Mohon tunggu...
Iya Oya
Iya Oya Mohon Tunggu... Laki-laki

90's

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Agama Sekuler: Bukan Kebencian Buta

5 Agustus 2019   19:35 Diperbarui: 5 Agustus 2019   19:41 54 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Agama Sekuler: Bukan Kebencian Buta
Gambar: Dokumen Pribadi

Bagian mana dalam hidup kita ini yang tidak menggunakan pikiran. Kita membangun peradaban dengan pikiran. Di dalamnya ada sistem-sistem yang itu juga dibuat dengan hasil pikiran kita. Bagian mana yang diturunkan secara mentah dari langit?

Heran saya. Gimana bisa ada orang yang begitu anti dengan hasil pemikiran dan secara naif mengira kalau hanya dengan mengikuti agama secara mentah-mentah kemudian persoalan akan beres. Parahnya, ada pula yang berpikir kalau sistem hasil pikiran manusia itu salah, batil, atau apapun itu sebutannya.

Kita hidup di dunia sekuler. Kita hidup di dunia materil. Kita di sini bukan hidup di dunia spiritual. Kita bukan hidup di dunia ruh.

Masalahnya, seringkali orang begitu anti dengan sekuleritas, bahkan menganggap itu sebagai masalah. Padahal, kalau menurut saya, agama justru mengajarkan kita bersikap dalam hidup, terutama menyikapi hal-hal duniawi. Atau dalam kata lain, Islam itu justru "agama sekuler". Berapa persen sih  --di dalam Al-Qur'an dan Hadits-- persoalan-persoalan spiritual itu dibahas? Sedikit. Mungkin sekitar dua puluh persen.

Di jaman yang sudah tersistem-sistem ini, bagaimana kita kembali kepada agama secara utuh? Bagaimana kita menggunakan ayat-ayat maupun dalil-dalil dalam aktivitas ekspor-impor barang kalau sistem yang sekarang tidak islami? Apa perlu pantai juga harus syar'i? Bagaimana sistem pendidikan yang Islami itu? Sekalian saja pure belajar agama. Tak usah pelajari ilmu-ilmu alam karena itu hasil kerja penelitian yang tak jelas siapa penelitinya. Memangnya percaya kalau Dinosaurus itu ada?

Apa kita sadar kalau agama tidak mengurusi hal sedetil itu? Karena justru dengan pikiranlah kita memikirkan detil-detilnya. Karena dengan pikiran --yang merupakan bekal dari Tuhan-- inilah kita menyelesaikan masalah. Tapi nyatanya kita terlalu mempersoalkan mana yang islami dan mana yang tidak. Seolah-olah yang tidak berasal dari Islam itu semua batil, haram, buruk, dilaknat Allah.

Lagian, jaman sekarang ini kan ribetnya minta ampun. Ini bukan jaman yang sederhana. Kita sudah punya listrik, smartphone, kendaraan bermotor, dll. Dengan berlandaskan pada agama, bagaimana kita menyikapi perkembangan modernitas saat ini? Kita tolak? Kita haramkan pada diri kita? Gak apa-apa kalau memang mau, minimal kita gak usah lagi pakai smartphone. Setelah bisa lepas dari smartphone, kita coba lepas dari barang-barang lainnya, sampai kemudian kita jadi manusia yang hidup benar-benar sederhana apa adanya. Gimana?

Padahal smartphone ini sebenarnya dampaknya lebih buruk. Kita semua kan tahu itu. Berapa jam kita meloloti smartphone? Satu jam buka smartphone rasanya kayak baru sepuluh menit. Itu pun masih kurang. Belum lagi dampak individualisme lantaran media sosial. Orang-orang jadi beropini sesuka hatinya.

Lagian siapa sih yang berani menolak smartphone? Berapa orang yang membenci teknologi saat ini? Jujur saja, saya sih belakangan ini benci, karena saya menyadari dengan smartphone ini saya sudah menghabiskan waktu secara sia-sia. Tapi kebencian saya bukan kebencian yang sangat. Karena saya pun masih sulit melepaskan diri dari smartphone, termasuk media sosial yang isinya juga gak penting-penting banget.

 Paling tidak, dengan smartphone ini saya berusaha untuk hanya melakukan hal-hal yang sekiranya penting saja. Jadi kebencian saya bukan kebencian buta. Bukan asal benci. Tapi kebencian konsekuensional, yang memang didasarkan atas dampaknya secara nyata. Dan saya tidak mengajak siapapun membenci apa yang saya benci. Apalagi kalau sampai membuat propaganda. Apalagi kalau sampai membawa-bawa nama umat. 

Kembali lagi ke persoalan agama, akhirnya kita tidak bisa menafikan kalau segalanya sudah sedemikian menyatu. Agama tidak seharusnya dikeluarkan dari dalam diri, dibanggakan dan dijadikan semacam ego pribadi, apalagi untuk melawan suatu hal yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama bahkan orang yang tak seiman. Atau mungkin karena agama sekarang tidak lagi dijadikan sebagai landasan personal. Bukan sesuatu yang aneh ketika seseorang belajar agama kemudian dia cenderung berpikir ke belakang atau konservatif. Lha, yang semacam ini yang menentang modernitas tapi nyatanya gaya hidupnya bisa lebih modern, bingar bingar.

Kalau agama mengajarkan penganutnya untuk kembali ke belakang, itu justru aneh. Kita berurusan dengan aktualitas jaman dan masa depan, lha kok malah disuruh kembali ke belakang? Kan gak nyambung? Agama justru --lagi-lagi ini menurut saya lho-- mengajarkan kita untuk selalu memahami aktualitas jaman di masa kita hidup (saat ini, detik ini) supaya kita paham bagaimana menyikapi tantangan dan tuntutan jaman yang semakin ada-ada saja. Maksud saya, ya semakin aneh, lucu, bahkan gak penting. Tapi yang semacam itu yang justru begitu dipenting-pentingkan.

Kita gak bisa secara mentah untuk kembali menerapkan ajaran agama. Tidak secara keseluruhan melainkan esensi-esensinya, terutama secara personal. Kita tidak sama dengan orang-orang pada masa Nabi. Keimanan dan ketakwaan kita tidak sama. Tapi kita mungkin seringkali merasa sudah berada di puncak keimanan dan ketakwaan. Karena prasangka itu kita merasa sudah aman.

 Merasa surga itu sudah tinggal dimasuki saja. Merasa Tuhan sudah sama sekali gak marah. Jujur sajalah. Sering kan kita begitu? Tapi nyatanya kita salah mengira demikian. Kalau ada yang bertanya salahnya di mana, ya nanti juga tahu sendiri. Yah... Mana ada sih orang yang tahu kalau dirinya ternyata sudah menjadi iblis.

VIDEO PILIHAN