Mohon tunggu...
Abdul Madjid
Abdul Madjid Mohon Tunggu... Wartawan dan penulis

Di hadapan Tuhan aku hanya sebutir debu yang tak berarti. Wartawan yg tak henti belajar, dan seorang hamba Tuhan yang penuh dosa.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Mbah Katijan Mengejar Surga

29 April 2019   09:31 Diperbarui: 29 April 2019   10:00 0 1 0 Mohon Tunggu...

Sosok tubuhnya kurus, hampir tak berdaging. Usianya lebih 80 tahun. Ukuran tubuh tak tinggi juga tidak terlalu pendek. Sorot matanya tajam memancarkan cahaya teduh. Tinggal di sebuah rumah sederhana di di Pedukuhan Srikaton, Kampung Terbanggiagung, Kecamatan Gunungsugih, Kab. Lampung Tengah, Provinsi Lampung.

Namanya Mbah Katijan. Lelaki tua berasal dari Bantul, Yogyakarta. Sejak tahun 1960 dia tinggal d Pedukuhan Srikaton. Sehari-hari Mbah Katijan bekerja sebagai petani. Semua warga kampungya kenal akrab dengan Mbah Katijan. Hidupnya bersama isteri cukup bersahaja meskipun sederhana.

Kesederhanaan Mbah Katijan dapat dilihat dari sikap dan penampilannya sehari-hari. Sepeda ontel tua, pakaian yang dikenakan (kemeja, sarung, dan peci) warnanya sudah luntur. Namun, Mbah Katijan tak pernah merasa rendah diri. Dia tak segan menyapa siapa saja yang berpapasan dengan dirinya di jalan maupun di masjid. Senyumnya senantiasa menghiasa wajah tuanya yang sudah tak bergigi.

Mbah Katijan adalah sosok istimewa bagi warga Pedukuhan Srikaton. Lima kali sehari suaranya mengumandang melantunkan panggilan sholat dari masjid di kampungnya. Dia selalu hadir lebih dahulu di masjid untuk mengumandangkan adzan. 

Meskipun suaranya cempreng, bahkan ada yang mencela suaranya tak sedap didengar. Tetapi, Mbak Katijan tidak memperdulikan celaan-celaan itu. Dia tetap mengumandangkan adzan saat warga masih sibuk di ladang atau masih lelap dalam selimut saat subuh.

Ada yang menyarankan agar ada warga lain yang menggantikan Mbah Katijan adzan, kalau biasa yang bersuara merdu. Tetapi tetap saja tidak ada yang sanggup secara istiqomah datang lebih awal ke masjid. Saat Mbah Katijan tiba di masjid di setiap waktu shalat, masjid masih kosong. Jamaah baru berdatangan saat menjelang pelaksanaan shalat, termasuk imamnya.

Tidak ada tuntutan apa pun dari Mbah Katijan atas kegiatan sukarelanya itu. Mbah Katijan juga tidak pernah mengeluh meskipun harus mengayuh

sepeda ontel tuanya dari rumah ke masjid. Rumah Mbah Katijan berada agak ke ujung Pedukuhan, agak jauh dari masjid.

Mbah Katijah mengharap ridho dan upah dari Allah saja. Dan, Mbah Katijan dapat menikmati hidupnya dengan kepasrahan kepada Sang Pencipcipta.