Mohon tunggu...
sintamilia rachmawati
sintamilia rachmawati Mohon Tunggu...

Books Lover. Social-Media Addict. Writer. Person Behind The Scene. Self-Development Enthusiast. Businesswoman Wanna-Be. http://duniasinta.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Kerlip Cahaya (Bagian 5-Tamat)

21 Juli 2011   18:03 Diperbarui: 26 Juni 2015   03:29 0 0 0 Mohon Tunggu...
Kerlip Cahaya (Bagian 5-Tamat)
131127137521626968

PEMANDANGAN TERINDAH PERTAMA: ADHELLA

Adhella berdiri di balkon kamarnya. Ia mengenakan gaun putih tanpa lengan dengan panjang selutut. Cantik sekali. Tadi pagi Tama mengabari, bahwa ia akan mengunjunginya sore ini. Tama ingin bertemu Mama dan Papa. Adhel agak bingung sebenarnya. Tapi ia kenal Tama. Tama yang misterius, Tama yang penuh kejutan, Tama yang sering tidak pernah memberitahu kemana akan membawanya pergi. Maka Adhel pun tidak bertanya untuk apa Tama kemari. Toh Tama adalah pacarnya. Tama boleh ke rumahnya kapan pun Tama mau.

Honda Jazz Tama memasuki halaman rumah Adhel. Tama turun dan menutup pintu mobil. Ia mengenakan kemeja lengan panjang, celana kain berwarna hitam, dan sepatu pantofel. Sangat rapi. Seperti seorang eksekutif perusahaan. Padahal Tama ‘hanya’ seorang pengusaha travel. Usahanya mungkin tidak terlalu besar, tapi sangat lancar dan Tama hidup cukup mapan dari sana.

Di samping pintu mobilnya, Tama berdiri diam. Menghela napas panjang. Ia mengambil dua buah cincin dari saku di dada kirinya. Dua cincin bertuliskan “Tama” dan “Adhella”. Tama tidak tahu apa yang akan terjadi pada kedua cincin ini. Ia datang menemui Adhel dan orangtuanya untuk memastikan.

Sekali lagi Tama menghirup udara untuk menenangkan diri, sebelum ia bergerak masuk ke dalam rumah. Tama tidak menyadari, sejak kedatangannya, Adhel memperhatikannya dari atas balkon. Kini Adhel tahu, cincin “Tama” tidak hilang. Cincin itu ada pada Tama. Entah mengapa, Adhel merasa lega. Meskipun ia ragu apakah cincin itu ada gunanya saat ini.

Orangtua Adhella menyambut kedatangan Tama dengan ramah. Keduanya tidak mengetahui masalah yang melanda Tama dan Adhel akhir-akhir ini. Yang mereka tahu, Tama dan Adhel adalah pasangan serasi. Adhel bahagia bersama Tama begitu pula sebaliknya. Orangtua Adhel merestui hubungan Adhel dengan Tama. Bagaimanapun, Tama adalah orang yang sopan, baik, bertanggungjawab, dan cukup mapan. Tidak ada alasan untuk tidak menyukai Tama. Tapi itu dulu, sebelum mereka tahu rahasia Tama, yang akan Tama kemukakan sebentar lagi.

Setelah berbasa-basi, Tama menuju pokok persoalan.

“Begini Om, Tante.. Hubungan saya dengan Adhella kan sudah lama.. sudah tiga tahun. Sudah cukup saling mengenal..”

Tama merasa agak gugup. Gugup menghadapi orangtua Adhella, gugup melihat Adhella dengan sorot mata yang bertanya-tanya.

“...Nah, maksud saya datang kemari.. adalah untuk... melamar Adhella..”

Adhel terperangah. Ia tidak menyangka Tama akan mengatakan itu. Bagaimana bisa Tama melamarnya di saat ia masih bingung akan masa depannya bersama Tama? Tetapi orangtua Adhel justru senang mendengarnya.

“Oo.. bagus itu! Kami sebagai orangtua sih setuju saja, ya, Ma?” ucap Papa menoleh pada Mama. Mama mengangguk sambil tersenyum. “Apalagi kami sudah kenal baik sama Nak Tama. Sudah percaya, lah..” lanjut Papa sambil terkekeh. Ia mengelus rambut Adhel yang duduk di sebelahnya, diantara ia dan istrinya.

“ Tapi sebelumnya Om, Tante.. ada yang perlu saya beritahukan pada Om dan Tante..”

Wajah senang Papa berubah menjadi serius. “Hm? Apa itu?”

Lalu mengalirlah kata-kata dari bibir Tama. Sebuah pengakuan bahwa ia mengidap hemofilia. Ia jelaskan bahwa hidupnya cukup ‘normal’ meski dengan beberapa keterbatasan dan ketergantungan selamanya pada obat dan rutinitasnya untuk tranfusi. Ia yakinkan kedua orangtua Adhel bahwa Hemofilia tidak akan menjadi alasan untuk tidak bisa membahagiakan Adhel. Mendengar penuturan Tama, Adhel merasa senang. Tapi...

“Cukup!” Papa memotong penjelasan Tama.

***

Di pintu rumah, Tama berpamitan pada Adhel. Ia lalu berjalan tertunduk menuju mobil dan membuka kunci dengan remote. Sesaat sebelum Tama membuka pintu mobil, Adhel berteriak, “Tama tunggu!”

Tama urung membuka pintu mobil. Ia berbalik. Adhel menghampirinya. Ekspresi Tama terlihat begitu tabah. Sementara Adhel..matanya memancarkan rasa sayang yang sangat besar. Dengan sangat perlahan, Adhel mendekati Tama. Terngiang kembali di benak keduanya, perkataan Papa,

"Sebelumnya kami mengucapkan terimakasih atas penjelasan Nak Tama. Kami mengerti, kami tak perlu khawatir dengan Adhel. Tapi sebaliknya, kami justru khawatir. Adhella ini anak kami satu-satunya...

Maaf Nak Tama, kami tidak bisa menerima Nak Tama sebagai suami Adhella... "

Adhella kini berdiri di hadapan Tama dengan jarak sangat dekat. Tama memandang wajah Adhel lekat, sedih karena merasa tak akan melihatnya lagi setelah malam ini. Adhel menatap mata Tama dalam-dalam.

Jemarinya menyentuh wajah Tama perlahan. Kemudian Adhel mengambil kedua cincin dalam saku di dada kiri Tama. Cincin bertuliskan “Adhella”, ia pasang di jari manis Tama. Sementara cincin bertuliskan “Tama”, ia pasang di jari manisnya sendiri. Persis seperti apa yang ia lakukan di taman waktu itu.

Papa, di dunia ini, ada hal-hal yang tidak bisa dipertimbangkan dengan akal dan logika. Karena itu ada hati, Papa...

Tama terharu. Adhel telah menerimanya. Menerima Tama dengan hemofilianya. Setelah penolakan Papa barusan, penerimaan Adhel ini bagai secercah cahaya dalam hidupnya. Perlahan, Tama mencium Adhel. Di atas mereka, langit malam memasang ribuan bintang yang berkerlap-kerlip menerangi keduanya.

TAMAT

(Catatan: Cerpen ini diadaptasi dari skenario dan film Flickering Light oleh Bicky Perdana Putra. Flickering Light yang diproduksi oleh 89 Project dapat diunduh di sini)