Mohon tunggu...
Siko Wiyanto
Siko Wiyanto Mohon Tunggu...

Seorang hamba Allah, seorang suami, dan seorang PNS.

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Cara Saya 'Menjebol' USM STAN

10 Juni 2013   20:33 Diperbarui: 24 Juni 2015   12:14 0 2 3 Mohon Tunggu...

Pagi tadi saya baru keluar dari pintu gerbang belakang kampus STAN. Seorang Bapak membonceng seorang putrinya langsung menghampiri para satpam yang berada di posko. "Pak, kalau mau daftar STAN ke mana?" tanya Bapak itu. Saya hanya lewat dan tidak memperhatika pembicaraan lebih jauh. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara merupakan sekolah kedinasan di bawah Kementerian Keuangan. Setiap mahasiswa di sini memiliki cerita masing-masing. Ada kisah di setiap perjuangan untuk masuk ke sini. Begitulah kami menyebutnya sebagai perjuangan. Bagi saya, masuk ke sini bukan tanpa halangan dan rintangan. Saya mengenal STAN dari Bapak. Tahun 2001, saat saya baru saja pulang dari pemberian penghargaan tiga lulusan terbaik SMP pada waktu itu. Saya menduduki runner up dan sohib saya Dwi Wibowo (Sekarang bekerja di Direktorat Jenderal Pajak Kemenkeu). Bapak waktu itu semangat sekali ingin saya masuk STAN. Masih bergumul dalam benak saya bahwa STAN itu sekolah keren. Ternyata Bapak mendapatkan inspirasi dari salah seorang Om saya, Rahmat Mulyono (sekarang menjadi Kepala Seksi di Direktorat Akuntansi dan Pelaporan, Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu). Setelah itu, saya tidak terlalu obsesi dengan yang namanya STAN sebenarnya. Saat masuk SMA, guru-guru mulai antusias menceritakan SIPENMARU dan UMPTN. Saya saat itu masih culun dengan istilah-istilah itu. Konon di keluarga saya hanya Bapak yang lulus SIPENMARU di IKIP JAKARTA (sekarang Universitas Negeri Jakarta). Saat itu saya kehilangan orientasi belajar, bahkan-mungkin-orientasi hidup. Akhirnya ada seseorang yang "menjerumuskan" saya kedalam jurang kebenaran dan keindahan Islam, ROHIS SMA N 1 Karanganyar. Di sana saya ketemu banyak ikhwah yang luar biasa. Rata-rata jadi bintang kelas. Sedangkan saya sendiri merasa ber-"bintang tujuh" (pusing) dengan pelajaran di kelas. Entah kenapa, saat itu saya sempat mengalami yang namanya "kehilangan kecerdasan" karena galau level kelurahan stadium 9. Barangkali hanya saya yang nilai akademiknya paling ancur diantara para anggota Rohis. Setelah ikut berbagai kegiatan, dapat nasehat ini-itu dari para senior dan rekan-rekan organisasi, saya jadi move-on. Saya kagum dengan teman-teman alumni ROHIS yang diterima di perguruan tinggi negeri dengan jurusan favorit seperti teknik mesin, teknik elektro, kedokteran, farmasi, dan STAN. Senior di ROHIS yang masuk STAN diantaranya adalah Mas Swandoko dan Mas Shiddiq Gandhi. Keduanya sekarang bertugas di Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu. Suatu ketika saya  bersama teman-teman sedang memandangi halaman bawah karena kelas masih kosong, guru belum datang. Tiba-tiba sekelebat manusia berjaket hitam naik motor Honda masuk ke halaman sekolah. Jaket hitam itu berwarna kuning bertuliskan "STAN".  Dalam hati saya berguman "Betapa enaknya bisa masuk STAN. Pingin saya masuk STAN." Pria tadi Mas Eko, atau sering kami menyebutnya Mas Eko Gundul. Setahun berlalu dan saya akhirnya masuk ke kelas 3 IPA. Sama sekali sebenarnya tidak relevan kalau dipaksakan untuk masuk STAN. Saat itu orientasi utama saya adalah SPMB-Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SNMBTN era 2004). Tulisan mengenai "Cara Saya menjebol SPMB/SMNBTN" akan saya tulis kemudian. Saya ingin diterima di fakultas teknik. Saat itu target umum anak-anak IPA untuk ikhwan/cowok itu teknik dan untuk akhwat /cewek itu kedokteran. Saat itu saya ingin ambil teknik dan masih terpikir untuk masuk STAN. Itu karena keinginan orangtuan, terutama Bapak yang sangat menggebu-gebu.Saya sering mondar-mandir ke warnet untuk download soal-soal USM STAN yang saat itu masih sangat terbatas. Kecepatan internet saat itu membuat saya sering-sering beristighfar. Bagaimana tidak, membuka sebuah website saja butuh waktu 5-10 menit dan download satu buah file PDF butuh waktu hingga 1 jam (sekarang saya buka file serupa kadang hanya dalam satu kedipan mata, hehe). Saya ngeprint soal-soal USM STAN yang tentu saja tidak sedikit biaya yang saya keluarkan. Sebelumnya saya memfotokopi buku kumpulan soal STAN dari buku fotokopian juga karena tidak ada lagi yang asli. Buku kumpulan soal itu akhirnya tidak pernah saya buka karena soalnya sudah tidak relevan. Saat di warnet saya ketemu Mas Margono (saat ini beliau bertugas di Direktorat Jenderal Pajak Kemenkeu). Kemudian sebelum berpisah saya sampai sempat berucap, "Mas, tolong doanya biar bisa seperti Njenengan (Anda-jawa)." Kemudian di kelas ada yang menawarkan buku USM STAN terbaru. Tanpa pikir dua kali langsung saya pesan. Apapun saya lakukan agar bisa lulus USM STAN. Harganya cukup relatif mahal karena menggerus cukup banyak pos anggaran uang saku saya waktu itu. Tapi tak apalah, ada harga yang harus dibayar dari setiap kesuksesan. Saya pelajari soal-soalnya. Tidak terlalu sulit seperti soal SPMB, tapi... waktunya cukup singkat. Harus bisa mengerjakan 300 soal dalam waktu 300 menit. Artinya kita harus bisa mengerjakan satu soal satu menit. Saya kemudian berpikir, bagaimana bisa mengerjakan semua soal ini dengan cepat, tepat, dan akurat. Saya menyadari tidak semua soal bisa saya kerjakan sebenarnya. Kemudian saya menimbang-nimbang yang sekarang ini saya mengenalnya sebagai teori pareto optimum (aturan 80:20). Dari 100% soal  yang saya hadapi, ada 80% soal yang bisa saya kerjakan. 80% itulah yang saya cari dan 20% akan saya kerjakan berikutnya. Rahasia I: soal STAN itu setiap tahun mirip tipe dan jumlahnya. Deviasi tipe soal setiap tahun hanya sekitar 5% saja. Maksudnya 5% dari soal USM STAN tahun terakhir. Kemudian saya lakukan simulasi/try out mandiri dengan Buku USM STAN dan hasilnya, masih belum memuaskan. Saya kemudian ikut try out yang diadakan Ikatan Mahasiswa Karangayar STAN. Hasilnya ternyata tidak begitu memuaskan, saya masih di peringkat 20-an dari yang ikut. Sedangkan saya hanya bisa mengerjakan 40% saja. Menurut saya, itu masih belum cukup untuk menembus USM STAN yang sebenarnya. Saya harus melakukan evaluasi belajar. Saya buka lagi soal USM STAN, saya perkaya dengan latihan buku-buku psikotest yang ternyata soalnya hampir sama. Saya analisis lagi, apanya yang kurang. Apa salah saya. Bagaimana cara mengerjaan dengan lebih baik. Saya galau..... Kegalauan itu membuat saya belajar sampai larut malam, bangun sebelum shubuh. Habi sholat shubuh belajar sampai hampir lupa mandi, sarapan dan berangkat sekolah. Saya belajar untuk menghadapi SPMB dan USM STAN secara  simultan dan berkesinambungan (seperti istilah pakar ekonomi sekarang, hehe). Sampai akhirnya saya ikut Try Out USM STAN untuk kedua kalinya di GOR Manahan Solo yang diselenggarakan oleh Bimbel khusus USM STAN dan STT TELKOM, Iwan*sari. Saya tidak tahu Bimbel macam apa itu, tapi yang penting ikut tryout dengan nebeng mobil sohib saya Daru Setiawan (Sekarang alumni STT Telkom). Pulangnya saya agak puas setelah berhasil menjawab sekitar 75% dari soal yang ada. Setelah ujian SPMB saya baru intens belajar USM STAN lagi, saya buka kembali buku USM STAN, saya lakukan simulasi sampai 4 kali. dan hasilnya saya bisa mengerjakan 93%-97%. Setelah itu saya merasa 'cukup', saya siap tempur. Juli 2004, Menuju hari H bukan tanpai main repotnya. Alhamdulillah, ane dibantu Mas Sofyan Hadinata (Sekarang jadi dosen Akuntansi di FEUNS). Kami berangkat bersama ke Jogjakarta sejak pukul 07.00. Jarak Jogja-Kabupaten Karanganyar +/-70 KM dan ditempuh dengan waktu 1,5 jam dengan naik motor. Saya menginap di rumah saudara Mas Sofyan. Sore harinya kami sepakat, sebagai pelaksanaan best practice, akhirnya cek TKP ke STIE Kerjasama (STIEKERS) Yogyakarta yang runtuh pada 2005 silam karena gempa di Jogja :( Saya mencari tempat duduk sesuai nomor Bukti Peserta Ujian (BPU). Saya cuma bisa mengehela nafas dalam-dalam. Pasalnya saya harus duduk di tribun penonton GOR STIE STIKERS. Tidak nyaman memang, namun ujian harus dijalani dan perjuangan baru akan dimulai. Malam H-1, Mas Sofyan tampak asik belajar review soal dan saya sebenarnya sudah 'bosen' (ceileh boseennnn :P). Akhirnya saya ikut-ikutan sebentar, cuma 30 menit. Pagi harinya setelah sarapan kami meluncur ke lokasi. Karena sudah cek TKP jadi tidak was-was dan cemas. Saya sudah cek amunisi yang antara lain sebagai berikut: 1. Pensil 6 buah, kedua ujung saya raut untuk jaga-jaga tumpul di tengah ujian. Bukan untuk dijual lagi :) 2. Bukti peserta ujian dengan foto saya yang ganteng (tidak cantik) 3. Penghapus boxy hitam yang sudah saya potong jadi dua  sebagai manajemen risiko jika yang satu hilang, satunya lagi masih ada. 4. Bolpen dan tip eks jika sewaktu-waktu dibutuhkan. 5. Jam tangan, waktu itu saya belum punya HP dan HP pun ternyata tidak dibolehkan. 6. Tisu secukupnya, tangan saya suka keringetan. 7. Papan melamin karena saya sudah tahu harus duduk di tribun. 8. Rautan pensil, jika ternyata ada force majeur semua pensil saya patah. Akhirnya saya duduk dengan tenang di tengah-tengah keributan panitia. Soal saya dapatkan dan akhirnya, sedia, siap, yak!! saya mengerjakan soal dengan konsentrasi 120% sambil berguman dalam hati. Saya harus lulus, whatever! pokoknya! saya harus lulus!!!!!!! dan saat 10 menit terakhir saya mendenger sesuatu. Gergaji mesin terdengar dari sudut 45% di luar gedung. Ini apa panitianya ga kasih tahu kepada pak tukangnya. Hadeh, saya kan ga bisa konsen kalau sudah berisik (pengen banget lempar pot bunga diikat dengan granat). ngeeeengggg!!!!! benar-benar pengen marah dan untungnya kejadian itu cuma 5 menit. saya sudah agak kacau dan mencoba memeriksa lagi jawaban saya. Saya masih bingung dengan vocab bahasa Inggris, sinonim dan antonim. Mau dikerjakan dengan metode penalaran tidak bisa, SMART Solution tak bedaya. Akhirnya saya menggunakan metode paling ampuh, INTUISI!haha. Saya pilih yang 'kayaknya' pas. Persentase pengerjaan 87% dan saya dengan agak sedih menyerahkannya kepada pengawas ujian. Saya cukup puas meski tidak puas banget. Saya tidak seyakin seperti saat ujian SPMB. Saat di rumah saudara Mas Sofyan, saya sudah males banget. Mas Sofyan membahas soal-soal yang kami kerjakan tadi. Saya sebenarnya pengen tutup telinga saja. Sebenarnya soal-soal yang sudah dikerjakan waktu ujian tidak perlu dibicarakan lagi, tidak ada gunanya. Akhirnya saya ikut membahasnya dan ternyata beberapa soal ada yang salah. Penyisihan soal yang salah sekitar 5%, saya cuma manyun aja. Kami meninggalkan Jogja saat hari H sekitar ba'da Dhuhur. Jogjakarta memang kota sejuta kenangan (melow dikit haha). Dua kali menjadi tempat ujian masuk PTN. Setelah melewati Kota Sukoharjo, saya dan Mas Sofyan kehujanan. Kami lalui hujan itu dengan pasti (pasti basah). sampai akhirnya motornya masuk ke dalam lubang yang tertutup genangan air "brak!". Kami putuskan untuk berteduh di sebuah rumah kosong. Kami akhirnya menyadari bahwa ban yang tadi masuk ke lubang bocor. Mungkin karena hantaman pelek dengan aspal dan akhirnya ban dalamnya sobek. Sebuah diagnosis sederhana. Langit mulai gelap disertai gerimis dan jalanan juga sepi. Pas banget untuk syuting film horor. Setelah tanya orang-orang akhirnya kami harus berjalan 3 km untuk menemukan tukang tambal ban yang 24 jam. Tempatnya pun di pelosok desa, jauh dari jalan raya. Akhirnya saya sampai dicari Bapak, dan cerita bla..bla..bla.. mengenai 'musibah' kami itu. Bapak dengan senyum berkata, "mungkin ini pertanda bakalan lulus Nak." Saya berguman, "aamin". Sampai rumah masih penasaran dengan soal bahasa Inggris yang saya kerjakan dengan ajian 'pengawuran' itu. Ternyata jawaban saya betul. Senangnya hatiku :) Semarang, 13 Agustus 2004. Politeknik Ilmu Pelayaran,setelah saya menjalani tes kesehatan dan wawancara untuk masuk Akademi Meteorologi dan Geofisika (setelah saya ketahui belakangan, kampusnya tetanngga dengan STAN, hanya beda kecamatan). Sebai filler di cerita ini, setelah menjalani pemeriksaan fisik dan lab, akhirnya masuk ke ruang wawancara. Berbagai pertanyaan muncul dari dua pewawancara. "Mas, selain daftar di sini, daftar mana?" Saya jawab, "Teknik Elektro UGM Pak". Kemudian Bapak tadi melanjutkan pertanyaan, "jika Mas Siko diterima di UGM juga mana yang akan diambil?" Tanpa merasa bersalah dan khawatir, "Saya pilih UGM Pak!". Pewawancara kemudian senyam-senyum dan melanjutkan pertanyaa." Jadi Mas tidak diterima bagaimana?" Saya jawab, "Ya tidak apa-apa, kalau ada yang lebih baik dari saya." Kemudian saya keluar dari ruangan dan pulang ke rumah nenek di Jatingaleh, Semarang. Saat itu memang saya sudah tahu bahwa nama saya ada di koran pada pengumuman SPMB. Saya nothing to lose saja. Setelah Jumatan, saya mau tidur. Tiba-tiba bibi saya mendatangi saya dan berkata "selamat Dek Siko, diterima di STAN Jurusan Anggaran. Baru saja Bapakmu telepon dari Jogja." Terus terang, saya pingin nangis. Bukan hanya karena saya diterima di STAN. Melainkan juga bapak sendiri yang datang jauh-jauh dari rumah ke Balai Diklat Keuangan di Kabupaten Karanganyar ke Yogyakarta. Saya tertegun. Meski usaha saya sudah penuh, semua itu atas pertolongan Allah. Tidak ada daya dan upaya kecuali pertolongan Allah. Setiap perjuangan selalu ada harga yang harus dibayar. Harga itu tidak harus berniai uang, tapi juga waktu, perhatian, semangat, komitmen, dan pantang menyerah. Tidak ada yang mustahil jika Allah sudah berkehendak. Tidak peduli dengan masa lalu dan latar belakang Anda. Setiap orang yang ingin masuk STAN sebenarnya sudah punya hak untuk masuk STAN. STAN tidak memandang Anda kaya atau miskin. STAN tidak memandang fisik dan status sosial Anda. Jangan takut dengan pesain. Pesaing tidak menjadi masalah selama Anda mengerjakan soal dengan sebanyak-banyak dengan tingkat kebenaran yang meyakinkan. Fokuslah pada diri Anda.Seberapa besar keinginan Anda untuk diterima di STAN? Sudah berapa jam kah Anda sisihkan untuk belajar/latihan? Sudah kah Anda belajar dari orang-orang yang berpengalaman? Sudahkah Anda ikut Try Out USM STAN? Kisah ini hanya sekelumit cerita seseorang yang biasa-biasa saja. Jika saya bisa, maka Anda juga bisa.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x