Mohon tunggu...
Silvester Detianus Gea
Silvester Detianus Gea Mohon Tunggu... "Menulis untuk mengingat, merawat, dan mengabadikan." [Silvester D. Gea]
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (YAKOMINDO, 2017), Menulis buku berjudul "Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias" (YAKOMINDO, 2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengikuti Zaman, Tanpa Kehilangan Identitas

28 Mei 2019   09:44 Diperbarui: 29 Mei 2019   16:14 111 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengikuti Zaman, Tanpa Kehilangan Identitas
(Foto/dok. pribadi)

Jagat media sosial masyarakat Nias akhir-akhir ini ramai, terkait dengan busana yang dipakai oleh peserta putri pariwisata Nias Barat. Menurut netizen busana tersebut tidak mencerminkan budaya masyarakat Nias. Oleh sebab itu netizen menyampaikan berbagai pendapat dan kritikan, ada yang pro dan kontra. 

Netizen yang kontra menyampaikan beberapa alasan mengapa busana tersebut tidak pantas dipakai dalam suatu event pencarian putri pariwisata antara lain; busana yang dipakai terlihat terbuka, berbeda dengan kebiasaan adat Nias, modifikasi yang tidak wajar sehingga tidak terlihat unsur keunikan budaya Nias, dan seharusnya dalam event itu budaya Nias perlu ditonjolkan. 

Sementera itu netizen yang pro mengatakan bahwa busana tersebut salah satu bentuk kemajuan dan perkembangan zaman. Saya sendiri berada diposisi netizen yang kontra. Berikut alasan mengapa saya berada diposisi netizen yang kontra;

Pertama, meskipun itu event pencarian putri pariwisata, namun tidak lepas dari budaya dan kearifan lokal masyarakat Nias, sebab hal yang tidak kalah penting yang perlu kita tonjolkan dan perkenalkan adalah budaya Nias, salah satunya busana.

Kedua, bicara tentang budaya adalah bicara tentang kebiasaan, termasuk kebiasaan berbusana. Kebiasaan berbusana masyakat Nias telah ditetapkan dalam ajaran lisan leluhur misalnya pepatah, hukum adat (goi-goi hada) yang ditetapkan dalam Fondrako. Oleh sebab itu, ketika sesuatu berada di luar kebiasaan maka komentar akan muncul dari berbagai penjuru.

Ketiga, kita boleh mengikuti perkembangan zaman, namun bukan berarti kehilangan identitas. Kita boleh keliling dunia, tetapi jangan lupakan kebiasaan leluhur. Meskipun ajaran leluhur tidak semua tertulis, namun mempunyai makna yang agung dan mulia.

Keempat, event pencarian putri pariwisata tentu dihadiri oleh banyak orang termasuk orang di luar masyarakat Nias. Jika busana yang ditampilkan tidak sesuai dengan budaya masyarakat Nias, maka wajah budaya masyarakat Nias di mata orang luar akan berbeda dan mungkin dipandang rendah. Kita harus bangga dengan budaya kita sendiri. Tidak ada seorang pun yang memelihara dan melestarikannya selain masyarakat Nias.

Kelima, ada netizen yang mengatakan bahwa itu pencarian putri pariwisata bukan pencarian putri adat. Pendapat ini tentu saja benar, namun tidak sempurna. Jika yang dilakukan adalah event pencarian putri pariwisata, bukankah itu moment penting untuk menampilkan budaya?. Mengapa daerah lain dapat memilih putri pariwisatanya dengan pakaian yang elegan, sopan dan tidak mengundang kritik?. Agaknya penyelenggara perlu belajar dari daerah atau kabupaten lain tentang budaya yang pantas ditampilkan.

Akhirnya, saya mau mengatakan bahwa nilai-nilai adat, norma-norma adat, termasuk norma berbusana masyarakat Nias perlu dilestarikan. Budaya Nias harus kita jaga agar tidak tergerus oleh zaman dan budaya asing. Budaya asing boleh saja kita terima dalam batasan yang wajar, sehingga kita tidak kehilangan identitas sebagai masyarakat Nias. 

Pepatah leluhur mengatakan, "Na sokhi ato wanou' ba na sokhi ato wame, awai si moro zi mate. Ba na lo sokhi wanou' na lo sokhi wame, solau tawuyu tou daro'o zi mate". Pepatah leluhur tersebut hendak meminta kita untuk bijak dalam bertindak, terutama berkaitan dengan budaya. Ya'ahowu.

VIDEO PILIHAN