Wanita Pilihan

Mengikis Stigma Negatif terhadap Perempuan Korban Kekerasan

5 Desember 2017   12:26 Diperbarui: 5 Desember 2017   12:32 577 2 3

"Saya sebenarnya takut bercerita, dan ini pertama kalinya saya berbicara mengenai pengalaman saya di depan umum. Bahkan kedua orangtua saya hingga saat ini tidak pernah saya beri tahu bahwa saya sebelumnya pernah dilecehkan... " ucap perempuan berambut panjang ini terbata-bata, "tapi saya percaya bahwa audiens yang hadir di acara ini tidak akan menghakimi saya, saya percaya bahwa kita semua mempunyai visi yang sama untuk mengakhiri tindak kekerasan terhadap perempuan."

Sore itu, saya menjadi salah satu saksi pengakuan terbuka oleh seorang korban pelecehan seksual. Selama bertahun-tahun, ia tidak pernah sekali pun membongkar kisah dapurnya hingga sekarang, saat pemutaran film dokumenter "Des femmes et des hommes" dan pencanangan gerakan minggu anti-kekerasan terhadap perempuan yang dimulai 25 November lalu di Kedutaan Prancis. 

Mendengar apa yang baru saja ia ucapkan, saya jadi ikut merinding. Butuh kekuatan yang luar biasa untuk mendorong seseorang seperti dia untuk mengaku dan berbicara pada acara publik. Jika kita bandingkan data globalnya, hanya 7% dari korban kekerasan dan pelecehan seksual di Indonesia yang bernain mengaku dan melaporkan kasus yang dialaminya. Persentase yang rendah ini saja sudah menyumbang sebanyak 3.945 kasus yang kini ditangani oleh 358 Pengadilan Agama serta 23 lembaga mitra Komnas Perempuan (Komnas Perempuan, 2017).

Sepulangnya saya dari acara tersebut, data yang mencengangkan ini kemudian saya paparkan di kelas. Kemudian hanya satu kata tanya yang meluncur kepada para mahasiswa, "why?"

Kenapa sih begitu sulit bagi perempuan untuk melaporkan apa yang dialaminya? Ketika pertanyaan ini saya ungkapkan di kelas. Beragam jawaban saya dapatkan, dari perasaan malu hingga kompleksnya proses pelaporan kekerasan seksual. Stigma perempuan setelah menjadi korban pelecehan pun semakin terpuruk. Dianggap tidak bisa menjaga diri hingga sudah tidak suci. 

Padahal posisi para perempuan ini adalah korban, sekali lagi, korban. Bukan pelaku! Beban berat yang dipikul inilah yang lalu menyebabkan banyak perempuan yang lebih memilih untuk diam dan memendam dalam-dalam pengalaman suram mereka. Sayangnya, terkuncinya mulut mereka justru menjadi boomerang tersendiri. Studi kriminologi mengungkapkan bahwa 20% kasus bunuh diri perempuan dipicu oleh kekerasan seksual yang dialaminya. 

Jadi bisa diandaikan bahwa mereka sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Efek domino kekerasan seksual ini bahkan seringkali berafiliasi dengan tekanan pada anggota keluarga terdekat, termasuk anak.

Melihat realitas tersebut, tentu kita perlu bergerak. Nah, masalahnya dari mana? Apakah cukup dengan membuat status mendukung kampanye anti-kekerasan seksual di sosial media? Tentu tidak. Perlu gerakan nyata dan mungkin yang paling sederhana adalah mari berhenti menggosip dan men-judge perempuan lain yang menjadi korban. Terlihat simpel, tapi ternyata tidak mudah. 

Peneliti kasus kekerasan terhadap perempuan menemukan bahwa depresi para korban seringkali diperparah oleh sentimen negatif yang mereka peroleh dari lingkungan sekitar mereka, terutama dari sesama perempuan. Ketika terjadi perselingkuhan, pelakor perempuan biasanya jauh lebih dihujat dibandingkan kaum lelaki. Kenapa? Karena perempuan dianggap kaum penggoda, tidak menutup aurat, dan bla bla bla. 

Padahal saya pikir kasus seperti ini bukan hanya melibatkan wanita saja. Keduanya, baik perempuan dan laki-laki saling berkontribusi dalam menciptakan hubungan dibalik layar ini. Oleh karenanya hendaklah kita lebih objektif dalam kasus pelecehan atau kekerasan seksual. Menyalahkan kaum perempuan tidak akan menyelesaikan masalah, tapi mendorongnya untuk menemukan motivasi hidup kembali, jauh lebih baik!