sebenernya waktu itu kaget ko ada yang nge Line, dia minta undangan masuk grup wa tapi karena bukan aku adminnya jadi langsung aku kasih nomor-nomor itu . Kebetulan waktu itu aku tau orangnya dan kasih nomornya pake screenshoot gitu," ucap Sekar, (12/02/2024).

            Sekar (Nama Samaran), (20) mengatakan, beberapa hari kemudian tiba-tiba saja banyak pesan masuk yang dan mengatakan bahwa Arya (Nama Samaran) merupakan seorang LGBTQ. Awalnya Sekar tidak ingin menanggapi pesan-pesan tersebut, namun lama kelamaan semakin banyak pesan yang masuk dengan isi pesan yang sama.

"Beberapa hari setelah itu banyak banget yang chat dan bilang kalo dia LGBTQ. Awalnya aku diemin, tapi lama-lama makin banyak gitu yang chatnya."

            Sebetulnya, sebelum kejadian ini terjadi ada sebuah berita yang menyebar di sekolah yang mengatakan bahwa Arya (Nama Samaran) merupakan seorang LGBTQ dan tergabung dalam sebuah komunitas. Namun, lambat laun berita tersebut menghilang begitu saja.

            Sekar (Nama Samaran) mengatakan bahwa Arya ialah orang yang pendiam namun masih dapat berkomunikasi. Beberapa kali Sekar pernah berbicara dengannya dan tidak mendapatkan kejanggalan apa pun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hukum Selengkapnya
Lihat Hukum Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun