Mohon tunggu...
Sholehudin Abdul Aziz
Sholehudin Abdul Aziz Mohon Tunggu... Seorang yang ingin selalu bahagia dengan hal hal kecil dan ingin menjadi pribadi yang bermanfaat untuk siapapun

Perjalanan hidupku tak ubahnya seperti aliran air yang mengikuti Alur Sungai. Cita-citaku hanya satu jadikan aku orang yang bermanfaat bagi orang lain. Maju Terus Pantang Mundur. Jangan Bosan Jadi Orang baik. Be The Best.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menyoal Spirit Idul Adha yang Salah

11 September 2016   23:34 Diperbarui: 12 September 2016   00:03 0 1 1 Mohon Tunggu...

Senin, 12 September 2016 atau 10 Dulhijjah 1437 H , seluruh ummat Islam merayakan hari raya Idul Adha (lebaran Haji) yang sarat dengan nilai-nilai pengorbanan, ketakwaan dan keimanan yang diangkat dari kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail. Hari raya ini dikenal dengan Hari Raya Kurban karena pada hari inilah ummat Islam yang mampu diberi kesempatan untuk berkurban baik hewan sapi atau pun kambing untuk kemudian dagingnya disalurkan/diberikan kepada para dhuafa dan fakir miskin.

Pahala bagi siapapun yang rela dan ikhlas berkurban maka ia akan diganjar dengan pahala berlipat. Sahabat Ali ra misalnya mengatakan : “Barangsiapa berangkat dari rumah hendak membeli hewan qurban, maka setiap langkahnya memperoleh 10 kebaikan dan dihilangkannnya 10 keburukan, serta dinaikan 10 derajat.”

“Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai oleh Allah dari Bani Adam ketika hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah sebelum mengalir di tanah. Karena itu, bahagiakan dirimu dengannya.”(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim)

Selain, limpahan pahala di atas, hari raya Kurban juga memiliki makna penting yang sungguh luar biasa. Di antaranya yaitu sebagai ajang mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Berkurban berarti kesunggguhan manusia dengan menyerahkan segalanya kepada Allah Sang Pencipta.  Kedua, dengan cara berkurban manusia tersebut diajarkan untuk berbagi kepada para mukmin lain, yang pastinya mereka kurang mampu. Ketiga, dengan berkurban keikhlasan dari manusia itu pastinya diuji, diuji dari sifat rakus dan tamak akan harta dunia yang mereka senangi. Kurban itu berarti memberikan apa yang telah kita cintai (duniawi) serta apa yang kita sayangi, dalam hal ini adalah harta yang kita miliki, yakni dengan cara berkurban tersebut.

Namun demikian, dalam praktik di masyarakat, ternyata spirit kurban yang begitu mulia, mulai disalah-artikan oleh banyak kalangan. Diantara beberapa kesalahan dalam berkurban adalah pertama, niat kurban tidak lagi karena Allah tapi karena demi pamer kekayaan semata atau karena hanya ikut-ikutan dan karena kesombongan semata. 

Kedua, seseorang mengkhususkan Qurban untuk salah satu anggota keluarga tertentu, misal Qurban tahun ini untuk bapaknya, tahun berikutnya untuk anaknya dsb. Padahal Sesungguhnya tidaklah demikian karena karunia Allah sangat luas dan tidak perlu dibatasi. Ketiga, peruntukan kurban kini banyak yang salah sasaran, dimana seharusnya untuk  kaum dhuafa dan fakir miskin tetapi ternyata juga dibagikan kepada orang-orang yang mampu secara financial.

Secara khusus, kesalahan peruntukan kurban, sepertinya sudah semakin jauh dari kebenaran. Coba tengok di masjid-masjid komplek misalnya, daging hewan kurban ternyata lebih banyak didistribusika ke penghuni komplek yang notabene cukup berada.

Kesalahan peruntukan daging kurban ini, menurut saya sudah sangat memperhatikan dan wajib diluruskan kebenarannya. Hal ini penting untuk memastikan, seluruh daging hewan kurban benar-benar sampai kepada yang berhak seperti dhuafa dan fakir miskin yang jelas-jelas mampu.

Semoga para alim ulama, ustadz, para kyai bisa meluruskan beberapa kesalahan spirit idul adha ini agar benar-benar sesuai  tuntutan Alquran dan hadis dan membawa manfaat dan keberkahan bagi mereka yang kurang mampu.