Mohon tunggu...
Kesehatan

Tugas Individu 2_20_Shafira Nur Fauziah

14 Agustus 2018   17:28 Diperbarui: 17 Agustus 2018   20:37 274 0 0 Mohon Tunggu...

Vaksinasi Dapat Menyebabkan Autisme?

Persoalan autisme yang hingga ini masih belum memiliki perawatan atau pengobatan yang benar-benar mengobati menyebabkan banyak orang, di antaranya, orang tua yang khawatir dan para ilmuwan memunculkan penjelasan atau bahkan hanya sekadar pendapat mereka tanpa dasar dan bimbingan medis yang jelas mengenai autisme yang pada akhirnya berubah menjadi mitos yang dipercaya oleh orang banyak. [1]

Vaksinasi ialah sebuah pengobatan terhadap suatu penyakit menggunakan bibit penyakit yang sudah dilemahkan terlebih dahulu. Intinya, vaksinasi sungguh berguna bagi orang banyak, baik untuk mencegah penyakit-penyakit. Begitu pula dengan vaksin MMR (measles, mumps, and rubella atau gondong, campak, dan rubella) yang berfungsi agar orang-orang yang diberi vaksin MMR ini tercegah dari penyakit-penyakit yang telah disebutkan. 

Namun, pada tahun '90-an akhir, diterbitkanlah suatu artikel mengenai adanya hubungan antara pemberian vaksin dan autism pada anak-anak. Salah seorang fisikawan dari Inggris yang bernama Andrew Wakefield, melalui The Lancet, menerbitkan hasil penelitiannya terhadap dua belas anak yang sebelumnya berlaku seperti anak-anak pada umumnya, namun kemudian mengalami penurunan dalam hal berbahasa atau berbicara juga mengeluhkan nyeri di bagian perut hanya beberapa hari setelah anak-anak tersebut diberi suntik vaksin MMR (measles, mumps, and rubella). Sebelumnya, Wakefield menyatakan bahwa virus campak menyebabkan adanya luka pada usus penderita penyakit Crohn. 

Laporan Wakefield tersebut ditolak, namun ia tertarik dengan banyaknya kasus anak-anak yang tiba-tiba memunculkan gejala-gejala autism tersebut. Wakefield memiliki hipotesis bahwa virus campak yang disuntikkan dapat mengaktifkan luka-luka yang meradang dalam usus yang kemudian akan mengganggu kemampuan permeabilitas usus. Di mana kemudian, peptida yang bersifat racun akan mencapai aliran darah dan juga otak yang kemudian akan menyebabkan autism. [1-3]

Pada tahun 2005, seorang reporter investigasi melaporkan bahwa adanya kesalahan-kesalahan pada pernyataan yang ada pada artikel buatan Wakefield. Kekurangan-kekurangan yang ada dalam laporan tersebut adalah kesalahan yang dilakukan pada saat penelitian dan bahkan adanya kemungkinan kebohongan atau falsifikasi dalam artikel milik Wakefield tersebut. 

Setelah menginvestigasi mengenai kekurangan dalam laporan tersebut secara lebih dalam, The Lancet menarik kembali artikelnya. Adanya penurunan pemberian vaksinasi MMR pada anak-anak dinyatakan tidak berkorelasi dengan penurunan jumlah anak yang mengidap autism. Bahkan, walaupun semakin banyak orang tua yang menolak anaknya diberi vaksinasi MMR, jumlah anak-anak yang mengidap autism semakin banyak. 

Sebuah studi di Inggris menunjukkan bahwa rasio kemungkinan vaksin MMR memiliki hubungan dengan pertambahan pengidap autism hanyalah berjumlah 0,85% yang berarti tidak berhubungan. Studi tersebut menyimpulkan dengan sebelumnya menggunakan data dari 1294 orang yang lahir pada tahun 1973 dan didiagnosis memiliki gangguan perkembangan atau pervasive developmental disorder (PDD). [4]

Bukan hanya vaksin MMR yang disebut-sebut sebagai salah satu faktor munculnya penyakit autism. Setelah kontroversi vaksin MMR mulai memudar, para peneliti menolehkan kepalanya ke substansi bernama thimerosal, yaitu kombinasi dari etil-merkuri dan thiosalycilate yang terkandung dalam beberapa jenis vaksin. 

Banyaknya merkuri yang terbuang ke lautan dari buangan pabrik yang jika kemudian dikonsumsi oleh ikan-ikan yang akan menjadi makanan dari manusia, dapat menyebabkan munculnya kerusakan sistem saraf pusat. 

Karena autism adalah salah satu kondisi yang berhubungan erat dengan sistem saraf pusat, kesimpulan yang diambil pada saat itu adalah bahwa vaksin yang mengandung thimerosal di dalamnya adalah penyebab munculnya autism. Namun, setelah melewati beberapa penelitian, pada tahun 2001, The Institute of Medicine menyatakan dalam laporannya bahwa mereka tidak menemukan bukti yang cukup untuk mengiyakan atau menolak mengenai adanya hubungan antara kandungan merkuri dalam vaksin dan autism. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x