Musik

[Filosofi Musik] Neo-Selawat Ibrahim dalam Lagu Letto - Menyambut Janji

7 Agustus 2018   19:15 Diperbarui: 14 September 2018   08:10 1291 0 0

Filosofi Musik - "Aku membaca, maka aku ada." (tibuku.com

Salah satu keahlian yang perlu diasah oleh bangsa ini adalah keahlian untuk melihat konteks dari segala sesuatu, bukan hanya dari apa yang terlihat atau terdengar secara jelas saja. Itulah yang kemarin jadi alasan kenapa Ust. Hanan Attaki dibully habis-habisan oleh emak-emak yang berat badannya di atas 55 kilo. Saya jadi kasihan, apa suami-suaminya nggak pernah nyanyiin mereka lagunya Sheila On 7 yang judulnya Terimakasih Bijaksana, ya?

"Tak peduli, berapakah berat badanmu nanti, kau tetap yang ter-muuaaccch di hati ..."

Saya kira, bila keahlian membaca konteks ini sudah menjadi kebiasaan, banyak masalah yang bisa teratasi; atau minimalnya tidak ada ontran-ontran antara si cebong dan si kampret yang bikin ulama tenang sekelas Aa Gym pun angkat bicara. Hvft.

Keahlian membaca konteks ini juga bisa dipakai untuk mendekatkan diri kita pada Tuhan. Lewat musik, yang sebagian orang mengharamkannya, ternyata banyak juga yang malah lebih dekat dan lebih mencintai Penciptanya, setelah merenunginya dalam-dalam. Seperti pula yang bisa didapat dari lagunya Cak Sabrang dan kawan-kawan.

Sudah lazim memang Letto disebut band sufi, band hakikat, atau band filosofis. Dahulu, di Kaskus, sebelum pamornya kalah oleh Mojok, membernya sering ngumpul-ngumpul dan bahas tentang filosofi musik ini di trit Ngamen Sufistik. Tulisan ini hanya meniru-niru saja metoda mereka dalam menemukan makna, dan inilah yang saya dapat dari lagu Letto - Menyambut Janji.

Sebelumnya, saya ingat-ingat lupa, Cak Nun pernah berkata atau nulis, selawat itu kondisi di mana kamu ingat sama Muhammad. Segala kondisi. Bukan hanya ketika terucap di lisan "Allahumma shalli 'ala Muhammad", tetapi juga pas kamu mau masuk WC, dan kamu ingat Muhammad masuk WC pake kaki kiri dulu, lalu kamu melakukannya, maka di situ kamu berselawat.

Saya curiga, 'Noe'; nama panggung Sabrang kalau dibaca pake ejaan bahasa Indonesia dahulu jadinya 'Nu'; bahasa inggrisnya 'baru' itu 'new' dan dibaca 'nu' juga; adalah subliminal massage ke para pendengarnya, kalau sebagian lagu-lagu Letto itu adalah cara baru mengingat Tuhan. Wah, cocokologi sekali, ya? Iya.

Di bait-bait awal liriknya, Letto seperti sedang menceritakan Nabi Ibrahim ketika dalam perjalanan menemukan Tuhan.

Ku menanti sang kekasih
Dalam sunyi ku bersuara lirih
Yang berganti hanya buih
Yang sejati tak akan berdalih

Di Al-Qur'an surat Al-An'am ayat 76 - 79, dikisahkan beliau menganggap, pada awalnya, dengan suara lirih, bintang, bulan, lalu matahari sebagai Tuhan; "Inilah Tuhanku". Tapi kemudian mengingkarinya sebab, ketika siang, bintang dan bulan menghilang. Kata Ibrahim, "Aku tidak suka pada yang terbenam". Dia juga mengingkari Matahari sebagai Tuhan sebab pada malam, matahari tidak kelihatan lagi.

Tuhan itu tidak mungkin terkalahkan siang dan malam, Tuhan tidak  mungkin berdalih dan beralasan atas keadaannya. Karena Allah itu, kata Candra Malik di bukunya yang berjudul Layla, ada sebelum ada apa-apa; Allah itu ada sebelum apa-apa ada; Allah itu ada sebelum ada itu ada.

Di bait selanjutnya, Letto menceritakan tentang Ibrahim yang telah fiks menemukan Tuhannya yang sejati.

Lembaran putih telah terpilih
Dan demi cinta ...
Ku tepiskan semua keraguan jiwa
Dan ku ganti dengan kepastian
Hatiku ini yang mulai mengerti
Dan berani tuk menyambut janji

Lembaran putih di lirik itu, menurut saya adalah suhuf yang diberikan kepada beberapa Nabi dan Rasul saja, termasuk Ibrahim. Lalu kemudian, demi menyambut kecintaannya pada Tuhan, akhirnya Ibrahim menerbitkan keberanian di dalam hatinya untuk 'mendebat' raja Namrud yang mengklaim dirinya sebagai tuhan karena bisa menghidupkan dan mematikan, tapi akhirnya kalah oleh argumen Ibrahim--lebih tepatnya tantangan- agar Namrud menerbitkan matahari dari barat. Bisa dibaca di surat Al-Baqarah ayat 258.

Setelahnya kita semua tahu, Ibrahim membegal berhala-berhala yang disembah kaumnya dengan sebilah kapak, lalu mengalengkan kapak tersebut di patung yang paling besar. Lantas dia berkata, ketika dituduh sebagai biang penghacuran rezim lewat jalur agama, "Sebenarnya berhala besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara." Bisa dibaca di surat Al-Anbiya ayat 63.

Berani. Cerdik. Cerdas. Berakal. Entah, kalau di zaman sekarang beliau akan pake tagar ganti-ganti itu gak, ya? #GantiNamrud

Di bait yang terakhir, barulah Letto menceritakan Muhammad. Tentang bagaimana pertama kali beliau mendapatkan wahyu dan seterusnya (salah satu jalan wahyu diturunkan adalah lewat mimpi). Perjalanan kisah cinta abadi tiga arah; kalau bahasa masyarakat maiyah yaitu cinta segitiga. Antara Hamba, Muhammad, dan Tuhan.

Kisah cinta yang abadi
Takkan ada jika tak kau cari
Sering juga hanya mimpi
Yang membuatku bertahan di sini

Muhammad menemukan cinta yang selama ini sudah ada di dalam hatinya. Dia memang mencari, tapi mencari ke kedalaman hati dengan semadi di Gua Hira. Mengingkari latta, uza, hubal, manat, dan yang lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2