Rochani Sastra Adiguna
Rochani Sastra Adiguna wiraswasta

sedang belajar menulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pemberontakan Arya Penangsang

3 Juni 2010   12:48 Diperbarui: 26 Juni 2015   15:46 6632 0 11

Tri lunga manca bumi (1503 M) adalah sengkalan tahun meninggalnya Sultan Demak III , setelah memerintah selama 40 tahun lamanya. Seperti diketahui bahwa Sultan Demak III atau Sultan Trenggana mempunyai putra sebanyak empat orang, yang sulung perempuan yaitu Ratu Kalinyamat yang menjadi isteri dari Pangeran Hadiri, Adipati Pati Pasantenan.

Anak yang kedua perempuan yang diperisteri Pamanahan. Yang ke tiga perempuan dan menjadi isteri Jaka Tingkir yang kemudian menjadi Adipati Pajang. Yang ke empat  adalah Sunan Prawata.

Setelah pengganti Penguasa Kasultanan Demak yakni Sunan Prawata diwisuda, ternyata ada orang yang tidak menyetujui atas penobatan tersebut.Dia adalah seorang adipati dari Jipang Panolan bernama Arya Penangsang, murid Sunan Kudus, karena berambisi ingin menjadi raja Demak.
Adipati Jipang Panolan
Arya Penangsang adalah Bupati Jipang Panolan yang telah berhasil membunuh Sunan Prawata raja terakhir Kesultanan Demak. Arya Penangsang sebelumnya telah membunuh suami Ratu Kalinyamat yaitu Pangeran Hadiri. Tindakan tersebut dilakukan, dengan sebuah keyakinan, sebagai upaya memuluskan jalannya untuk meniti tangga sebagai Demak satu.
Adipati Hadiwijaya setelah mendengar bahwa Arya Penangsang membunuh untuk yang kedua kalinya, amarahnya meluap dan akan membunuh langsung dengan tangannya sendiri. Tetapi hal itu tidak dilakukan karena beberapa sebab.Pertama segan memerangi Arya Penangsang karena masih sama-sama anggota keluarga Kesultanan Demak, yang kedua masih saudara seperguruan sama-sama murid Sunan Kudus, dan yang ketiga posisi Pajang masih sebatas Kadipaten, dan ini belum seperti yang diramalkan oleh Sunan Kalijaga.

Padepokan Gunung Danaraja
Pada suatu hari, Adipati Pajang silaturrahmi ke Pertapan Gunung Danaraja menemui Ratu Kalinyamat. Semenjak terbunuhnya Pangeran Hadiri, Ratu Kalinyamat uzlah ke Gunung Danaraja untuk bertapa telanjang, dan tidak akan mengenakan pakaian serta kembali ke Demak, sebelum Arya Penangsang tewas.
Dalam pertemuan tersebut, Adipati Adiwijaya minta restu dan diijinkan untuk memboyong seluruh pusaka kerajaan Demak untuk di pindahkan ke Pajang.

Pusaka yang akan di boyong yakni bende kyai Bicak, gamelan, dan pusaka lainnya, Ratu Kalinyamat pun menyetujui permintaan adiknya, untuk membawa seluruh pusaka kerajaan Demak ke Pajang. Ratu Kalinyamat, memang sudah melihat bahwa wahyu nurbuwat telah manjing di dalam diri Adipati Pajang atau Jaka Tingkir. Sehingga Ratu Kalinyamat tersenyum lega ketika melepaskan pusaka piyandeling ratu.

Berdirinya Kasultanan Pajang
Karena kasultanan Demak sudah kosong, tidak ada yang mengisi sebagai pengganti Sultan Demak, maka berakhir pula lah dinasti kerajaan Demak. Sejak itulah Adipati Pajang memproklamirkan diri sebagai Penguasa tunggal kerajaan Pajang. Dan mengubah status kadipaten Pajang menjadi kasultanan, dan kedudukan dirinya dari Adipati menjadi Sultan, untuk pertama kalinya, dengan menggunakan gelar Sultan Hadiwijaya.
Sultan mengumumkan bahwa kerajaan Demak berubah statusnya menjadi Kadipaten dan menjadi bawahan Pajang, demikian pula kadipaten yang lain, seperti Semarang, Tuban, Madiun, Pati Pasantenan, Pati Jagaraga termasuk Jipang Panolan harus tunduk di bawah kekuasan Pajang.
Sultan Adiwijaya tidak hanya mukti sendiri, ia juga mengingat akan jasa para leluhurnya, kemudian Pamanahan , Panjawi dan Jurumartani diangkat menjadi warangkadalem kasultanan Pajang sebagai penasehat Sultan.
Duri dalam daging
Maklumat penobatan dirinya menjadi Sultan Pajang, dan juga tentang sistem Pemerintahannya, ternyata tidak seluruhnya berjalan mulus, karena Adipati Jipang Panolan Arya Penangsang, menolak kedaulatan Pajang.
Ia merasa masih keturunan pendiri Kerajaan Demak, jadi ia merasa sebagai pewaris kerajaan Demak, ia tidak merelakan jika Demak berada dibawah telapak kaki Jaka Tingkir. Yang berhak menjadi Raja Demak, bukan Jaka Tingkir si rakyat jelata. Tetapi dirinya yang masih memiliki darah Raja Demak.

Meski Arya Penangsang sudah dibujuk oleh Sunan Kudus bahwa Raja itu sudah kinodrat déning sing gawé urip, tetapi tetap saja ambaguguk angguthu waton (keras kepala) . Jika dulu Pangeran Hadiri ataupun Sunan Prawata, dapat dibunuh dengan mudah, dan itupun cukup melalui tangan utusannya, tetapi kini ketika berhadapan dengan Sultan Pajang, Arya Penangsang seperti mendapatkan lawan yang tangguh.

Arya Penangsang telah beberapa kali berusaha melakukan pemberontakan terhadap Kasultanan Pajang, tetapi selalu gagal. Beberapa kerusuhan yang di dalangi olehnya, seperti munculnya perampokan yang meresahkan penduduk di wilayah pantai utara. Dan juga beberapa kali ontran-ontran daerah Tuban, Semarang.

Operasi penumpasan pemberontak
Yang dihadapi oleh Arya Penangsang sekarang ini adalah Sultan Pajang, bukan Demak lagi, jadi jika Arya Penangsang ingin melakukan kudeta terhadap kerajaan Pajang, jelas bukan hanya sekedar menuntut hak sebagai pewaris kerajaan, melainkan jelas-jelas merongrong kewibaan Sultan Pajang.

Sebab Jipang Panolan adalah merupakan sebuah kadipaten yang menjadi bawahan Pajang. Maka, pihak Sultan Pajang pun sudah tidak perlu lagi mentolerir perilaku bawahannya yang sudah terang-terangan melakukan tindakan makar. Perbuatan Arya Penangsang sudah tidak bisa dibiarkan lagi, dan itu harus dihadapi dengan kekuatan militer. Ibarat api ketika masih kecil maka segera diatasi, jangan sampai menjadi besar karena itu akan membakar semuanya.

Sultan Hadiwijaya sudah memerintahkan mengerahkan pasukan untuk menggempur Jipang Panolan, Ki Pamanahan selaku pasehat militer, menyarankan justru tidak harus menggunakan kekuatan militer dalam jumlah banyak, karena akan berdampak pada kesengsaraan rakyat kecil.

Penyerbuan Pajang ke Jipang Panolan dipimpin oleh ki Panjawi, tetapi dari pihak Jipang kendali dipegang langsung oleh Arya Penangsang, Pasukan Pajang dipukul mundur.
Danang Sutawijaya
Korban yang di derita oleh Pajang meski tidak parah, namun membuat kekhawatiran keberadaan Kasultanan Pajang. Kemudian Sultan Hadiwijaya mengumumkan sayembara, barang siapa bisa numpes kraman Adipati Jipang Panolan Arya Penangsang, maka akan mendapatkan hadiah bumi perdikan Mentaok dan Pati Pasantenan.

Sayembara ini dapat diikuti oleh segenap rakyat Pajang termasuk keluarga dan sentanadalem. Pamanahan dan Penjawi meskipun sebagai warangkadalem kasultanan Pajang mengikuti sayembara ini atas desakan Ki Juru Martani (kakak ipar Pamanahan).

Putra Ki Pamanahan yang juga anak angkat Sultan Hadiwijaya, bernama Danang Sutawijaya ikut serta dalam sayembara ini.

Karena Sultan Hadiwijaya tidak tega ketika melihat putra angkatnya turut dalam melaksanakan tugas tersebut, sehingga memberikan bantuan pasukan Pajang untuk melindungi Sutawijaya. Perang antara pasukan Ki Pamanahan dan Arya Penangsang terjadi di dekat Bengawan Sore.

Berkat siasat cerdik yang disusun Ki Juru Martani, Arya Penangsang tewas di tangan Sutawijaya, kena tusukan tombak kyai Plered . Sayembara menumpas Arya Penangsang (1549 M) merupakan pengalaman perang pertama bagi Sutawijaya.
Siasat Juru Mertani
Ki Juru Martani kemudian memanggil Pamanahan dan Panjawi, bahwa dalam menyampaikan laporan kepada Sultan Hadiwijaya, bukan Danang Sutawijaya yang membunuh Arya Penangsang, melainkan Pamanahan dan Panjawi. Meski pada awalnya kedua orang itu menolak cara yang digunakan oleh Juru Martani, tetapi setelah dijelaskan alasannya , maka keduanya hanya mengangguk-anggukan kepalanya, dan menyerahkan segalanya pada Juru Martani.

Setelah suasana menjadi tenteram, pada acara pisowanan agung di bale manguntur kasultanan Pajang, Sultan Hadiwijaya menobatkan dua pahlawan Pajang yakni Pamanahan dan Panjawi menjadi panglima militer kasultanan Pajang. Untuk selanjutnya, hadiah yang dijanjikan yaitu Pati Pasantenan diberikan kepada Panjawi untuk mengelolanya.

Sedangkan Pamanahan diberi sebuah bumi Perdikan berupa hutan belantara di wilayah Mentaok yang kelak kemudian menjadi sebuah kerajaan besar di Nusantara.
Sindoro Sumbing, 03 Juni 2010
Sumber : Babad Demak II oleh : GPH Buminoto (1937)
create : ki Sastra