Mohon tunggu...
Reno Dwiheryana
Reno Dwiheryana Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Blogger/Content Creator

permasalahan negeri ini ialah keserakahan, kepingin hidup enak tetapi bukan dari hasil kerja keras melainkan mencuri uang rakyat..

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kompasiana Bukan Sekadar Platform Blog

26 Desember 2021   17:06 Diperbarui: 26 Desember 2021   17:09 224 10 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
ilustrasi Menulis (Kompas)

"Bila perut tak kenyang, bagaimana otak bisa bekerja.."

Sekilas kalimat diatas kiranya tepat untuk membuka materi prihal "kekepoan" Kers kepada apa yang sedang terjadi pada Kompasiana belakangan ini. 

Jujur saja, Penulis pribadi pun tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi. Bukan saja dikarenakan Kompasiana yang cenderung serba rahasia dan pengelolanya yang serba tertutup, melainkan pula ditenggarai Penulis yang belajar untuk tidak peduli dan move on.

Penulis pun tidak akan banyak panjang lebar ihwal munculnya pertanyaan terhadap K pasca Kompasianival. Hanya mencoba sedikit menjelaskan proses dibalik layar maksud tujuan sebuah platform dan cara bekerjanya.

"Corporate itu bukan badan amal.."

Jika Penulis bertanya kepada Kers, apa sih tujuan dibuatnya produk? Diantara banyak jawaban maka hanya satu jawaban yang tepat yaitu income atau pendapatan.

Lantas kenapa tujuannya income? Karena dengan income maka otomatis operasional tetap berjalan dan produk tetap eksis (bertahan).

Sejatinya sedari dahulu kala mengenal K, Penulis kerap diingatkan bahwa Kompasiana adalah sebuah produk atau lini usaha. Betul bahwa Kompasiana lahir dari ide, tetapi kita perlu ingat dimana letak Kompasiana bernaung. Kompasiana bukan industri rumahan ataupun maupun blog pribadi, ada kekuatan media yang menopangnya.

Namun kita juga perlu mafhum, masa iya sih sebuah produk ditopang terus menerus? Dalam artian setidaknya K harus bisa menghasilkan, setidaknya menghidupi dirinya sendiri. Betul tidak?

Anda saja sebagai orangtua ingin melihat anak Anda berkembang. Masa sih sebuah corporate tidak ingin salah satu dari produknya maju? Apa dikira ortunya usaha cetak duid atau punya pohon duid dibelakang rumah?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan