Mohon tunggu...
Samuel Steffness Mampouw
Samuel Steffness Mampouw Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Pengaruh COVID-19 terhadap SDGs dan Kasus Stunting di Indonesia

16 Desember 2020   23:29 Diperbarui: 17 Desember 2020   10:08 285
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu rencana aksi global jangka panjang yang telah disepakati secara global. SDGs memiliki tujuh belas target dengan tenggat waktu tahun 2030 untuk mencapai target-target tersebut. Target-target tersebut memiliki hubungan antara satu dengan yang lainnya. Dalam masa pandemi ini, tentu saja ada banyak permasalahan yang terjadi dan menjadi penghambat bagi keberlangsungan perwujudan dari target-target yang ingin dicapai dalam SDGs. COVID-19 secara langsung menyerang tujuan yang ketiga, yaitu kesehatan yang baik dan sejahtera. Pada kesempatan ini, saya bukan ingin membahas tentang COVID-19, melainkan stunting pada anak di Indonesia.

Stunting merupakan masalah yang marak terjadi di Indonesia. Stunting merupakan sebuah kondisi di mana terjadi kegagalan dalam proses tumbuh kembang anak. Kegagalan proses pertumbuhan ini dapat diartikan sebagai kegagalan dalam pertumbuhan badan dan otak. Stunting terjadi jika anak tidak mendapatkan gizi yang cukup dalam waktu yang lama di dalam masa-masa pertumbuhan dan perkembangannya. Sebenarnya, masalah ini telah lama terjadi di Indonesia. Bahkan, Indonesia menjadi negara kelima tertinggi di dunia dengan kasus stunting pada anak usia di bawah lima tahun. Walaupun mungkin kurang disorot, sebenarnya bisa jadi pandemi ini menyebabkan meningkatnya kasus stunting yang terjadi kepada anak-anak di Indonesia secara tidak langsung.

COVID-19 secara langsung menghambat tujuan ketiga dari SDGs. Seluruh dunia terkena wabah penyakit ini dan menghadapi masalah kesehatan. Beberapa negara menerapkan kebijakan lockdown yang membuat kegiatan perekonomian terhambat. Namun, ada beberapa negara yang berhasil mengatasi persebaran penyakit ini dengan menerapkan kebijakan lockdown dan melanjutkan kegiatan ekonomi. Berbicara dengan kebijakan di masa pandemi, Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak menerapkan kebijakan lockdown. Pemerintah Indonesia hanya mengeluarkan peraturan untuk melakukan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB. Presiden juga melarang dilakukannya lockdown yang dilakukan oleh pemerintah daerah tanpa koordinasi dari pemerintah pusat. Dari hasil analisa saya, pilihan ini diambil oleh Presiden Joko Widodo bisa jadi karena perekonomian Indonesia masih belum mampu untuk melakukan lockdown dan membiayai kebutuhan warga negaranya selama lockdown berlangsung. Dalam penerapan pembatasan sosial berskala besar, pemerintah mengimbau masyarakat untuk work from home. Namun yang menjadi masalah adalah tidak semua pekerjaan dapat dilakukan dari rumah. Penutupan tempat-tempat untuk sarana hiburan dan tempat-tempat lainnya membuat pemasukan menurun. Akibatnya, banyak terjadi pemutusan hubungan kerja karena perusahaan atau tempat kerja tersebut tidak mampu menggaji karyawannya.

Indonesia kini telah menjalankan new normal. Namun, akibat diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar yang membuat jumlah pengangguran di Indonesia meningkat, masih banyak korban pemutusan hubungan kerja tersebut yang belum mendapatkan pekerjaan hingga saat ini. Hal ini tentu saja juga menghambat tujuan SDGs yang kedelapan, yaitu pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi. Ketika ada banyak pengangguran di Indonesia sedangkan kebutuhan hidup harus terus terpenuhi, maka angka kemiskinan di Indonesia akan meningkat. Angka kemiskinan yang meningkat juga bertentangan dengan tujuan SDGs yang pertama, yaitu menghapus kemiskinan. Menurut Badan Pusat Statistik, salah satu kriteria seseorang dapat dikatakan miskin adalah ketika pendapatan atau penghasilan dari kepala rumah tangga di bawah Rp 600.000,00 per bulan.

Ada banyak masalah yang dapat ditimbulkan dari adanya masalah kemiskinan. Salah satunya adalah kelaparan. Ketika seseorang atau sebuah keluarga tidak memiliki penghasilan yang cukup atau bahkan mungkin tidak memiliki penghasilan sama sekali untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, maka masalah kelaparan dapat terjadi karena tidak terpenuhinya kebutuhan pangan yang cukup. Hal ini juga menghambat tujuan pada poin kedua dalam SDGs, yaitu mengakhiri kelaparan. Jika untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari saja tidak cukup, tentu akan sulit juga untuk memenuhi kebutuhan gizi yang sangat penting, terutama bagi anak-anak. Selain itu, kebutuhan gizi ini juga sangat penting bagi ibu yang sedang hamil dan menyusui. Tumbuh kembang yang sangat penting bagi anak-anak dimulai sejak masih menjadi janin. Ketika janin tidak mendapat gizi yang cukup, pertumbuhan dan perkembangan dari janin dapat bermasalah dan terhambat. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan kesehatan serta kegagalan dalam pertumbuhan tubuh dan otak yang sebelumnya kita sebut sebagai stunting. Ketika bayi tersebut lahir, bayi tersebut bergantung kepada ASI untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Maka dari itu, seorang ibu yang menyusui harus memakan makanan yang bergizi. Apabila ibu yang menyusui tidak terpenuhi kebutuhan gizinya, ASI yang dihasilkan tidak akan bagus kualitasnya. Selain itu, ketika kebutuhan gizi ibu tidak terpenuhi, produksi ASI akan menurun sehingga bayi tidak dapat mengonsumsi ASI lagi. Ketika ASI tidak dapat lagi dihasilkan, bukannya tidak mungkin keluarga tersebut tidak mampu membeli susu formula sebagai pengganti ASI untuk anaknya. Akibatnya, nutrisi dan gizi yang diperlukan oleh anak tidak terpenuhi dan dapat mengakibatkan terjadinya stunting

Selain masalah kelaparan, masalah kemiskinan juga dapat berdampak bagi pemenuhan kebutuhan akan air bersih. Masalah ini juga bertentangan juga dengan tujuan SDGs yang keenam, yaitu akses air bersih dan sanitasi. Air bersih sangat penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari untuk kebutuhan konsumsi, mandi, mencuci, dan masih banyak kebutuhan yang lainnya. Banyak orang yang tidak mengetahui bahwa air yang tidak bersih dapat menyebabkan terjadinya stunting. Bahkan, Kementerian Kesehatan melakukan riset dan menemukan bahwa kasus stunting yang disebabkan oleh air dan sanitasi yang tidak bersih lebih besar daripada stunting yang disebabkan oleh gizi buruk. Kasus stunting akibat buruknya kualitas air dan sanitasi lebih besar daripada jumlah kasus stunting akibat gizi buruk. Air yang tidak bersih mengandung banyak bakteri dan mikroorganisme lain yang tidak baik bagi tubuh. Jika air ini dikonsumsi, bakteri dan mikroorganisme tersebut bisa masuk ke dalam tubuh dan mengakibatkan terjadinya masalah pencernaan. Contohnya jika anak terkena diare, makanan yang dikonsumsi mungkin saja belum sempat terserap nutrisinya dan terbuang begitu saja. Selain itu, air juga berperan dalam melarutkan nutrisi dan zat gizi dari makanan. Maka dari itu, air membantu proses pencernaan makanan dan metabolisme tubuh. Jika air yang dikonsumsi kotor, maka penyerapan nutrisi ini tidak dapat berjalan dengan baik. Di dalam air yang kotor juga besar kemungkinan air tersebut mengandung cacing. Jika air kotor dikonsumsi oleh anak-anak, anak tersebut dapat menderita cacingan dan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh anak akan diambil oleh cacing. Hal ini dapat menyebabkan anak tersebut mengalami malnutrisi. Malnutrisi inilah yang dapat menyebabkan anak terhambat pertumbuhannya sehingga terjadi stunting.

Selain masalah-masalah di atas, permasalahan ekonomi juga dapat menghambat tujuan SDGs yang lain. Tujuan yang dimaksud adalah tujuan yang keempat, yaitu pendidikan bermutu. Ketika seseorang hidup serba kekurangan, mereka akan mementingkan kebutuhan pangan terlebih dahulu. Jika untuk makan sehari-hari saja sudah terasa sulit untuk dipenuhi, tentu saja mereka tidak ada waktu untuk memikirkan masalah pendidikan. Menurut analisa saya, jika sebuah keluarga yang hidup kekurangan memiliki anak laki-laki dan perempuan, maka biasanya hanya anak laki-laki yang disekolahkan. Mereka akan berpikir bahwa laki-laki nantinya akan menjadi kepala keluarga dan memiliki kewajiban mencari nafkah, sedangkan perempuan hanya akan melakukan pekerjaan di rumah. Bahkan ada perempuan yang menikah sejak dini untuk mengurangi beban keluarganya. Kasus seperti ini juga bertentangan dengan salah satu tujuan SDGs, yaitu kesetaraan gender. Jika seorang perempuan yang tidak memiliki pengetahuan tentang kesehatan menikah dini dan langsung mempunyai anak, ada kemungkinan anak tersebut mengalami stunting. Saat seorang ibu tidak teredukasi dengan baik tentang masalah gizi dan hubungannya dengan tumbuh kembang anak, bisa jadi anak tersebut tidak mendapatkan gizi yang dibutuhkan sejak di dalam kandungan maupun saat sudah terlahir. Akibatnya, proses pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak anak menjadi terganggu.

Jika dipahami lebih lanjut, sebenarnya inti penyelesaian dari masalah stunting adalah makan dengan gizi seimbang. Penyelesaian tersebut memang terdengar cukup simpel, tetapi sering kali solusi ini tidak bisa dipenuhi karena terhambat oleh beberapa masalah yang telah disampaikan sebelumnya. Namun, masalah tersebut tentu saja dapat diselesaikan jika pemerintah ikut turun tangan. Masalah COVID-19 mungkin sudah terlalu sulit untuk dikontrol oleh pemerintah. Maka dari itu, masyarakat yang memiliki anak berusia di bawah lima tahun dan bermasalah dalam bidang ekonomi seharusnya mendapatkan subsidi atau bantuan dana untuk memenuhi kebutuhan makanan yang bergizi dari pemerintah. Ketika kebanyakan anak dari sebuah generasi mengalami stunting, tiga puluh hingga empat puluh tahun kemudian, anak-anak inilah yang akan memegang keberlangsungan sebuah negara. Jika masyarakat yang berusia produktif di sebuah negara tidak memenuhi kapasitas dan kurang berkualitas, maka keberlangsungan hidup negara tersebut tidak akan berjalan baik. Ketika sebuah negara bermasalah di berbagai bidang, khususnya bidang ekonomi, maka akan banyak anak yang lahir dengan kondisi mengalami stunting karena tidak bisa menjangkau makanan yang bergizi seimbang akibat krisis ekonomi.

Memberikan bantuan untuk mendapatkan makanan bergizi bagi anak-anak yang kekurangan di Indonesia mungkin terlalu sulit jika melihat kondisi perekonomian di masa pandemi ini. Menurut saya, dengan kondisi perekonomian saat ini, pemerintah tidak bisa memberikan bantuan kepada anak sebanyak itu. Maka dari itu, mungkin hal-hal yang dapat pemerintah lakukan adalah menggencarkan penyuluhan tentang keluarga berencana, terutama untuk masyarakat yang hidup kekurangan. Masalah ini sulit diatasi karena angka kelahiran di Indonesia sangat tinggi. Oleh karena itu, jika angka kelahiran di Indonesia ditekan, maka akan lebih mudah bagi pemerintah untuk memberikan bantuan berupa pangan yang bergizi dan layak untuk membantu pertumbuhan anak-anak agar tidak mengalami stunting.

Selain program keluarga berencana, edukasi tentang pentingnya pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu yang menyusui, dan anak-anak harus dilakukan secara gencar. Menurut saya, program ini dapat mencapai beberapa tujuan. Tujuan pertama tentu saja agar orang tua dari semua kalangan mengetahui hal-hal yang dibutuhkan oleh seorang anak selama masa pertumbuhan supaya anak mendapatkan gizi yang seimbang. Tujuan kedua, dengan adanya program ini, diharapkan orang-orang yang berencana menikah atau pasangan suami istri yang sudah menikah dan sekiranya masih mengalami masalah ekonomi dapat berpikir dua kali untuk memiliki atau menambah jumlah anak. Hal yang dimaksud di sini adalah ketika sepasang suami istri ingin memiliki anak, mereka diharapkan bisa memikirkan apakah mereka mampu untuk memenuhi kebutuhan anaknya jika sudah terlahir agar dapat tumbuh dengan baik. Jika mereka memiliki kesadaran bahwa mereka belum bisa memenuhi kebutuhan itu, diharapkan mereka mengikuti program keluarga berencana dan bisa memiliki anak ketika kebutuhan ekonomi sudah tercukupi.

Jika masyarakat yang kurang mampu sudah memiliki kesadaran diri dan melakukan program beserta langkah-langkah tersebut, maka dapat dipastikan jumlah anak yang mengalami stunting akan terus menurun. Ketika jumlah stunting sudah tidak terlalu besar, maka mungkin saja pemerintah mampu untuk menanggung dan memberi bantuan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tersisa agar bisa terhindar dari stunting. Selain itu, pemerintah harus menjamin seluruh masyarakat dapat menjangkau air bersih. Hal ini mungkin tidak terlalu sulit karena pemerintah dapat memasang pipa-pipa untuk menjangkau daerah yang belum bisa mendapatkan air bersih. Apabila ada masyarakat yang tidak bisa mendapatkan air bersih karena masalah ekonomi, pemerintah dapat memberikan subsidi berupa pemotongan harga air atau mungkin jika bisa membebaskan masyarakat dari tagihan air dengan catatan air tersebut digunakan secukupnya untuk kebutuhan hidup.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun