Mohon tunggu...
Samuella Christy
Samuella Christy Mohon Tunggu... Jurnalis - A 18-year-old sleepyhead and an avid noodle lover. I rant, therefore I am.

contact: samuellachristy@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Apa Sih Hebatnya Menulis?

28 Maret 2019   19:55 Diperbarui: 28 Maret 2019   20:00 61 6 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

"Nak, cobalah cari pekerjaan yang cepat menghasilkan upah."

Hayo, siapa yang tersinggung dengan kata-kata di atas?

Saya sebagai penulis, tentunya cukup kecewa dengan konten ucapan orang tua yang seperti itu. Hakikat orang tua harusnya sebagai pendukung nomor satu anak, tidak merendahkan bakat si kecil. Anak pasti akan merasa jengkel, lalu semangat untuk menulis berangsur-angsur akan lenyap. Berakhir buruk sekali.

Memang, selama ini saya menulis hanya di laman akun sosial media saja. Belum menghasilkan terlalu banyak upah, namun untuk beli satu baju sudah lumayan cukup. Tentu saja, saya belum mencapai tingkat Pramoedya Ananta Toer atau Sapardi Djoko Damono dalam perihal menulis.

Untuk pendahuluan, saya ingin membahas mengenai apa yang penulis rasakan saat menulis. Bila saya buat kuesioner atau survei terhadap penulis dari berbagai kalangan, artikel ini tampaknya tidak akan cukup menyebutkan jawaban-jawaban yang diberikan para penulis di luar sana.

Saat menyalurkan isi benak pikiran dengan merangkai kata demi kata, saya pribadi lebih mengutamakan kebebasan. Tak ada yang dapat mengekang saya saat menyusun bahasa. Hanya dengan seuntai kalimat, saya sudah dapat mencerminkan baik curahan saya.

Kalau menilik manfaatnya, opini saya tentang itu banyak sekali. Mengembangkan sayap ide, belajar Bahasa Indonesia, bahkan menambah teman dan pengalaman. Menarik, bukan? Tetapi, orang tua pasti belum terenyuh hanya karena menulis adalah kegiatan menarik. Lantas, letak upah instannya dimana?

Sama seperti membangun usaha bisnis seorang wirausahawan, menulis juga membutuhkan modal. Harus ada akal, pengalaman, teman, pendukung, inspirasi dan ide, penunjang tempat, apalagi coba? Mudah sekali menemukan modal-modal tersebut apabila anda berani terjun menulis dengan resiko dikritik, jika kalian beruntung, nama kalian akan dilambungkan.

Beralih dari kutipan itu, saya akan membahas beberapa persoalan yang kerap menjadi pergumulan para penulis dalam jangka waktu lama. Misalnya, kurangnya budaya literasi anak masa muda kini di Indonesia. Dampaknya tentu sangat berat bagi para penulis, yakni berkurangnya pelanggan setia mereka dalam setiap karyanya.

Pada tahun 2012, Indonesia menempati posisi ke-64 dari 65 negara dengan budaya literasi terendah. Dengan statistika angka melek huruf yang hanya mencapai 65,6% pada orang dewasa. Itu sama sekali bukan prestasi yang patut dibanggakan, melainkan masalah sosial yang harus segera dibenahi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan