Mohon tunggu...
Sigit Eka Pribadi
Sigit Eka Pribadi Mohon Tunggu... Menulis untuk berbagi

Jadikan pekerjaan itu seni&hobi.

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Pilihan

Harapan Istri di Ramadan Ini, Semoga Bahan di Pasar Turun Harga

6 Mei 2019   18:44 Diperbarui: 7 Mei 2019   11:51 0 9 5 Mohon Tunggu...
Harapan Istri di Ramadan Ini, Semoga Bahan di Pasar Turun Harga
Pasar tradisional Balikpapan | Tribunnews.com


Sore ini tadi ke pasar menemani istri, ada yang berbeda dari biasanya, raut wajahnya terlihat galau, entah apa yang dipikirkannya.

Setelah tiba dipasar seperti biasa, pasar ramai dan berjubel, masuk kedalam pasar harus senantiasa sabar, walaupun kaki ini kadang sering terinjak oleh orang, biasanya kalau bukan hari puasa, saya sudah pelototin orang yang nginjak kaki ini, tapi inilah berkah puasa ramadhan, saya jadi bisa menahan diri dan menghela nafas sebgai bentuk kesabaran ini.

Tak lama istri berhenti didepan kios sayur mayur, lalu menggais-ngais bawang merah dan bawang putih yang ada di wadah tampah, sambil bertanya, berapa bu bawangnya sekilo,"? kata istri.

Itu 130 ribu nak, berapa kilo mau beli." Kata penjualnya, lalu si penjual langsung menempatkan bawang dikiloan berharap dibeli banyak.

Wah masih mahal ya bu." Kata istri.

Iya nak, mulai mau puasa kemarin sudah mahal nak, nggak tahu juga kenapa, katanya sih biasa kalo puasa gini bahan pada naik." Kata penjual.

Kalo bawang putihnya bu."tanya istri saya lagi.

Ini 100 ribu nak sekilo, mau juga kah nak berapa kilo." Kata si penjual.

Akhirnya istri memutuskan beli bawang putih seperempat bawang merah seperempat dan seketika raut wajah penjual berubah kecewa dan kurang familiar lagi, dan melayani dengan kurang ramah, mungkin karena istri beli cuman seperempat.

Saya sempat pingin tegur si penjual karena judes dan jutek melayani, tapi tampaknya istri tau gelagat saya, akhirnya jempol kaki deh jadi korban, kode injakan kaki dari istri mencegah saya bertindak, lumayan juga, sudah tadi terinjak orang sebelumnya,  tambah pula ini kena juga ilmu injakan maut, duh sabar-sabar.

Tak lama istri ke kios lain tak jauh dari kios tadi, menawar lombok, tomat dan bahan lainnya, ternyata istri juga beli cuman seperempat masing-masingnya, karena istri selalu komentar masih mahal.

Berlanjut ke penjual kios ayam potong, istri nanya ke penjual, berapa satu ekor ayamnya pak," kata istri.

Itu 60 ribu bosskuu, kelakar si penjual. Bisa kurang pak kata istri. Wah kurang berapa lagi, itu sudah harganya, ibu pergi saja sana tanya sama yang lain sama semua itu, kata penjual dengan sedikit meninggi nada suaranya.

Saya jadi sedikit emosi melihatnya langsung saya sela, biasa saja kali pak ngomongnya ndau sah keras gitu ini puasa pak, kita loh cuma nanya baik-baik," kata saya.

Si penjual tak mau kalah, ya sudah kalo nda mau beli disini cari aja tempat lain, sama juga kali mass, katanya lagi makin agak tinggi suaranya.

Melihat gelagat perseteruan saya dan penjual, istri saya kembali tak tinggal diam, akhirnya cubitan maut mendarat diperut kiri, sudah bi ini puasa, gak baik kayak gitu, sudah kita cari tempat lain saja.

Syukurlah saya diingatkan istri, akhirnya saya dan istri pergi dari kios ayam itu dan cari kios lain yang agak jauh dari situ, sayup-sayup saya dengar omelan dan ocehan sipenjual seperti mengejek saya, ingin rasanya saya balik lagi mau saya debat, tapi cubitan maut istri kembali mendarat kali ini sambil ditarik, mau tak mau ngikut deh.

Setelah bahan sesuai catatan istri terbeli, kamipun pulang, dan sesampainya dirumah, istri langsung berkata kenapa ya bi harga bahan naik, penjualnya juga jadi kurang ramah, apa ini karena orang orang banyak beli sedikit yah kaya umi.

Iya kali mi, bisa jadi gitu, jawaban saya sedikit nada ngambek, karena efek bertubi-tubi kena cubitan maut dan injakan maut tadi.

Abi juga tadi jangan begitu, dimakluminlah namanya juga dipasar,  kalau kayak tadikan berkah puasanya jadi kurang, sabar saja bi," Kata istri.

Iya mi, trima kasih ya udah diingetin," kata saya. Sebenarnya saya bersyukur, benar kata istri tadi, puasa ini membuat saya harus instrospeksi diri dalam mengendalikan diri kalau tadi gak dicegah istri berabe juga sih.

Kapan yah bi bahan dipasar pada turun harga, kalau kayak gini terus jadi boros, mau masak jadi bingung sedikit pilihannya, mudahan harga bahan dipasar cepat turun ya bi," kata istri saya penuh harap.

Iya mi, mungkin sebentar ada solusi dari pemerintah, kita tunggu aja ya. pantas saja semenjak berangkat tadi, raut wajah istri terlihat galau, ternyata sedang memikirkan mahalnya harga bahan dipasar. Sepertinya apa yang diharapkan istri saya ini tak jauh beda dengan harapan ibu rumah tangga lainnya yang penuh harap agar bahan dipasar pada turun harga. Semoga saja semuanya ada solusi. 

-----

Sigit.


KONTEN MENARIK LAINNYA
x