Mohon tunggu...
Salsabila Safri
Salsabila Safri Mohon Tunggu... (road to be) Journalist

Sangat mengapresiasikan segala jenis saran dan masukan. Berusaha menjadi lebih baik dengan belajar menulis dengan baik

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Orientalisme: Al-Quran Bukanlah Wahyu

31 Oktober 2019   05:28 Diperbarui: 31 Oktober 2019   05:52 373 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Orientalisme: Al-Quran Bukanlah Wahyu
sumber: daqu.sch.id

Secara etimologis, orientalisme berasal dari kata orin (terbit) yaitu dimabil dari bahasa latin,  dan isme (kepercayaan) diambil dari bahasa Belanda, maknanya ilmu kepercayaan dari timur.  (Kamaruddin, 2011). Orientalisme dapat diartikan sebagai ilmu tentang ketimuran, atau studi tentang dunia timur dan Islam (meliputi Turki, Asia Tenggara, negara-negara Islam di bagian Timur Tengah, hingga Afrika Utara). Karena muncul di negara Barat, maka orientalisme sebagai studi disikapi dengan cara pandang Barat pula.

Orientalisme merupakan studi yang mengkaji bidang yang berkaitan dengan Timur. Studi ini bukanlah sebuah istilah baru. Sejarah mencatat Orientalis, atau aktor yang mengkaji studi ini lebih dahulu muncul  daripada Orientalisme. A.J. Arberry menyebutkan istilah orientalis mucul pada 1638, digunakan oleh seorang anggota gereja Yunani. Artinya yaitu orang yang mendalami berbagai sastra dan dunia timur.  Studi ini perlu diperhatikan oleh muslim, karena studi ini telah menghasilkan banyak kesimpulan yang kontradiktif. Daintaranya pernyataan mereka mengenai kritik terhadap Al-Qur'an.

Menurut Orientalis, Al-Qura'an bukanlah wahyu, dan mereka terus mengkaji Al-Qur'an dengan tujuan membuktikan keyakinan tersebut. Terdapat beberapa orientalis ternama yang mengungkapkan gagasannya mengenai Al-Quran. Washington Irving menyatakan bahwa Al-Qur'an saat ini tidak sama dengan Al-Qur'an yang disampaikan Rosulullah, karena telah mengalami penyelewengan dan sisipan-sisipan. Reinhart Dozy, orientalis dari Belanda  menyatakan bahwa isi Al Qur'an tidak memperhatikan kronologis atau urutan yang jelas. Secara umum para orientalis mendefinisikan Al Quran sebagai pedoman yang sudah tidak sama dengan apa yang diturunkan kepada Rosulullah.

Selanjutnya mengenai Teori Pinjaman. Orientalis  menggunakan kitab Bibel sebagai pedoman dan cara pandang mereka. Mereka mencari-cari kesamaan-kesaman antara Al-Qur'an dan Bibel. Beberapa menemukan bukti bahwa Al-Quran yang kandungannya mirip dengan Bible, berarti Al-Quran telah meminjam isi dari Bibel (Teori Pinjaman). Dr. Hamid Fahmy Zarkasy, M.Ed., M.Phil tulisan Abraham Geirge yang berjudul "Apa yang Telah Muhammad Pinjam dari Yahudi". Dalam esai seorang intelek Yahudi tersebut, ia menyatakan sejumlah indikasi bahwa Al-Quran seperti menjiplak Taurat dan Injil. Hal ini dilihat dari penggunaan kosa kata dari bahasa Ibrani, yaitu: Tabut, Taurat, Jahannam, dan Taghut, dll.

Pendapat kontradiktif berikutnya datang dari Richard Bell. Ia menganggap Al-Qur'an berasal dari tradisi dan kitab suci Kristen. Selain itu Bell juga berpendapat bahwa wahyu yang dialami Muhammad merupakan peristiwa natural, bukan peristiwa supranatural. Karena berdasarkan pengalaman orang-orang Kristen, pengetahuan tentang agama Kristen diaktualkan sebagi wahyu melalui keadaan tak sadar dalam suasana mistik. Bell mengartikan wahyu dengan sugesti yang muncul sebagai kilasan inspirasi yang terjadi secara alami. Mereka tidak mempercayai hal-hal yang bersifat supranatural, karena  tidak dapat dikaji secara saintifik.

Orientalisme merupakan studi yang menghasilkan kesimpulan kajian yang tidak sesuai dengan kepercayaan dalam Islam. Bahkan beberapa diantaranya termasuk bentuk penghinaan Al-Qur'an, Rosulullah, serta menyepelekan Allah SWT. Karena mereka memposisikan Al-Qur'an bukan sebagai wahyu dari Allah SWT, dan melakukan kritik seakan Al-Qur'an adalah rekayasa manusia. Maka muslim harus berhati-hati, jangan sampai terlena dan mengikuti paham Orientalisme yang dibawa kelompok Liberal dan Sekuler dari Barat.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x