Mohon tunggu...
Shulhan Rumaru
Shulhan Rumaru Mohon Tunggu... Penikmat Aksara

Penikmat Aksara

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Takdir Puisi Fadli Zon

12 Februari 2019   00:12 Diperbarui: 12 Februari 2019   00:41 0 4 1 Mohon Tunggu...
Takdir Puisi Fadli Zon
gambar milik tribunnews

Saya teringat puisi Mata Luka Sengkon Karta karya Peri Sandi Huizache yang amat masyhur. Terlebih, saat ia membacakan sendiri puisi tersebut. Boleh jujur, puisinya begitu kritis dan mengalir indah lariknya. Saya kutip sedikit saja baitnya:

"peralihan kepemimpinan yang mendesak

bung karno diganti pak harto

dengan dalih keamanan negara

pembantaian enam jenderal satu perwira

enam jam dalam satu malam

mati di lubang tak berguna

tak ada dalam perang mahabarata

bahkan di sejarah dunia

hanya di sejarah Indonesia..."

Rasa bahasa dan kesusastraan puisi ini, seperti muncul dari dalam hati dan kritisisme yang tinggi, bukan mengolok-olok tapi menyampaikan apa yang pernah menjadi sejarah kelam bangsa ini. Meskipun puisi sangat kritis, tapi satu yang saya rasakan dari puisi ini adalah menguatnya semangat kebangsaan, juga kecintaan akan tanah air yang kian mendalam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5