Mohon tunggu...
SISKA ARTATI
SISKA ARTATI Mohon Tunggu... Penulis Pemula

Ibu rumah tangga, lagi seneng-senengnya menulis. Dua karya antologi lahir pada 2020. Bergabung di Kompasiana sejak Oktober 2020. Penulis bisa ditemui di akun IG: @siskaartati / @siska_mentorpaytren

Selanjutnya

Tutup

Diary

Maka Nikmat Tuhanku yang Manakah yang Kudustakan, Ry?

24 Januari 2021   11:48 Diperbarui: 24 Januari 2021   11:53 73 14 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Maka Nikmat Tuhanku yang Manakah yang Kudustakan, Ry?
Tangis haru penuh syukur (Ilustrasi gambar http://embunsayang.blogspot.com)

Assalamu'alaikum, Diary.
Empat hari lamanya kita taksua.
Kau tak kedinginan di sudut ruangan kamarku, kan?
Belakangan hari hujan terus mengguyur.
Semoga kau tetap hangat diantara kawan buku.

Diary, beberapa waktu lalu aku sempat melow, karena perasaan dan pikiran yang campur aduk, jelang kontrol kesehatan mata. Itu karena ketakutanku sendiri, membayangkan tahapan saat pengecekan detail pada retina.

Sabtu sore kemarin, adalah kontrol kedua pada dokter di klinik yang kudatangi. Paramedis menyambut dengan ramah, seperti biasa melakukan prosedur kesehatan dan administrasi. Lalu sesuai surat kontrol sebelumnya, mereka melakukan tahap pertama yaitu meneteskan obat pada kedua mataku, tujuan agar pupil mataku membesar.

"Ibu, seperti yang kita sampaikan sebelumnya, nanti akan terasa agak kebas, ya. Perlahan-lahan kemungkinan akan silau pada cahaya dan lebih buram penglihatannya."


Aku mengangguk, berusaha tenang dengan prosedur yang kujalani, sembari menggegam tangan suami, ia senantiasa menemaniku, Ry.
Semoga romantisnya gak cuma saat aku sedang begini.


Buram penglihatan? 

Aih, sudah dua pekan aku tak melihatmu dengan jelas, apalagi ditambah dengan obat tetes yang baru saja membasahi netraku? Aku hanya bisa terdiam dan menyulut dzikir di hati.

Oh, rupanya momen keterdiaman menunggu jeda reaksi obat, kami manfaatkan berbincang dari hati ke hati, Ry. Belahan jiwaku berbagi rasa dan kecemasan, tentang dirinya, diriku, dan anak semata wayang kami.
Tumben, sore itu aku menjadi pendengar yang baik untuknya. Taksepatah kata meluncur dari bibirku, selain linang airmata haru, plus memang obat tetesnya pedih, Ry!

Diary, hampir dua jam kami menunggu panggilan ke ruang dokter, dan tiga kali mataku di tetes oleh paramedis.
Saat sholat maghrib berjamaah, kupanjatkan doa pada Rabb-ku, agar kiranya Ia perkenankan harpan kami, dan dimudahkan segala urusan hari itu. Apapun keputusannya, semua adalah atas izin-Nya.

Aku baper, Ry, rasa haru menyelimuti, retina dan korneaku baik-baik saja. Alhamdulillah. Dokter mantap mengizinkan aku menggunakan alat bantu penglihatan, Ry. Rasa syukur meluncur, tangis bahagia pecah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x