Mohon tunggu...
Hasna A Fadhilah
Hasna A Fadhilah Mohon Tunggu... Freelance writer

Saya (moody) freelance writer. Disini untuk menuangkan unek-unek biar otak tidak lagi sumpek.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Trotoar, Oh Trotoar

6 Januari 2019   13:50 Diperbarui: 6 Januari 2019   14:03 0 2 1 Mohon Tunggu...
Trotoar, Oh Trotoar
(dok. pribadi)

Pagi itu, ketika akan berangkat kerja, saya dibuat kaget oleh adanya poster iklan rokok yang ditaruh serampangan di trotoar depan tempat tinggal saya, di dekat jalan raya Jatinangor, Sumedang.

Awalnya saya tidak ambil pusing, ya sudahlah kalau hanya satu. Eh.. tak dinyana, hanya berjarak beberapa meter kemudian poster dengan fondasi yang hampir memenuhi seluruh badan trotoar itu saya temui lagi. Dan ketika saya melihat jauh ke depan, poster tersebut ternyata jauh lebih banyak.

Errggh.. batin saya gusar, sudahlah ruas jalan bagi pejalan kaki sudah sempit dan tidak beraturan. Eh kini makin tambah runyam, karena adanya poster-poster yang dipasang sembarangan.

Belum lagi, trotoar di sini juga sudah multifungsi untuk parkir kendaraan. Jadi, jangan heran kalau resiko pejalan kaki sama tingginya dengan pengendara motor di jalan raya. Apalagi, kalau dari arah yang sama atau berlawanan, ada pengendara motor yang nekat naik trotoar, beuhhh.. makin susah untuk gerak!

Sayangnya isu seperti ini seringkali dipandang sebelah mata oleh pemerintah dan perusahaan rokok yang bersangkutan. Dari dalih bahwa presentase pejalan kaki di daerah sini tidaklah banyak, hingga pemaksimalan fungsi trotoar untuk promosi perusahaan yang akan menambah pendapatan daerah.

Tapi, plis atuhlah kalau mau promosi teh lihat-lihat tempat. Apa ya nggak bisa digantung atau disediakan tempat lain yang tidak mengganggu hak pejalan kaki?!

Karena keacuhan pihak-pihak tersebut, saya bahkan pernah menjumpai seorang tuna netra yang hampir tertabrak mobil karena kesulitan berjalan di trotoar. Untunglah, ia dapat menghindar tepat sesaat sebelum mobil itu menabraknya setelah ada bapak-bapak berteriak mengingatkan.

Padahal, saya dan beberapa orang yang berada tidak jauh dari lokasi sudah jantungan karena khawatir ia akan menjadi korban. Di Yogyakarta, persoalannya malah lebih bikin geleng-geleng kepala, trotoar yang sudah dibuat lebih bagus dengan jalur khusus bagi penyandang disabilitas, eh besi-besinya dicopoti oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab. Lah... orang-orang ini maunya apa ya?

Saya paham sih kalau orang Indonesia malas berjalan kaki, tapi bukankah menyediakan trotoar yang aman dan nyaman juga akan membantu menghindarkan kecelakaan, terutama bagi penyandang disabilitas yang hingga sekarang fasilitas publiknya sering dimarjinalkan di negeri ini. Dan, siapa tahu ketika trotoarnya jauh lebih bagus, mungkin akan lebih banyak orang yang mau jalan kaki?