Mohon tunggu...
Syam Pituduh
Syam Pituduh Mohon Tunggu... Syamsulhadi

Sublimasi hidup

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan

Flash Back: Menumbuhkan Sikap Inklusif bersama Jama'ah Tabligh

12 April 2021   10:54 Diperbarui: 12 April 2021   11:53 299 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Flash Back: Menumbuhkan Sikap Inklusif bersama Jama'ah Tabligh
Gambar: aa.com.tr

Seperti tahun-tahun lalu, waktu terasa cepat sekali mendekati bulan puasa. Normalnya hiruk pikuk manusia berduyun-duyun mempersiapkan segala hal, seperti kebutuhan pokok, mulai dari makanan, minuman maupun pakaian untuk lebaran kedepan. Tidak hanya itu, suasana khas bulan puasa sangatlah kental dari hari-hari biasanya, ditandai dengan riyuhnya pedagang takjil di pinggir jalan pada sore hari, sembari menanti nikmatnya berbuka. Serta lantunan merdu ayat-ayat aL-Qur'an menambah rampaian suasana damai di bulan Ramadhan.

Hal yang saya ingat, ketika menjelang Ramadhan di desa saya selalu didatangi segrombolan pria bersorban, membawa tas, koper dan alat-alat masak untuk kebutuhan sehari-harinya. Ketika di persimpangan jalan mereka tidak segan-segan untuk menyapa dan menebarkan salam dengan senyumannya. Masyarakat biasa menyebutnya dengan istilah Khuruj atau istilah familiyarnya adalah Jama'ah Tabligh yaitu orang yang keluar dari kediaman mereka masing-masing dengan misi sucinya yaitu Tabligh Fi Sabilillah.

Meskipun demikian tak banyak masyarakat yang setuju denganya, lagi-lagi dikarenakan perbedaan pandangan. Masyarakat yang tidak setuju dengan kharokahnya, mempunyai alasan yang beragam. Ada yang mengatakan, mereka tidak sesuai madzhab Ahlissunah wal jamaah, intoleran dan sebagainya. Dengan stigma-stigma tersebut tak jarang masyarakat memandang mereka dengan sebelah mata bahkan sampai ada yang menolaknya.

Namun, saya beranggapan lain. Ketika banyak masyarakat yang tidak setuju dengan aktivitasnya, saya justru menghormati mereka dengan penuh kerendahan hati. Ketika mereka mengetuk pintu dari rumah ke rumah pada sore hari saya selalu menyambutnya dengan baik. Hal yang mereka sampaikan, tak lain hanya untuk mengajak masyarakat mengikuti sholat berjamaah serta menyampaikan pesan-pesan betapa pentingnya untuk selalu bertaqwa kepada Allah Swt.

Bahkan ketika saya selesai sholat berjamaah di masjid, saya selalu meneyempatkan diri untuk bercengkrama dengan mereka. Dengan penuh kehangatan kami berbincang-bincang, berdiskusi dan bertukar pikiran serta ditemani hangatnya kopi dan ubi rebus yang telah disajikan. Sebenarnya saya pribadi bertolak belakang dengan pemikiran mereka. Saya yang cenderung mempunyai pemikiran yang liberal dengan sok berfilsafatnya yang mengagung-ngagungkan tokoh Islam kontemporer seperti Amina Wadud, Muhamad Sahror, Farid Esack hingga tokoh-tokoh kiri seperti Karl Mark, Fredich Angel, Satree hingga tokoh feminis Klara Zetkin.

Sedangkan kiblat pemikiran mereka berporos pada tokoh mereka yaitu Muhammad Ilyas aL-Kandhlawi Dihlawi, Ulama' penggagas Jama'ah Tabligh asal India. Mulai dari bercengkrama tersebut saya mulai mengerti siapa sejatinya mereka. Jama'ah Tabligh adalah gerakan dakwah non politik yang bergerak di wilayah ahlaq tasawuf dan sunnah nabi, madzhabnya juga sama dengan mayoritas umat Islam di Indonesia yaitu Madzhab Syafi'i. Perbedaanya hanya terletak pada kharokahnya saja, yang memilih jalan dengan Khuruj, untuk menebarkan ajaran Islam.

 Mulai dari situlah saya berfikir tidak sepatutnya orang-orang yang tidak sepemahaman dengan mereka, memberikan stigma yang buruk dan memusuhinya. Orang Islam yang merasa dirinya paling benar seharusnya memiliki sifat terbuka terhadap kelompok lain yang tidak sepemahaman dengannya.

Tetapi puasa tahun ini saya tidak lagi melihat pria-pria bersorban itu memasuki desa saya. Entah karena pandemi Covid-19 atau karena hal lain. Sembari jari saya menulis esai ini saya teringat kata-kata Nur Cholis Majid  " Keterbukaan adalah kerendahan hati untuk tidak merasa selalu benar serta kesediaan mendengar pendapat orang lain dan mengambil mana yang baik."

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x