Mohon tunggu...
Sandra Suryadana
Sandra Suryadana Mohon Tunggu... 30 tahun lebih menjadi perempuan Indonesia

Memimpikan Indonesia yang aman bagi perempuan dan anak-anak. More of me: https://sandrasuryadana.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Penyalahgunaan Narkoba (3): Ketergantungan adalah Penyakit

15 Desember 2017   13:11 Diperbarui: 15 Desember 2017   15:00 1615 0 0 Mohon Tunggu...

Substance-related disorder (gangguan terkait penggunaan bahan tertentu) adalah penyakit resmi yang terdaftar dalam DSM 5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, 5th Edition). DSM adalah daftar diagnosa resmi yang digunakan oleh semua dokter spesialis jiwa di seluruh dunia. 

Ada serangkaian prosedur pemeriksaan yang harus dilakukan dan ada 11 kriteria yang menjadi pertimbangan sebelum dokter mendiagnosa seseorang sebagai seorang pecandu, antara lain: lebih memprioritaskan penggunaan obat daripada kewajibanya, tetapi menggunakan obat meskipun paham konsekuensi negatifnya, tidak kuasa menghentikan penggunaannya, peningkatan dosis dalam periode tertentu, dll. Prosedur medis rutin yang sama yang dilakukan oleh seorang dokter ketika mendiagnosa penyakit lain seperti diabetes atau stroke atau yang lainnya.

Mungkin selama ini sebagian besar dari kita menganggap bahwa pecandu narkoba adalah orang-orang yang salah memilih jalan hidup, bergaul dengan orang-orang yang salah. Tetapi banyak penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa kecanduan bukan semata-mata soal pilihan atau lingkungan pergaulan tetapi orang-orang tertentu memang lebih rentan untuk menjadi pecandu. Variasi gen pada orang-orang tertentu membuat seseorang lebih mudah kecanduan terhadap bahan tertentu. Contoh:

  • Alel A1 pada gen reseptor dopamine DRD2 lebih banyak ditemukan pada pecandu alkohol atau kokain
  • Tikus yang tidak memiliki gen reseptor cannabinoid Cnr1 kurang responsif terhadap morfin
  • Tikus yang tidak memiliki gen Creb jarang menjadi ketergantungan pada morfin
  • Tikus yang tidak memiliki gen reseptor serotonin Htr1b lebih tertarik pada kokain dan alkohol
  • Dan banyak penelitian lainnya.

Meskipun masih jarang penelitian dilakukan pada manusia tetapi pola yang ditemukan pada tikus membuat kita berpikir "Bisa jadi pada manusia juga sama" karena fungsi reward system pada otak tikus kurang lebih sama dengan manusia. Oleh karena itu tikus dipilih menjadi model percobaan.

Faktor keturunan juga sudah dibuktikan sangat mempengaruhi kecenderungan seseorang menjadi pecandu. Jika salah satu orang tua adalah pecandu, maka anaknya memiliki kecenderungan 8x lipat untuk menjadi pecandu juga. (Merikangas, 1998)

Selain itu, sudah ditemukan juga bahwa ketika seseorang menjadi pecandu, jaringan saraf di otaknya berubah, alur sinyal listriknya berbeda dengan orang normal. Perubahan alur sinyal saraf ini yang menjadikan seorang pecandu selalu lebih memilih untuk memakai narkoba lagi meskipun mereka sudah menyadari dampak buruknya, merasakan sakitnya badan, melihat keluarganya sedih dan susah, sengsaranya keluar masuk penjara, dikejar-kejar dan pukuli polisi, dll. 

Mekanisme apa yang merubah alur sinyal saraf pada otak pecandu ini masih diteliti lebih lanjut. Mekanisme ini juga yang bertanggung jawab menjadikan upaya seseorang lepas dari kecanduannya menjadi upaya seumur hidup. Sampai akhir hayatnya, seorang pecandu tidak akan pernah lepas dari trigger-trigger atau ingatan-kenangan tentang saat-saat dia sedang mengonsumsi narkoba dan itu mengundang mereka untuk ingin menggunakan lagi. 

Otak mereka sendiri meminta dan mengajak mereka untuk menggunakan lagi, bukan hanya teman-teman lamanya. Lebih dari itu, efek lain dari mekanisme ini adalah mereka kesulitan membuat pertimbangan logis tentang apa yang akan mereka lakukan untuk mendapatkan obat tersebut atau sebagai efek dari penggunaan obat tersebut sehingga tindakan kriminal seringkali  sulit dihindari. Mereka seperti sudah tidak takut akan bahaya ditangkap polisi, dipenjara dll. Pada saat inilah, kekuatan tekad dan dukungan solid dari lingkungan sangat dibutuhkan agar mereka tidak kembali jatuh lagi kepada narkoba.

Sudah terbukti, genetic tidak pernah jadi satu-satunya faktor yang menjadikan seseorang jatuh pada kecanduan tetapi lingkungan mempunyai faktor yang sangat penting. Dalam artian, tanpa lingkungan yang mendukung terjadinya kecanduan, seseorang dengan genetic rentan kecanduan juga tetap tidak akan menjadi pecandu. Tetapi bila berada dalam lingkungan yang negatif dengan kemudahan akses terhadap narkoba maka seseorang tanpa genetik rentan kecanduan pun akan menjadi pecandu atau seseorang dengan genetic rentan kecanduan akan lebih cepat menjadi pecandu dibanding orang tanpa genetic tersebut.   

Jadi, setelah mengetahui fakta ini, harus muncul pemikiran baru dalam pikiran kita, bahwa kita harus mulai memandang kecanduan sebagai suatu penyakit, bukan tindakan kriminal. Kita mengatasinya sebagai penyakit juga, bukan sebagai tindak pidana. Pecandu seharusnya mendapatkan bantuan medis, bukan dipenjarakan. Mereka membutuhkan pengobatan di samping bimbingan psikologis bukan dihakimi, dimarahi, diisolasi apalagi dihukum. Mereka orang sakit, sama seperti orang dengan penyakit lainnya. Oleh karenanya lebih tepat mereka direhabilitasi di mana terhadap support secara medis dan psikis, bukan dimasukkan ke dalam penjara di mana di dalamnya masih beredar narkoba.

Kita juga harus mulai memahami bahwa jatuhnya seseorang pada kecanduan bukan semata-mata persoalan pilihan dan sulitnya seseorang lepas dari kecanduan bukan hanya membutuhkan tekad yang kuat. Dibutuhkan dukungan dari lingkungan, pengobatan yang tepat, pekerjaan yang menaikkan martabat mereka, bimbingan iman penuh kesabaran, dan terutama masyarakat yang bebas stigma negatif. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x