Mohon tunggu...
Silva Ahmad F
Silva Ahmad F Mohon Tunggu... Guru - Penulis Pemula

Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-Kata (WS Rendra. Depok, 22 April 1984)

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Merawat Benih Nasionalisme Singa Pembela Ahlussunnah

26 April 2019   17:10 Diperbarui: 26 April 2019   17:13 310
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
KH. Marzuki Mustamar saat menjelaskan konsistensi kitab rujukan NU di Haul ke-30 KH. Ali Ma'shum Krapyak (Sumber: www.nu.or.id)

Beliau bernama KH. Marzuqi Mustamar, seorang ulama' kharismatik, 'alim dan nasionalis dari malang. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Malang, sekaligus ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur. Di pesantren dan di kalangan jamaah pengaosan, beliau biasa dipanggil sebagai "Abah" karena kedekatannya dengan para santri dan para jamaah.

Di tengah gencarnya paham radikalisme yang kian merebak di masyarakat dan merongrong negeri tercinta, beliau tampil sebagai Singa Pembela Ahlussunnah. Semangatnya berkobar. Dengan gencar berdakwah memperjuangkan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah yang diprakarsai KH. Hasyim Asyari melalui Jam'iyah Nahdlatul Ulama.

Bukan hanya sekadar mengokohkan tubuh NU beserta amaliyahnya, beliau juga menguatkan pondasi wathoniyah dengan semangat nasionalismenya, karena menurut beliau, tanpa keutuhan Indonesia, masyarakat muslim --khususnya NU- tidak akan mampu beribadah dengan tenang. Bahkan saking cintanya terhadap tanah air, beliau menggubah syair sholawat yang berisi doa untuk keutuhan bangsa dan negara dengan judul Sholawat Indonesia.

Sholawat Indonesia (Sumber: www.mediasantrinu.com)
Sholawat Indonesia (Sumber: www.mediasantrinu.com)

Kecintaan mendalam terhadap NU dan Indonesia, selalu beliau tanamkan pada para santri dan jamaahnya dalam pengajian umum dan rutinan. Spirit nasionalisme, beliau kokohkan dalam momen-momen penting seperti hari kemerdekaan dan juga hari santri nasional.

Di pondok pesantren Sabilurrosyad, pondok binaan KH. Marzuqi Mustamar sendiri, tiap tanggal 17 Agustus selalu menggelar upacara bersama para santri dan masyarakat. Yang khas, meskipun temanya kemerdekaan, tapi nuansa NU dan kepesantrenan masih erat melekat pada upacara tersebut. Hal ini bisa dilihat pada pakaian yang dikenakan peserta upacara: sarung, sandal dan kopyah. Pengibaran bendera pun ditambah dengan bendera Nahdlatul Ulama di sebelah bendera merah putih dengan diiringi sholawat badar.

Tak berhenti disitu, untuk menjalin komitmen kebangsaan para santri dan jamaah di acara sakral kemerdekaan itu, dibubuhkanlah panca setia santri ciptaan KH. Marzuqi Mustamar yang diawali syahadatain dan hadits nabi berbunyi "hubbul wathon minal iman". Setelah itu diikuti dengan 5 poin penting yang wajib tertanam dalam diri santri-santrinya. Yang pertama, bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Yang kedua, bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah. Kedua poin ini sama dengan kesaksian seorang muslim dalam lafad syahadatain.

Pada poin ketiga, yaitu kesaksian bahwa Islam adalah agama yang diridhoi Allah. Sebuah keyakinan mendasar yang dimiliki umat islam pada umumnya. Kemudian diiringi poin keempat, bahwa NU selalu di hati. Dan terakhir, adalah komitmen bahwa NKRI harga mati.

Kelima poin inilah yang selalu diikrarkan KH. Marzuqi Mustamar di tiap memperingati kemerdekaan negara Indonesia, diikuti oleh segenap hadirin yang terdiri dari berbagai elemen: masyarakat, santri, masyayikh, tokoh masyarakat. Sebentuk rangkaian komitmen yang menjaga keseimbangan Islam, Nahdlatul Ulama, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam buku Mengapa Harus NKRI karya M. Faisol dkk. disebutkan, bahwa bagi kiai kelahiran Blitar ini, nasionalisme sangat penting karena beberapa faktor: yang pertama, karena negara Indonesia diperjuangkan mati-matian oleh para pejuang yang juga terdiri dari para ulama, syuhada dan santri. Maka orang yang tidak menghargai negara Indonesia berarti dia tidak menghargai jasa para pejuang terdahulu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun