Septian Ananggadipa
Septian Ananggadipa Pegawai biasa - Pejalan kaki dunia

So let man observed from what he created

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Dilan, Zaadit, dan Keunikan Pemuda

13 Februari 2018   11:18 Diperbarui: 13 Februari 2018   11:55 995 2 1
Dilan, Zaadit, dan Keunikan Pemuda
Sumber gambar: pidibaiquotes.blogspot.com

Dua nama pemuda ini menjadi tenar akhir-akhir ini, meski berbeda eksistensi, keunikan karakter dua nama ini menarik untuk dicermati. Dilan adalah seorang tokoh yang konon nyata, beraksi di novel dan film dengan memberi warna dunia anak muda melalui gayanya yang tidak biasa. Di panggung yang lain, pemuda bernama Zaadit Taqwa, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) membuat aksi solo dengan mengacungkan kartu kuning untuk Presiden Joko Widodo, di forum resmi Universitas.

Sejak novelnya dirilis sekitar tahun 2015, nama Dilan terus menanjak, apalagi setelah filmnya muncul mewarna layar bioskop seluruh indonesia. Dilan memiliki keunikan dengan tingkahnya yang unik dan gaya bahasa yang mungkin agak kaku tapi memiliki nuansa puitis. Meskipun tidak sedikit orang yang mencibir tindak tanduk Dilan, namun karakter pemuda era tahun 1990an ini membuat banyak orang penasaran. Dilan memang diceritakan bukan pemuda yang sempurna, mungkin malah cenderung badung, nekat dan  bad boy, tapi Dilan memberikan cerminan anak muda dari kalangan biasa yang selalu memiliki cara mengekspresikan diri dengan gaya yang unik.

Keunikan Dilan ini membawa prestasi yang luar biasa, hingga tulisan ini dibuat novel Dilan terus konsisten menjadi  best seller, dan filmnya telah menembus 5 juta penonton. Bukan tidak mungkin akan menyalip Warkop DKI sebagai film nasional dengan penonton terbanyak di angka 6,8 juta penonton.

Di dunia nyata baru-baru ini, kita juga mengenal pemuda bernama Zaadit Taqwa, ketua BEM UI yang memberi kejutan untuk Presiden Jokowi di acara Dies Natalis UI. Mungkin terasa aneh membahas korelasi Dilan dengan Zaadit, namun dua pemuda ini memiliki kesamaan, tidak sempurna dan memiliki cara mengekspresikan diri dengan gaya yang unik.

Berbicara tentang Zaadit, banyak orang yang mengapresiasi keberanian aksinya memberi simbol peringatan bagi Presiden Jokowi. Dengan kreativitas menggunakan media kartu kuning, pesan "mengingatkan" pemerintah untuk menyelesaikan beberapa permasalahan cukup berhasil digaungkan. Meskipun banyak juga yang tidak setuju dengan aksinya, terutama terkait etika dan norma kesopanan yang tentu menjadi perdebatan.

Unik Selalu Mendapat Perhatian

Sejatinya pemuda memang selalu punya cara unik untuk mengekspresikan diri dan secara langsung maupun tidak langsung akan "mendapat perhatian". Jiwa muda cenderung tidak puas dengan cara-cara yang biasa dan keunikan yang diciptakan pemuda selalu bisa memberi kejutan.

Contoh lain ada di Lampung Timur, sekelompok pemuda-pemudi di daerah Sekampung menyentil pemerintah atas kondisi jalan yang sangat buruk dengan cara yang unik. Mereka membuat foto-foto seolah sedang menikmati wahana wisata baru yang dinamakan Jeglongan Sewu (Lubang 1000), menjadi miris karena itu adalah kubangan-kubangan air besar di tengah jalan umum. Postingan unik itu sontak menjadi viral dan tentu mendapat perhatian banyak pihak.

Dibutuhkan kreativitas dan "keberanian untuk tidak disukai" dalam membuat sebuah cara penyampaian yang unik. Oleh karena itu, selama masih bertujuan positif kita tentu sebaiknya mengapresiasi kegiatan pemuda-pemudi unik ini. Presiden Jokowi yang mungkin kaget dipertontonkan aksi seperti itu, menanggapinya dengan santai dan bijak. BEM UI bahkan diajak untuk ikut melihat kondisi di Asmat,  wah, meskipun akhirnya BEM UI menolak.

Pemuda adalah ibarat harta karun berharga bagi suatu bangsa. Kini pemuda semakin berperan penting menjadi  influencer,kreator dan penggerak yang secara nyata banyak bersentuhan dengan masyarakat. Meskipun sebagai manusia biasa tentu tidak ada yang sempurna. Melalui Dilan, Zaadit dan pemuda-pemudi lainnya, Indonesia akan semakin memiliki keragaman ide untuk membawa Indonesia semakin maju dengan cara yang unik. Kenapa tidak?.