Mohon tunggu...
Sigit Eka Pribadi
Sigit Eka Pribadi Mohon Tunggu... #Jadikan pekerjaan itu seni dan hobi#Email: vicksigit@gmail.com#Dulu sempat membidangi Humas dan Media#Sekarang Membidangi Seni dan Hiburan#

#Menulis sesuai suara hati,kadang sangat kritis,tapi humanis,berdasar fakta dan realita#Kebebasan berpendapat dijamin Konstitusi#Jangan pernah membungkam#

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Jokowi dan "Bebek-bebek" Politik

27 Oktober 2020   02:16 Diperbarui: 27 Oktober 2020   07:38 1163 35 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jokowi dan "Bebek-bebek" Politik
Ilustrasi gambar Presiden Jokowi | Dokumen Portalislam.id

Sejatinya tujuan politik bukanlah ajang berebut ataupun saling merengkuh dominasi kekuasaan saja.

Para politikus juga jangan bermental "pembebek politik" belaka: Berperilaku sebagai "para bebek-bebek politik" yang selalu berupaya menghalalkan segala cara hanya demi memuluskan ambisi kepentingan politiknya masing-masing, dalam rangka mewujudkan dominasi kekuasaan dan pengkultusan terhadap para tuan pemimpinnya.

Namun sayangnya, ternyata ruang-ruang politik di negeri ini justru menunjukkan gejala seperti di atas, ruang-ruang politik di negeri ini justru dibanjiri para politisi bermental "pembebek." 

Menempuh jalan politik hanya demi mewujudkan dominasi kekuasaan belaka, ikut sana ikut sini, mau saja digiring sana digiring sini, jilat sana jilat sini, tergantung mana yang kuat dan menguntungkan, mana yang bisa memberikan jatah, baik itu kedududukan ataupun kekuasaan.

Pihak yang menang dalam perebutan kekuasaan akan selalu berupaya menghalalkan segala cara demi melanggengkan kekuasaannya, dan selalu menekan pihak yang kalah dengan segala cara agar tidak merongrong kekuasaan yang menang.

Pihak yang kalah akan menumbalkan rakyat demi merongrong yang menang, padahal kepentingannya sama saja untuk merebut dominasi kekuasaan, bila pun nantinya menang akan berlaku sama saja karena semuanya hanya berlandaskan pada dominasi kekuasaan belaka.

Dan kondisi ini berlaku terus, karena orientasi politiknya bukanlah atas nama demokrasi, tapi atas nama kepentingan politik dan berebut dominasi kekuasaan.

Inilah kiranya mental politisi yang sebenarnya cenderung apatis pada etika politik, apatis pada politik kebangsaan dan pragmatis pada politik elektoral, tercokok hidungnya karena kepentingan dan selalu ikut kemana saja digiring sesuai komando para tuan pemimpinnya masing-masing demi merengkuh dominasi kekuasaan.

Sehingga yang terjadi adalah, dengan di bawah komando para tuan pemimpinnya masing-masing, karena sudah satu suara terhadap kepentingan politik, maka suatu ketika harus menempuh jalan berkoalisi justru jadi sarana untuk saling bersekongkol dan kongkalikong dalam rangka membangun dominasi kekuasaan di legislatif, eksekutif bahkan yudikatif yang pada akhirnya berujung pada menguatnya cengkeraman oligarki politik.

Bahkan, kemanapun digiring ataupun dikomando oleh para tuan pemimpinnya, terkhusus mereka para politisi yang pada akhirnya sudah kebagian jatah menduduki kursi kekuasaan di legislatif (DPR) yang berkoalisi pro pemerintah dan para politisi yang menduduki kursi kekuasaan di eksekutif (Pemerintahan) dari koalisi pro pemerintah akan selalu membebek sesuai kepentingan politiknya.

Sementara pihak yang minoritas, karena kepentingan politiknya tidak sejalan, akan semakin ditekan, dibatasi, dan dikebiri ruang geraknya, tak mampu berbuat banyak karena kalah kekuatan politik, sehingga satu-satunya jalan untuk bisa mengimbangi dominasi kekuasaan yang menang adalah menumbalkan rakyat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x