Sandra Suryadana
Sandra Suryadana Dokter

Memimpikan Indonesia yang aman bagi perempuan dan anak-anak. More of me: https://sandrasuryadana.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Regional Pilihan

PitJek, Jawaban Anak Muda atas Kebutuhan di Daerah

14 Februari 2018   08:09 Diperbarui: 15 Februari 2018   09:38 1034 1 0
PitJek, Jawaban Anak Muda atas Kebutuhan di Daerah
sumber gambar: life.108jakarta.com

Kisruh persaingan penuh ketegangan antara moda transportasi online dengan konservatif masih mengisi ruang berita nasional. Padahal keributan ini hanya terjadi di kota-kota besar saja yang sudah familiar dengan transportasi online, khususnya ibu kota. Masih banyak daerah-daerah lain di Indonesia yang sebenarnya memiliki kebutuhan yang sama akan solusi transportasi yang lebih ramah konsumen tetapi tampaknya kebutuhan masyarakat di daerah belum menjadi prioritas bagi pemerintah maupun swasta. Oleh karenanya, saat ini marak kita temukan gerakan-gerakan swadaya dari generasi muda daerah untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Di Kota Sampit, sampai dengan pertengahan tahun 2017 lalu setelah kurang lebih satu tahun saya bekerja di sini, barulah pemerintah kota mulai mengadakan transportasi umum berupa bajaj. Sebelumnya, Sampit tidak memiliki transportasi umum sama sekali, hanya taksi berupa mobil Avanza dari bandara saja dan becak di sekitar pasar tetapi tidak ada angkot, bemo, ojek, bus, metromini apalagi kereta. Meskipun bajaj dari pemerintah kota ini berbau aroma politik tetapi paling tidak warga Sampit akhirnya memiliki solusi transportasi umum. Sekedar informasi, ongkos naik bajajnya mulai dari Rp 25.000,- tergantung jarak.

Akhir-akhir ini baru mulai marak ojek online di sini, ala-ala di Jakarta gitu. Salah satunya yang sudah beberapa kali saya gunakan adalah PitJek (Sampit Ojek). PitJek menangkap perhatian saya karena sering berpromosi via instagram, menampilkan gambar-gambar makanan yang dapat dipesan via PitJek, juga layanan-layanan lain yang bahkan lebih unik daripada ojek online di ibukota.

PitJek ternyata sudah didirikan sejak tahun 2015, oleh seorang wanita muda bernama Widya Tri Aulia. Ia tinggal di perumahan yang agak jauh dari tengah kota, hari itu ia sudah membeli makanan untuk kucing peliharaannya tetapi setelah sibuk beraktivitas seharian, setibanya di rumah dia baru menyadari bahwa makanan kucingnya ketinggalan, padahal sudah seharian kucingnya belum makan. Widya sudah terlalu lelah untuk kembali ke kota lagi mengambil makanan kucingnya tetapi juga tidak mungkin membiarkan kucingnya kelaparan "Seandainya ada yang bisa ngantar seperti Gojek di Jakarta."

Berawal dari pengalaman tersebut, Widya kemudian mulai mendirikan PitJek bersama dengan calon suaminya. Bisnis dijalani dengan sabar dan ulet, akhirnya saat ini PitJek sudah memiliki 17 orang rider dengan ratusan UMKM yang sudah dijangkau oleh pelayanan PitJek, tidak hanya depot atau restoran tetapi juga bisnis kecil bahkan gerobak jualan. Buka setiap hari mulai pukul 07.00 sampai 21.00 dengan biaya mulai dari Rp 10.000,- tergantung jarak.

Keunikan PitJek yang membuat dia unggul adalah variasi layanannya, Pitjek melayani ojek orang, makanan dan barang termasuk melayani permintaan belanja di pasar tradisional, antre tiket bioskop, bahkan sampai mengantar uang untuk transfer tunai ke bank atau mengirim uang arisan.

Tiga layanan terakhir menurut saya sangat unik dan bisa jadi tak terpikirkan oleh orang dari kota besar "Yaelah hare gene, pake e-banking lah, beli tiket lewat online, manual amat." Kondisi masyarakat di Sampit memang belum seperti di Jakarta, di sini sebagian besar transaksi masih berupa tunai, masyarakat masih banyak yang belum familiar dengan penggunaan ATM, internet banking, apalagi kartu kredit.

Masyarakat belum terbiasa menggunakan layanan jasa berbasis aplikasi. Oleh karenanya PitJek berpromosi hanya lewat Whatsapp, Instagram dan BBM (Yups, masih banyak warga Sampit yang nyaman menggunakan BBM). Setiap hari, admin akan broadcast menu-menu sarapan, makan siang atau camilan lewat Whatsapp, posting testimoni di Instagram atau gonta-ganti status di BBM.

Gerakan entrepreneurship anak muda di daerah seperti Widya Tri Aulia ini, saya nilai tidak kalah dengan start up buatan anak-anak muda di ibukota yang mendapat lebih banyak perhatian. Membangun bisnis online di daerah juga memiliki tantangan dan kesulitan tersendiri.

Banyaknya daerah pemekaran dan cepat pembangunan infrastruktur akhir-akhir ini telah menggerakkan banyak kota-kota kecil mulai menggeliat bangun dan berkembang mulai mengejar kota-kota besar. Tetapi seperti biasa, pemerintah daerah dan perusahaan swasta seringkali terlambat menjawab kebutuhan pasar yang semakin mendesak.

Semakin banyak gerakan anak muda kreatif seperti Widya Tri Aulia, sebuah kota kecil, dapat segera menjadi mandiri, mengejar ketertinggalan dari kota besar, berbekal konsep pemikiran "Dari kita, untuk kita", terus berinovasi menjawab kebutuhan-kebutuhan warga yang semakin bertumbuh.

 Ayo anak-anak muda daerah, jangan kalah dengan anak-anak ibukota! Kelamaan kalau nunggu disediain pemerintah atau perusahaan besar!